Sebanyak 533 mahasiswa baru Universitas Muslim Indonesia (UMI) mulai mengikuti Pesantren Kilat. Tradisi UMI ini diharapkan sebagai langkah awal pembentukan karakter mahasiswa.
Pesantren Kilat angkatan pertama Tahun Akademik 2026/2027 dibuka melalui Rapat Senat Terbuka Luar Biasa di Pesantren Darul Mukhlisisin UMI, Padanglampe, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel). Pesantren Kilat akan digelar hingga 21 September 2026.
"Pada pagi hari ini telah dilaksanakan dari 3 fakultas yang mengikuti pekan pesantren yang insyaallah akan dilaksanakan mulai hari ini hari Senin dan insyaallah akan berakhir pada hari rabu 21 nanti," ujar Ketua Panitia Pesantren Kilat sekaligus Wakil Rektor III UMI Kamal Hijaz saat sambutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiga fakultas yang mengikuti pekan pesantren antara lain Fakultas Farmasi dengan total 265 mahasiswa baru. Untuk Program Studi Farmasi yang terdiri atas 22 laki-laki dan 243 wanita.
Fakultas kedokteran gigi total ada 172 mahasiswa baru, dengan rincian 37 laki-laki 135 wanita. Kemudian Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan totalnya adalah 96 mahasiswa baru dengan rincian 44 laki-laki dan 52 wanita.
"Total peserta hari ini sekitar 500 mahasiswa, jadi setiap angkatan itu sekitar 500, angkatan pertama ini hari ini Senin sampai Rabu. Kemudian masuk lagi angkatan kedua," ucapnya.
Ia mengatakan Pesantren Kilat kali ini ada 7 gelombang atau angkatan. Total secara keseluruhan hingga 21 September nanti kurang lebih 3.600 mahasiswa.
"Dan ada 7 gelombang yang akan kita laksanakan pada pekan pesantren di tahun 2026. Totalnya secara keseluruhan ada 3.600-an untuk sementara karena kita sekarang masih update lagi untuk mahasiswa baru," jelasnya.
Wakil Rektor IV Muhammad Ishaq Samad mewakili Rektor UMI menyampaikan Pesantren Kilat sebagai jalan spiritual dan intelektual mahasiswa baru. Langkah ini sebagai pembentukan karakter mahasiswa.
"Hari ini adalah sebuah langkah awal dari perjalanan intelektual dan spiritual dalam pembentukan karakter seorang mahasiswa Universitas Muslim Indonesia," katanya.
Ia menilai kuliah di UMI bukan semata ingin meraih gelar sarjana. Menurutnya, kampus UMI ingin memastikan mahasiswanya betul-betul menjadi pribadi yang berilmu dan berakhlak.
"Ananda masuk ke UMI bukan hanya memperoleh gelar akademik semata, tetapi insyaallah dapat menjadi manusia yang berilmu, beriman dan berakhlak yang kompeten, memiliki kepemimpinan dan mau memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa dan peradaban," ucapnya.
Salah satu jalannya melalui Pesantren Kilat yang kini telah menjadi tradisi UMI. Mahasiswa harus dibekali dengan ciri khas yang terarah dan punya tanggung jawab.
"Karena itu pesantren ini memiliki posisi yang sangat penting, bukan sekadar penyambutan mahasiswa baru semata tetapi sebagai pintu masuk membentuk karakter mahasiswa UMI. Karena itu mahasiswa harus memiliki identitas dan tanggung jawab yang sangat jelas," katanya.
Dirinya menuturkan UMI memiliki ciri khas sebagai kampus Islam. Semangat itu diupayakan dengan mengintegrasi keunggulan akademik dengan nilai-nilai keislaman.
"UMI adalah perguruan tinggi Islam yang ingin mengintegerasikan keunggulan dan akademik dengan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan
Kita tidak ingin menghasilkan sarjana yang hanya pintar, tetapi sarjana yang pintar sekaligus benar," tuturnya.
Menurutnya, langkah tersebut sehingga menjadi landasan penting dalam mempersiapkan UMI menuju World Class University. Kini, UMI membangun upaya tersebut dengan memastikan kampus bermanfaat hingga tingkat global.
"World Class University bukan hanya persoalan teknik, bukan hanya persoalan publikasi, bukan hanya persoalan jumlah profesor dan akreditasi. Tetapi World Class University menampilkan, dia mampu menghasilkan manusia yang dipercaya dalam memberikan manfaat pada tingkat global," bebernya.
Dia berharap Pesantren Kilat ini dapat membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang lebih baik ke depan. Terutama semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt.
"Setelah mengikuti pesantren ini kita berharap Ananda menjadi pribadi yang berbeda, Ananda semakin disiplin, semakin bertanggung jawab dan insyaallah ananda lebih dekat dengan Allah Swt," tegasnya.
UMI memulai pesantren kilat untuk 3.600 mahasiswa barunya tahun ini. Fadli Ilham/detiksulsel |
12 Mahasiswa Asing akan Ikut Pesantren Kilat
Wakil Rektor IV Muhammad Ishaq Samad mengatakan tahun akademik 2026-2027, ada sekitar 12 mahasiswa asing alias dari negara luar kuliah di UMI. Ia menyebut mereka punya hak yang sama dengan mahasiswa Indonesia.
"Iya karena ini memang menjadi bagian dari upaya penyambutan maba Kemudian nanti ada pencerahan qalbu itu sudah masuk dalam kurikulum dan diberi bobot 6 SKS," katanya.
"Jadi semua mahasiswa UMI itu akan mengikuti, tidak bisa sarjana kalau tidak ikut termasuk mahasiswa asing," lanjutnya.
Bahkan, kata dia, ada salah satu mahasiswa asal Palestina yang kuliah di UMI ikut Pesantren Kilat hingga satu bulan. Hal yang sama juga akan diterapkan kepada mahasiswa kali ini.
"Jadi yang lalu itu ada angkatan mahasiswa kedokteran dari Palestina perempuan, dia ikut dan mendok selama satu bulan. Begitu juga dengan mahasiswa asing yang lain yang ada di sejumlah fakultas," ujarnya.
Dirinya menyebut tahun akademik 2026-2027, UMI ada peningkatan mahasiswa asing. Saat ini yang nantinya ikut Pesantren Kilat sebanyak 12 mahasiswa dengan negara berbeda.
"Untuk tahun ini ada peningkatan ada 12 orang terutama itu dari Sudan ini sangat banyak dari mereka, termasuk dari Timur Leste, ada dari Nigeria," jelasnya.
Sedangkan untuk ikut pada angkatan pertama hari ini, ia mengatakan hanya satu orang. Kemudian sisanya akan dijadwalkan dari pihak kampus.
"Yang tadi ini hadir mahasiswa asing dari 1 orang dari Sudan," pungkasnya.

