7 Khutbah Jumat Rabiul Awal 1448 H Terbaru yang Menyentuh Hati

7 Khutbah Jumat Rabiul Awal 1448 H Terbaru yang Menyentuh Hati

Andi Sitti Nurfaisah - detikSulsel
Kamis, 03 Sep 2026 22:00 WIB
Khutbah Jumat Bahasa Jawa Terbaru 2026 yang Singkat dan Padat
Foto: Ilustrasi. (Raka Dwi Wicaksana/Unsplash)
Makassar -

Bulan Rabiul Awal 1448 H menjadi momentum untuk kembali mengingat keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai pesan tentang akhlak, keimanan, dan upaya menjadi pribadi yang lebih baik dapat disampaikan melalui khutbah Jumat pada bulan yang mulia ini.

Selain itu, khutbah Jumat Rabiul Awal juga dapat mengangkat berbagai nasihat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di antaranya memohon perlindungan dan pertolongan Allah SWT, ajakan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik, hingga renungan tentang bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia belakangan ini.

Sebagai referensi, berikut kumpulan khutbah Jumat Rabiul Awal 1448 H terbaru yang dapat dijadikan referensi bagi detikers yang bertugas sebagai khatib. Simak selengkapnya!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat #1

Berubahlah

Khutbah I

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benar ketakwaan. Ikutilah perintah-Nya, jauhilah larangan-Nya, berpeganglah kepada Kitab-Nya, dan jangan sampai kita tercerai-berai dari agama yang telah Allah turunkan.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Kita hidup di tengah dunia yang terus berubah. Wajah kota berubah, teknologi berubah, cara manusia bekerja berubah, cara orang berkomunikasi pun berubah. Anak-anak kita tumbuh dalam suasana yang sangat berbeda dengan masa kecil kita. Sesuatu yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari, hari ini selesai dalam beberapa detik. Informasi datang hampir tanpa jeda. Keinginan manusia juga berubah begitu cepat. Rumah diperbarui, kendaraan diganti, perangkat di tangan terus diperbarui, bahkan penampilan pun kita usahakan agar selalu mengikuti zaman.

Namun ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting: di tengah begitu banyak perubahan di luar diri kita, sudahkah ada perubahan yang berarti di dalam diri kita?.

Jangan-jangan umur bertambah, tetapi kedekatan kepada Allah tidak bertambah. Pengalaman hidup semakin panjang, tetapi kesabaran tidak semakin luas. Penghasilan bertambah, tetapi syukur tidak ikut bertambah. Rumah semakin nyaman, tetapi suasana ibadah di dalamnya semakin sepi. Telepon di tangan semakin canggih, tetapi mushaf semakin jarang disentuh. Kita tahu begitu banyak tentang kehidupan orang lain melalui layar, tetapi semakin sedikit waktu yang kita sisihkan untuk memeriksa keadaan hati sendiri.

Islam mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan manusia berjalan mengikuti sunnatullah. Ada ketetapan-ketetapan Allah yang berlaku dalam kehidupan umat manusia; berulang dari zaman ke zaman dan tidak berubah hanya karena manusia menginginkan hasil yang berbeda. Allah berfirman:

فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّةَ الْأَوَّلِينَ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَحْوِيلًا

"Maka mereka tidak menunggu kecuali ketetapan yang telah berlaku terhadap orang-orang terdahulu. Engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnatullah, dan tidak pula akan mendapati penyimpangan pada sunnatullah." (QS. Fathir: 43)

Di antara sunnatullah yang paling penting untuk kita pahami adalah sunnatullah tentang perubahan.

Allah tidak mengajarkan kepada kita untuk duduk diam menunggu keadaan membaik sambil terus mempertahankan kebiasaan yang buruk. Allah tidak mengajarkan sebuah umat meminta kemuliaan sementara sebab-sebab kehinaan terus dipelihara. Allah tidak mengajarkan sebuah keluarga memohon ketentraman sementara hak-hak Allah dan hak sesama anggota keluarga terus diabaikan.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11).

Ayat ini sering kita dengar. Namun terkadang kita membacanya hanya ketika berbicara tentang Pembangunan fisik-materil, kemajuan ekonomi, pendidikan, atau perubahan sosial.

Padahal maknanya jauh lebih dalam. Perubahan yang pertama-tama diminta dari seorang mukmin adalah perubahan di dalam jiwa: dari kekufuran menuju iman, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari bid'ah menuju Sunnah, dari kelalaian menuju kesadaran, dari kufur nikmat menuju syukur kepada Allah.

Karena itu, ketika keadaan hidup terasa berat, jangan hanya sibuk melihat ke luar. Ada saatnya kita perlu berhenti dan bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: bagaimana hubungan kita dengan Allah? Bagaimana shalat kita? Bagaimana rezeki yang masuk ke rumah kita? Bagaimana hubungan kita dengan orang tua? Bagaimana cara kita memperlakukan pasangan dan anak-anak? Apa yang kita lihat ketika sendirian? Apa yang kita tulis ketika berada di balik layar? Apa yang kita lakukan ketika tidak ada seorang pun yang mengetahui selain Allah?

Sebab perubahan memiliki dua arah. Manusia bisa berubah dari buruk menjadi baik, tetapi manusia juga bisa berubah dari baik menjadi buruk. Karena itu Allah mengingatkan:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

"Yang demikian itu karena Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Al-Anfal: 53).

Betapa banyak manusia yang ketika hidupnya masih sempit begitu dekat dengan Allah. Ketika usahanya kecil, ia rajin ke masjid dan mudah bersyukur. Ketika belum memiliki kedudukan, tutur katanya lembut dan mudah menerima nasihat. Namun setelah Allah lapangkan rezekinya, ia mulai terlalu sibuk. Setelah namanya dikenal, teguran terasa seperti penghinaan. Setelah memiliki kekuasaan, orang-orang yang dahulu berjalan bersamanya mulai tidak dianggap.

Nikmat tidak selalu hilang dengan datangnya kemiskinan. Kadang nikmat itu masih terlihat secara lahir, tetapi keberkahannya telah dicabut. Rumahnya besar, tetapi penghuninya tidak tenteram. Hartanya banyak, tetapi kegelisahannya tidak pernah selesai. Orang mengenalnya, tetapi ia tidak merasakan kedamaian dalam dirinya. Anak-anaknya memiliki fasilitas yang lengkap, tetapi hubungan mereka semakin jauh. Karena itu nikmat bukan hanya soal memiliki, tetapi soal keberkahan Allah pada apa yang kita miliki.

Sebaliknya, Allah juga memperlihatkan bagaimana perubahan dari dalam dapat menjadi sebab datangnya rahmat. Lihatlah kaum Nabi Yunus 'alaihissalam. Ketika mereka berubah, kembali beriman dan tunduk kepada Allah, azab yang hampir menimpa mereka Allah angkat. Allah berfirman:

فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ

"Mengapa tidak ada penduduk suatu negeri yang beriman sehingga imannya bermanfaat kepadanya, selain kaum Yunus? Ketika mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia dan Kami beri mereka kesenangan sampai waktu tertentu." (QS. Yunus: 98).

Kisah ini memberi harapan kepada siapa saja yang merasa hidupnya sudah terlalu jauh. Selama pintu taubat belum ditutup, seseorang tidak pernah terlambat untuk pulang kepada Allah. Ada orang yang bertahun-tahun jauh dari shalat, kemudian Allah hidupkan hatinya. Ada orang yang lama bergelimang dalam dosa, lalu suatu hari ia benar-benar merasa lelah dengan dosanya sendiri dan memilih kembali.

Ada orang yang bertahun-tahun keras kepada orang tuanya, lalu Allah lembutkan hatinya sehingga ia datang meminta maaf. Tidak ada manusia yang terlalu jauh jika Allah memberinya hidayah dan ia bersedia menjawab panggilan itu.

Sejarah generasi pertama Islam pun memperlihatkan perubahan yang luar biasa. Para Muhajirin dan Anshar bukan sejak awal merupakan masyarakat yang menguasai dunia. Mereka pernah sedikit jumlahnya, lemah, terancam, dan hidup dalam ketakutan. Tetapi iman mengubah mereka. Allah mengingatkan:

وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Dan ingatlah ketika kalian masih sedikit lagi tertindas di bumi, kalian takut orang-orang akan menculik kalian. Lalu Allah memberi kalian tempat menetap, menguatkan kalian dengan pertolongan-Nya, dan memberi kalian rezeki dari yang baik-baik agar kalian bersyukur." (QS. Al-Anfal: 26).

Kemuliaan mereka bukan dimulai dari banyaknya harta, bukan dari kemegahan bangunan, bukan pula dari kecanggihan perlengkapan. Perubahan itu bermula ketika hati-hati mereka tunduk kepada Allah, ketika tauhid menggantikan kesyirikan, ketika Sunnah menggantikan tradisi jahiliah, ketika persaudaraan menggantikan fanatisme, ketika ketaatan kepada Allah lebih dicintai daripada hawa nafsu.

Karena itu Allah menghubungkan iman dan takwa dengan datangnya keberkahan. Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami bukakan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan, maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf: 96).

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Melalui ayat ini kita diajarkan satu sunnatullah yang tidak boleh kita abaikan, yaitu bahwa: iman, takwa, ketaatan, dan syukur adalah sebab datangnya kebaikan dan keberkahan, sebagaimana dosa, kedurhakaan, serta kufur nikmat dapat menjadi sebab hilangnya keberkahan.

Karena itu kita juga diperintahkan membaca sejarah umat yang telah berlalu. Ada bangsa yang memiliki kekuatan, kemakmuran, air yang melimpah, dan tanah yang subur, tetapi semua itu tidak membuat mereka kebal dari akibat dosa. Allah berfirman:

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ

"Tidakkah mereka memperhatikan berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan? Kami telah meneguhkan kedudukan mereka di bumi dengan kekuatan yang belum Kami berikan kepada kalian, Kami curahkan hujan yang lebat kepada mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka. Kemudian Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain." (QS. Al-An'am: 6).

Sunnatullah itu bukan hanya mengenai bangsa dan masyarakat. Ia juga berlaku pada pribadi. Al-Qur'an menceritakan pemilik dua kebun yang dibuat silau oleh keberhasilannya sendiri. Ia masuk ke kebunnya dalam keadaan menzalimi dirinya, merasa hartanya tidak akan pernah lenyap, bahkan keraguan terhadap terjadinya hari akhir mulai tumbuh dalam dirinya.

Tetapi pada akhirnya keadaan itu berubah. Allah berfirman:

وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا ۝ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ فِئَةٌ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنْتَصِرًا

"Dan harta kekayaannya dibinasakan. Lalu ia membolak-balikkan kedua telapak tangannya karena menyesali apa yang telah dibelanjakannya untuk kebun itu, sementara kebun itu roboh bersama para-paranya. Dia berkata, 'Aduhai, sekiranya dahulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku.' Dan tidak ada kelompok yang dapat menolongnya selain Allah, dan dia pun tidak mampu membela dirinya sendiri." (QS. Al-Kahfi: 42-43).

Jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah,
Di sinilah kita seharusnya berhenti sejenak dan melihat diri sendiri. Tidak perlu menunggu memiliki dua kebun seperti orang dalam kisah itu untuk menjadi sombong. Kadang sebuah kenaikan jabatan cukup membuat seseorang berubah. Sedikit kenaikan penghasilan membuat gaya hidup berubah dan syukur berkurang. Sedikit pujian membuat hati sulit menerima koreksi. Sedikit pengetahuan agama bahkan bisa membuat seseorang merasa lebih baik daripada saudaranya.

Demikian pula kemaksiatan. Awalnya mungkin hanya dilakukan diam-diam dan hati masih gelisah. Jika tidak segera dihentikan, dosa yang berulang dapat menjadi kebiasaan. Kebiasaan kemudian dicari pembenarannya. Yang dahulu membuat malu akhirnya diceritakan dengan bangga. Yang dahulu dilakukan sembunyi-sembunyi akhirnya dipamerkan. Itulah sebabnya seorang mukmin jangan pernah merasa aman dari perubahan hati.

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan tentang masyarakat yang melihat kemungkaran tetapi membiarkannya padahal mampu melakukan perubahan. Beliau bersabda:

مَا مِنْ رَجُلٍ يَكُونُ فِي قَوْمٍ يَعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي، يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا عَلَيْهِ، فَلَا يُغَيِّرُوا، إِلَّا أَصَابَهُمُ اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَمُوتُوا

"Tidaklah seseorang berada di tengah suatu kaum yang di tengah mereka dilakukan berbagai kemaksiatan, sedangkan mereka mampu mengubahnya namun tidak mengubahnya, kecuali Allah akan menimpakan kepada mereka azab sebelum mereka meninggal." (HR. Abu Dawud)

Maka, berubahlah sebelum keadaan memaksa kita berubah.

Jika ada shalat yang masih sering terlambat, mulailah memperbaikinya. Jika penghasilan bercampur dengan yang syubhat atau haram, jangan menunggu hati menjadi keras. Jika bertahun-tahun hubungan dengan orang tua terasa dingin, jangan menunggu salah satu dari mereka pergi sehingga yang tersisa hanya penyesalan.

Jika rumah tangga semakin renggang karena masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri, jangan tunggu sampai keretakan itu sulit diperbaiki. Jika ada dosa yang telah bertahun-tahun kita sembunyikan, jangan berkata, "Nanti." Bisa jadi kata "nanti" itulah yang selama ini membuat kita tidak pernah benar-benar berubah.

Allah mengulangi peringatan-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS Ar-Ra'd: 11)

Semoga Allah memperlihatkan kepada kita kekurangan diri kita, memberikan keberanian untuk memperbaikinya, dan tidak menjadikan kita orang yang pandai melihat kesalahan orang lain tetapi buta terhadap kekurangan sendiri.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita kembali berwasiat kepada diri kita untuk bertakwa kepada Allah. Tidak ada seorang pun di antara kita yang tahu berapa lama kesempatan memperbaiki diri masih tersedia.

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Perubahan tidak selalu terjadi dalam satu malam. Ada perubahan yang harus diperjuangkan lama. Ada orang yang ingin memperbaiki shalatnya, tetapi pada awalnya masih terasa berat. Ada orang yang ingin membiasakan membaca Al-Qur'an, tetapi beberapa halaman saja sudah terasa panjang. Ada orang yang ingin menahan lisannya, tetapi berkali-kali masih terpeleset. Ada pula yang telah lama ingin bangun malam, tetapi selimut terasa begitu berat menjelang akhir malam.

Jangan berhenti hanya karena ketaatan belum terasa nikmat. Rasa nikmat dalam ibadah sering kali datang setelah seseorang bersungguh-sungguh menjalaninya.

Diriwayatkan pula dari seorang tabi'in, Tsabit al-Bunani rahimahullah, bahwa ia berkata:

كَابَدْتُ قِيَامَ اللَّيْلِ عِشْرِينَ سَنَةً وَتَنَعَّمْتُ بِهِ عِشْرِينَ سَنَةً أُخْرَى

"Aku bersusah payah melaksanakan shalat malam selama dua puluh tahun, kemudian aku menikmati kelezatannya selama dua puluh tahun berikutnya.".

Ungkapan ini memberikan pelajaran yang sangat dalam. Tidak semua kebaikan terasa ringan pada awal perjalanan. Orang yang sudah lama jauh dari Al-Qur'an mungkin harus memaksa dirinya untuk kembali membaca. Orang yang terbiasa tidur setelah Subuh perlu berjuang mengubah kebiasaan. Orang yang terbiasa melihat yang haram perlu berkali-kali menundukkan pandangan. Orang yang telah lama dikuasai amarah perlu belajar menahan kata-katanya. Tetapi setiap kali ia melawan hawa nafsunya karena Allah, ia sedang berjalan menuju perubahan.

Dan Allah tidak menyia-nyiakan langkah seorang hamba yang datang kepada-Nya. Dalam hadis qudsi Allah Ta'ala berfirman:

وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

"Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan bersegera." (HR al-Bukhari dan Muslim)

Tidak perlu memulai dengan sesuatu yang sangat besar. Lihat satu kekurangan yang paling membutuhkan perbaikan, kemudian bersungguh-sungguhlah. Jika itu shalat, perbaiki shalat. Jika itu hubungan dengan orang tua, perbaiki hubungan itu. Jika itu rezeki, bersihkan rezeki. Jika itu pandangan, jaga pandangan. Jika itu dosa rahasia, tutuplah pintunya. Jika itu kebiasaan buruk di dalam rumah, mulailah mengubahnya. Tetapi jangan menunda.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan." (QS. Al-Ahzab: 56).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat, yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang sejuk dengan iman, lisan yang basah dengan zikir, amal yang ikhlas, rezeki yang halal, dan kehidupan yang dipenuhi keberkahan.

Ya Allah, lindungilah kami dari api neraka dan segala ucapan, keyakinan, serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.

Ya Allah, turunkanlah keberkahan-Mu kepada negeri kami. Jauhkanlah negeri kami dari kekeringan, kebakaran, banjir, gempa bumi, wabah penyakit, kerusuhan, perpecahan, dan seluruh keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Bimbinglah mereka agar memimpin dengan adil, amanah, takut kepada-Mu, menyayangi rakyat, melindungi kaum lemah, menjaga agama, serta memelihara keamanan dan kebaikan negeri.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.

Ya Allah, jagalah para ulama yang istiqamah di atas Al-Qur'an dan Sunnah. Karuniakan kepada mereka keikhlasan, ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kelembutan dalam membimbing umat.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Berilah makan kepada yang kelaparan, pakaian kepada yang kekurangan, tempat tinggal kepada yang kehilangan rumah, obat kepada yang sakit, keamanan kepada yang ketakutan, dan kebebasan kepada yang dizalimi.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sumber: Laman resmi Yayasan Markaz Imam Malik

Khutbah Jumat #2

Mohonlah Perlindungan pada Allah dari Empat Hal

Khutbah I

إِنّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ ونستهديه ونشكره، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِن سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. نَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَنشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لا نبي بعدَه.

اللّٰهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ التناد.

أما بعد، عباد الله أوصي نفسي أولا وأوصيكم بتقوى الله، فقد فاز المتقون. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ تَنْزِيلِهِ: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ) وقال أيضا: (وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.)

Sidang Jumat yang dirahmati Allah,

Hari ini, di mimbar yang mulia ini, khatib mengajak dan mengingatkan, terutama pada diri sendiri dan jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan iman dan takwa, dalam arti bersungguh-sungguh dalam menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangannya.

Tak lupa khatib juga mengajak jamaah untuk mempertebal kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Karena mencintai Rasulullah merupakan bagian dari iman.

Barang siapa yang ingin dicintai Allah, maka cintailah Rasulullah. Barang siapa yang ingin merajut jalinan dengan Allah, maka rajutlah jalinan dengan Baginda Nabi. Itulah jalan dan cara yang disampaikan Allah langsung dalam Kitab-Nya, surat Ali Imran ayat 31:

قُل اِن كُنتُم تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُونِى يُحبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغفِرْ لَـكُم ذُنُوبَكُم وَاللّٰهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Sidang Jumat yang diberkati Allah,

Dalam kesempatan ini, khatib akan menyampaikan khutbah dengan tema "Mohonlah Perlindungan pada Allah dari Empat Hal".

'Ibadallah..., ketahuilah bahwa Nabi Muhammad SAW pernah "isti'adzah" atau mohon perlindungan kepada Allah dari empat hal, sebagaimana terekam dalam doanya berikut ini:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ، (وفي رواية: ومن دعوة لا يُستجابُ لها)

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah merasa puas, doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan)." (HR An-Nasai)

Mari kita perjelas satu per satu. Semoga kita dapat memahami kenapa Rasulullah memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal tersebut.

Isti'adzah pertama, Nabi berlindung dari "ilmu yang tidak bermanfaat". Apa itu ilmu yang tidak bermanfaat? Menurut Imam Al-Qadhi 'Iyyadl ilmu yang tidak bermanfaat adalah:

العلم الذي لا يُعمل به، أو لا يهدي إلى طاعة الله، ولا يُثمِر خشيةً ولا صلاحًا

"Ilmu yang tidak diamalkan, atau yang tidak mengantarkan kepada ketaatan kepada Allah, atau yang tidak membuahkan rasa takut dan yang tidak membuahkan kesalehan."

Artinya, ilmu yang dihindari di sini adalah ilmu yang dimiliki tetapi hanya menjadi materi perdebatan, sebagai sarana mencari ketenaran dan popularitas, sebagai bangga-banggaan atau gagah-gagahan, untuk mencari gelar, dan/atau untuk sekadar mencari dunia.

Seharusnya niat mencari ilmu adalah untuk menghilangkan kebodohan, melaksanakan kewajiban dan mencari ridha Allah. Sementara buah dari ilmu yang bermanfaat adalah "al-khasyyah" atau rasa takut kepada Allah. Hal ini sebagai ditegaskan Allah dalam surat Fathir ayat 28:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

"Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama."

Ma'syiral muslimin rahimakumullah,

Isti'adzah yang kedua, Nabi SAW berlindung dari "hati yang tidak khusyuk".

Menurut Al-Qadhi 'Iyyadl, hati yang tidak khusyuk adalah:

هو القلب القاسي الذي لا تَلينه المواعظُ، ولا تُؤثِّر فيه آياتُ الله.

"Yaitu hati yang keras, yang tidak menjadi lunak oleh nasihat dan tidak terpengaruh oleh ayat-ayat Allah."

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 74:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كالحجارة أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ ٱلْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ ٱلْمَآءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ ٱللَّهِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu ada yang memancar sungai-sungai darinya, ada pula yang terbelah lalu keluarlah air darinya, dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan."

Bahkan, dalam surat Az-Zumar ayat 22, Allah mengancam hati yang keras:

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

"Maka celakalah orang-orang yang hatinya telah keras untuk mengingat Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata."

Sementara itu, menurut Nabi Muhammad, penyebab hati keras ada tiga. Penyebab pertama adalah terlalu banyak tertawa. Nabi SAW bersabda:

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

"Jangan banyak tertawa, karena banyak tertawa mematikan hati." (HR At-Tirmidzi)

Penyebab kedua adalah dosa yang ditumpuk-tumpuk, tanpa diperhatikan dan disadari. Nabi SAW bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ

"Apabila seorang hamba melakukan dosa, maka akan ditorehkan satu titik hitam pada hatinya." (HR Ibnu Majah)

Adapun penyebab yang ketiga adalah jauh dari Allah. Menyangkut hal ini, Nabi SAW bersabda:

أَبْعَدُ النَّاسِ مِنَ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي

"Orang yang paling jauh dari Allah adalah yang berhati keras." (HR At-Tirmidzi)

Ma'syiral muslimin rahimakumullah,

Isti'adzah yang ketiga adalah memohon perlindungan kepada Allah dari "jiwa yang tidak pernah puas". Jiwa yang tidak pernah puas disebut dengan tamak. Sedangkan kebalikannya adalah jiwa yang qana'ah. Hal ini sebagaimana dijelaskan Al-Qadhi 'Iyyadl:

التي لا تَقنَع بما رزَقَها الله، ولا تزال مُتطلعةً إلى الدنيا

"Yaitu jiwa yang tidak merasa cukup terhadap rezeki yang Allah telah bagikan, dan terus-menerus menginginkan kenikmatan dunia."

Dari sini, mari kita perhatikan, bukankah huru-hara, korupsi, perang, dan segala bentuk kerusakan di bumi ini, tidak lain adalah disebabkan jiwa-jiwa yang serakah, yang tamak, yang tak pernah bersyukur, dan tak pernah merasa cukup dengan pemberiaan Allah.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Isti'adzah yang keempat, yang terakhir, adalah berlindung dari "doa yang tidak didengar". Artinya, bukannya Allah tidak mendengar doa kita-karena Allah Maha Mendengar, Allah mendengar segala sesuatu-yang dimaksud di sini adalah Allah tidak mengabulkan doa kita.

Kalau doa tidak dikabulkan, dipastikan ada rasa kecewa dalam diri seseorang. Sebaliknya, jika doanya dikabulkan, tentu akan merasa senang. Lantas, apakah penyebab doa tidak diterima Allah?

Jawabannya adalah tiga hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, sebab harta yang diperoleh dari cara yang haram. Kedua, sebab melakukan kezaliman kepada orang lain. Ketiga, sebab lalai atau tidak yakin saat berdoa. Karena itu, tiga hal ini harus diperhatikan dengan saksama. Jangan sekadar membaca doa, melainkan juga harus menjauhi sebab-sebab yang membuat doa tersebut tidak dikabulkan.

Ma'syiral muslimin rahimakumullah,

Demikian inilah empat isti'adzah atau permohonan perlindungan kepada Allah, yang dilakukan oleh Nabi SAW supaya dihindarkan darinya.

Jika kita perhatikan dari urutan hadis di atas, kita dapat menyimpulkannya bahwa; ilmu yang tidak bermanfaat akan melahirkan hati yang tidak khusyuk; hati yang tidak khusyuk akan menumbuhkan jiwa yang rakus; dan jiwa yang rakus akan menghalangi terkabulnya doa.

Demikianlah yang bisa khatib sampaikan. Semoga ilmu kita bermanfaat, hati kita khusyuk, jiwa kita qana'ah, dan doa kita diterima dan dikabulkan oleh Allah SWT. Amin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Oleh: Dr Alvian Iqbal Zahasfan, Wakil Sekretaris Komisi Fatwa Metodologi, Dosen Pascasarjana UIN Jakarta

Sumber: Laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI)

Khutbah Jumat #3

Rasulullah sebagai Role Model: Kepemimpinan Nabi yang Melayani, Bukan Minta Dilayani

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Amma ba'du. Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah melimpahkan nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, teladan abadi, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Wasiat takwa tak henti-hentinya saya sampaikan, karena takwa adalah sebaik-baik bekal. Takwa bukan sekadar lisan yang berdzikir, tetapi hati yang tunduk dan perbuatan yang menjauhi larangan-Nya, baik saat sendiri maupun di tengah keramaian.

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah,
Hari ini, kita menyaksikan sebuah fenomena yang memprihatinkan di tengah umat. Banyak orang berlomba-lomba mengejar jabatan dan posisi kepemimpinan, namun sedikit yang memahami esensi dari amanah tersebut.

Kita sering melihat pola kepemimpinan yang feodal, di mana pemimpin memosisikan diri sebagai "raja" yang harus dilayani, bukan sebagai "pelayan" yang melayani. Mentalitas minta dilayani ini telah mengakar, menciptakan jarak antara pemimpin dan rakyat, antara atasan dan bawahan, bahkan antara ulama dan umat.

Padahal, kita memiliki sosok agung, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau adalah pemimpin negara, panglima perang, sekaligus imam besar. Namun, apakah beliau hidup di istana megah dengan pelayan yang berbaris? Tidak. Beliau menambal bajunya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan duduk sama rendah dengan para sahabatnya. Inilah tema khutbah kita hari ini: "Rasulullah sebagai Role Model: Kepemimpinan Nabi yang Melayani, Bukan Minta Dilayani."

Ma'asyiral muslimin,
Landasan utama kepemimpinan Nabi adalah kasih sayang dan kelembutan. Beliau tidak memimpin dengan tangan besi atau arogansi.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan karakter ini dalam Al-Qur'an Surah Ali 'Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

"Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal." (QS. Ali 'Imran: 159).

Ayat ini menjelaskan bahwa soft skill atau kelembutan hati adalah modal utama seorang pemimpin. Kata 'fazzan' (bersikap keras) dan 'ghalidzal qalbi' (berhati kasar) adalah sifat yang dibenci dalam Islam bagi seorang pemegang amanah.

Rasulullah melayani umatnya dengan mendengarkan keluh kesah mereka, memaafkan kesalahan mereka, dan mengajak mereka bermusyawarah. Ini adalah bentuk pelayanan psikologis dan emosional yang luar biasa dari seorang pemimpin kepada rakyatnya.

Sebagai penguat, mari kita renungkan doa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bagi para pemimpin umat. Beliau memberikan ancaman sekaligus harapan dalam hadits riwayat muslim:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

"Ya Allah, barangsiapa yang mengurusi urusan umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Dan barangsiapa yang mengurusi urusan umatku, lalu ia menyayangi (berlemah lembut) kepada mereka, maka sayangilah dia." (HR. Muslim, No. 1828).

Hadits ini mengandung doa mustajab dari Nabi. Ini adalah peringatan keras bagi siapa saja-baik kepala keluarga, ketua RT, pejabat, hingga pemimpin negara-yang menggunakan kekuasaannya untuk mempersulit urusan orang lain demi minta dilayani atau dihormati. Sebaliknya, pemimpin yang melayani dan memudahkan urusan orang lain didoakan langsung oleh Nabi agar Allah memudahkan hidupnya.

Jamaah yang berbahagia,
Bukti nyata bahwa Nabi melayani dan bukan minta dilayani terlihat dari keseharian beliau di dalam rumah. Seringkali, karakter asli seseorang terlihat saat ia berada di rumahnya. Allah memerintahkan Nabi untuk merendahkan hati, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Asy-Syu'ara ayat 215:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

"Dan rendahkanlah hatimu (berbuat baiklah) terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman." (QS. Asy-Syu'ara: 215).

Perintah "Wakhfidz janahaka" (rendahkanlah sayapmu) adalah metafora indah tentang perlindungan, pengayoman, dan pelayanan tanpa batas atau sekat status sosial.

Bagaimana implementasinya? Lihatlah kesaksian istri beliau, Aisyah Radhiyallahu 'anha, dalam Hadits Riwayat Al-Bukhari:

سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

"Aku (Al-Aswad) bertanya kepada Aisyah: 'Apa yang biasa dilakukan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam rumahnya?' Aisyah menjawab: 'Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya (melayani keluarganya). Namun, jika waktu shalat tiba, beliau segera keluar untuk shalat.'" (HR Bukhari, No 676)

Bayangkan, seorang Rasul pilihan Allah tidak gengsi menjahit bajunya yang robek, memperbaiki sandalnya, atau membantu pekerjaan rumah tangga. Beliau tidak duduk manis menunggu dilayani istri atau sahabatnya. Jika kepada keluarga saja beliau melayani, apalagi kepada umatnya. Inilah Role Model sejati.

Lalu, apa solusinya bagi kita? Solusinya adalah menanamkan mindset bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab (mas'uliyyah), bukan kemuliaan (tasyriif). Kita harus kembali meneladani beliau secara utuh. Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab: 21).

Meneladani beliau berarti siap capek, siap berkorban, dan siap melayani. Sebagai motivasi akhir di khutbah pertama ini, ingatlah sabda Nabi tentang hakikat setiap kita adalah pemimpin yang akan diaudit kinerjanya:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam (kepala negara/wilayah) adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin di keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas keluarganya..." (HR. Bukhari, No. 893 & Muslim, No. 1829).

Semoga kita semua dijauhkan dari sifat sombong dan gila hormat, serta dianugerahi hati yang tulus untuk melayani sesama semata-mata karena Allah.

بَارَكَ اللُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللِ، اتَّقُوا اللَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Sebagai ringkasan dari khutbah ini, mari kita tanamkan dalam hati bahwa jabatan, harta, dan kedudukan hanyalah titipan sesaat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada seberapa banyak orang yang melayaninya, tetapi seberapa besar manfaat dan pelayanan yang ia berikan kepada orang lain. Sayyidul qaumi khadimuhum (Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka).

Mari ubah orientasi hidup kita: dari mentalitas "ingin dilayani" menjadi mentalitas "siap melayani" demi meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Marilah kita menundukkan kepala dan hati, memohon kepada Allah agar negeri ini dikaruniai para pemimpin yang melayani rakyatnya dengan tulus, serta agar kita dijaga dari fitnah kekuasaan.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

اللَّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنَا، وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنَا شِرَارَنَا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِينَا وَلَا يَرْحَمُنَا

(Ya Allah, angkatlah untuk kami pemimpin-pemimpin yang terbaik di antara kami, dan janganlah Engkau angkat pemimpin yang buruk di antara kami. Ya Allah, janganlah Engkau kuasakan kepada kami-disebabkan dosa-dosa kami-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak menyayangi kami).

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللِ أَكْبَرُ، وَاللُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Wasssalamu'alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh

Sumber: Laman resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang

Khutbah Jumat #4

Pentingnya Keadilan Para Pemimpin

Khutbah I

الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَّهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

قَالَ تَعَالَى: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ).

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى أَسَاسُ الْعَدْلِ وَمِفْتَاحُ الصَّلَاحِ.

Ma'asyiral muslimin rahumakumullah,

Setiap bangsa mendambakan kemerdekaan. Namun, kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas dari penjajahan fisik, melainkan bebas dari ketidakadilan, penindasan, dan kesewenang-wenangan. Dalam pandangan Islam, kemerdekaan sejati hanya dapat terwujud apabila keadilan ditegakkan, khususnya oleh para pemimpin.

Islam memandang kepemimpinan sebagai amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Seorang pemimpin tidak hanya diminta untuk berkuasa, tetapi dituntut untuk berlaku adil kepada seluruh rakyat tanpa membedakan suku, status, maupun kepentingan pribadi.

Ma'asyiral muslimin rahumakumullah,

Marilah kita perhatikan perihal menyangkut keadilan sebagai berikut:

Pertama, keadilan sebagai ruh kemerdekaan.Dalam pandangan Islam, kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Kemerdekaan tanpa keadilan hanya akan melahirkan penjajahan bentuk baru, di mana yang kuat menindas yang lemah.

Allah SWT berfirman dalam surat An-Nahl ayat 90:

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."

Ayat ini menegaskan bahwa perintah pertama Allah kepada manusia, terutama para pemegang urusan (pemimpin), adalah berlaku adil. Adil bukan berarti sama rata, melainkan meletakkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan hak kepada pemiliknya tanpa diskriminasi.

Ma'asyiral muslimin rahumakumullah,

Kedua, pemimpin adil adalah naungan Allah. Kemerdekaan sejati tercapai saat masyarakat merasa aman karena pemimpinnya takut kepada Allah. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira dalam sebuah hadis shahih, beliau bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللّٰهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: ... الإِمَامُ الْعَادِلُ .....

"Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: ... (salah satunya adalah) Pemimpin yang adil...." (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa tingginya derajat pemimpin yang mampu menjaga keadilan di tengah godaan kekuasaan yang luar biasa.

Ma'asyiral muslimin rahumakumullah,

Ketiga, pesan sahabat dan ulama. Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah memberikan nasihat emas terkait keberlangsungan sebuah bangsa. Beliau menegaskan: "Sebuah negara yang kafir bisa bertahan jika ia adil, namun sebuah negara yang beriman (muslim) akan hancur jika ia zalim."

Kalimat ini mengandung makna mendalam bahwa keadilan adalah hukum alam (sunnatullah) untuk stabilitas sebuah bangsa. Jika pemimpin bertindak adil, maka rakyat akan merasa merdeka secara batiniah. Mereka merdeka dari rasa takut, merdeka dari kelaparan, dan merdeka dari perlakuan semena-mena.

Keempat, implementasi keadilan dalam berbangsa. Setiap pemimpin yang membawa kemerdekaan sejati adalah mereka yang mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, kelompok atau golongan; mereka yang menjaga lisan dan tindakan dari perbuatan korupsi yang merampas hak rakyat; dan mereka yang mendengarkan keluh kesah masyarakat paling bawah.

Ma'asyiral muslimin rahumakumullah,

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan." (QS. An-Nahl: 90)

Ayat ini menegaskan bahwa keadilan adalah perintah langsung dari Allah, bukan pilihan, apalagi sekadar slogan. Tanpa keadilan, kemerdekaan hanya menjadi kata-kata, sementara rakyat tetap terbelenggu oleh ketimpangan dan ketidakpastian.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللّٰهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ

"Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil kelak berada di atas mimbar-mimbar cahaya di sisi Allah." (HR Muslim)

Hadis ini menunjukkan kemuliaan kedudukan pemimpin yang adil, baik dalam keputusan dan kebijakan maupun dalam memperlakukan rakyatnya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Sejarah mencatat bahwa kehancuran suatu bangsa sering kali bermula dari rusaknya keadilan para pemimpin. Ketika hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas, ketika kepentingan pribadi dan golongan mengalahkan kepentingan rakyat, maka saat itulah kemerdekaan sejati sirna.

Namun, jamaah sekalian, keadilan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemimpin. Rakyat pun memiliki kewajiban menjaga keadilan, dengan tidak berbuat zalim, tidak menyebarkan kebencian, serta tidak mendukung kezaliman dalam bentuk apa pun.

Kemerdekaan sejati lahir ketika pemimpinnya menjalankan amanah dengan jujur; ketika hukum ditegakkan tanpa pandang bulu; dan ketika rakyat dapat hidup aman, sejahtera, dan bermartabat.

Jika keadilan hilang, maka sejatinya kita masih terjajah, meskipun negeri ini telah merdeka secara administratif.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita dukung terciptanya keadilan ini mulai dari unit terkecil, yakni kepemimpinan dalam diri sendiri dan keluarga. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada bangsa kita pemimpin-pemimpin yang jujur, amanah, dan adil, sehingga kemerdekaan yang kita nikmati saat ini benar-benar membawa keberkahan dan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mari kita tegakkan keadilan dalam diri kita sendiri, dalam rumah tangga kita, hingga pada akhirnya Allah SWT menghadirkan pemimpin-pemimpin yang adil di tengah-tengah kita.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga negeri kita, Indonesia, dan menjadikannya negeri yang "Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur"-negeri yang subur, makmur, adil, dan senantiasa berada dalam ampunan Allah SWT. Amiin ya Rabbal 'Alamin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآ يَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Oleh: Dr KH Ahmad Suja'i Mughni, MM, Ketua 1 MUI Kota Tangerang

Sumber: Laman MUI

Khutbah Jumat #5

Memudahkan Urusan Orang Lain, Jalan Menuju Ridha Allah

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ , أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ , قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ.: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Mengawali khutbah Jumat ini, marilah kita senantiasa mengingat akan segala anugerah yang telah dikaruniakan Allah swt kepada kita. Untuk kemudian kita syukuri dan gunakan di jalan kebaikan serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah.

Pada kesempatan ini, khatib mengajak kepada seluruh jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah ta'ala dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beribadah kepada Allah akan menjadi manifestasi ketakwaan kita.

Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: "Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS Al Baqarah ayat 21)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Kita mungkin pernah mendengar sebuah kalimat: jika hidup kita ingin dipermudah, maka mudahkanlah urusan orang lain. Kalimat ini ternyata tidaklah sembarang kalimat. Tetapi disarikan dari salah satu sabda Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Hurairah RA:

مَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Artinya: "Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat." (HR Imam Muslim)

Di dalam kitab Kitab Al-Jawahirul Lu'luiyah Fi Syarhil Arbain An-Nawawiyah (Darul Minhaj, 1443 H / 2022 M, hal. 510), Syekh Muhammad bin Abdullah Al-Jurdani menerangkan bahwa kemudahan yang didapat di dunia dan akhirat tersebut, juga meliputi berbagai urusan dan apa yang diperlukan di dalam keduanya.

سَهَّلَ عَلَيْهِ أُمُوْرَهُ وَمَطَالِبَهُ فِيْهِمَا، مُجَازَاةً وَ مُكَافَأَةً لَهُ بِجِنْسِ عَمَلِهِ كَمَا مَرَّ

Artinya, "Dipermudah baginya segala urusan dan keperluannya di dalam keduanya (dunia akherat). Sebagai balasan dan ganjaran baginya, sesuai dengan jenis amal perbuatannya,"

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Namun, jamaah sekalian, yang perlu kita perhatikan ketika ingin memudahkan urusan orang lain adalah hendaknya semua itu dilakukan dalam perkara kebaikan. Jangan kita anggap remeh kebaikan sekecil apa pun. Menata sandal di masjid agar saudara kita mudah menemukannya ketika pulang pun termasuk kebaikan.

Begitu pula dalam perkara yang lebih besar, seperti seorang pemimpin yang membuat kebijakan yang tidak menyusahkan rakyatnya. Bahkan dalam pekerjaan kita sehari-hari, seperti seorang polisi yang membantu orang menyeberang dan mengatur lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan, semuanya merupakan bentuk kebaikan.

Maka, jangan menunggu memiliki kedudukan atau harta untuk berbuat baik. Karena setiap kita memiliki kesempatan untuk memudahkan urusan orang lain, dan setiap kebaikan itu insyaallah bernilai di sisi Allah.

Perintah untuk memudahkan orang lain dan juga saling membantu dalam kebaikan ini juga telah termaktub dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Artinya, "Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya. (QS Al-Maidah ayat 2)

Dari ayat tersebut, KH Bisri Mustofa dalam Tafsir Al-Ibriz Juz 6 hal. 270 mengartikan larangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan aniaya. Tindakan dosa dan aniaya ini semisal, orang yang memberi suap untuk memudahkan atau meloloskan orang lain melakukan kejahatan. Juga bersekongkol dalam hal urusan atau perbuatan merusak alam. Semua hal tersebut, akan mendapatkan balasan dari Allah SWT.

Oleh karena itu, bahwa kalimat mempermudah urusan orang lain ini, tidaklah kita telan mentah-mentah. Tetapi dapat kita laksanakan dalam hal kebaikan. Dengan melaksanakan hal tersebut, kita juga akan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah
Sudah semestinya kita hidup berdampingan dan saling peduli satu sama lain. Apabila ada orang lain yang mengalami kesulitan, hendaknya kita ikut membantu sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita. Salah satunya dengan mempermudah orang lain, dan membuat mereka merasa bergembira.

Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Abdullah bin Umar ra. Hadits ini termaktub pula dalam kitab Nashaihul Ibad (Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani Al-Jawi, Nashaihul Ibad, hal. 4):

أَحَبُّ الْعِبَادِ إلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُ النَّاسِ لِلنَّاسِ، وَأَفْضَلُ الْأَعْمَالِ إدْخَالُ السُّرُورِ عَلَى قَلْبِ الْمُؤْمِنِ، يَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا أَوْ يَكْشِفُ عَنْهُ كَرْبًا أَوْ يَقْضِي لَهُ دَيْنًا

Artinya, "Hamba yang paling disukai oleh Allah adalah orang yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia. Dan amalan yang paling utama adalah memasukkan kegembiraan ke dalam hati orang mukmin, dia usir rasa lapar dari orang mukmin atau dia hilangkan kesusahan dari orang mukmin atau dia bayarkan hutang bagi orang mukmin,"

Demikianlah khutbah, agar kita senantiasa mempermudah urusan orang lain, khususnya dalam hal kebaikan. Dengan mempermudah urusanorang lain, insyaallah urusan kita juga akan dipermudah oleh Allah SWT, di dunia dan akhirat.

Untuk menutup khutbah ini, marilah kita berdoa agar Allah senantiasa memberikan keberkahan, kesehatan dan kemudahan kepada kita semua, agar kita dan seluruh keluarga kita dapat melaksanakan kebaikan-kebaikan yang telah diperintahkan oleh Allah, serta dijauhkan dari segala perkara yang dapat mendatangkan azab dan bencana. Amin ya Rabbal Alamin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ،

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ،

Oleh: Ajie Najmuddin, Pengurus MWCNU Banyudono Boyolali

Sumber: Laman Nadlatul Ulama (NU)

Khutbah Jumat #6

Ketika Bencana Menguji Solidaritas Kita

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan tercermin melalui ibadah yang kita tunaikan, dalam cara kita memperlakukan sesama manusia, menjaga lingkungan, serta menghadirkan manfaat ketika orang lain berada dalam kesulitan.

Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh umat yang mengikuti jalan beliau hingga akhir zaman.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Hidup di Indonesia berarti hidup berdampingan dengan berbagai kemungkinan bencana. Gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, banjir, tanah longsor, kekeringan, cuaca ekstrem, hingga kebakaran hutan dan lahan merupakan bagian dari risiko yang harus kita hadapi bersama.

Dalam beberapa waktu terakhir, kenyataan tersebut kembali berada dekat dengan kehidupan kita. Pada Agustus 2026, sejumlah wilayah Indonesia menghadapi kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, cuaca ekstrem, serta banjir. Pada saat yang hampir bersamaan, aktivitas kegempaan juga masih dirasakan di berbagai daerah.

Keadaan ini mengingatkan kita bahwa bencana bukanlah persoalan yang jauh. Hari ini kita mungkin berada di tempat yang aman, tetapi saudara-saudara kita di tempat lain sedang berhadapan dengan kehilangan tempat tinggal, kesulitan memperoleh air bersih, kerusakan lingkungan, atau ketakutan akibat guncangan bumi.

Ketika musibah datang, biasanya solidaritas tumbuh dengan cepat. Bantuan dikumpulkan, relawan bergerak, dapur umum didirikan, tenaga kesehatan diterjunkan, dan masyarakat saling menguatkan. Di tengah kesulitan, kita sering menyaksikan sisi terbaik dari kemanusiaan.

Namun, bersamaan dengan itu, ruang digital juga menghadirkan persoalan lain. Ketika sebuah bencana terjadi, media sosial dengan cepat dipenuhi berbagai komentar. Tidak sedikit orang yang tergesa-gesa menghubungkan penderitaan suatu daerah dengan dosa dan kemaksiatan masyarakatnya. Musibah kemudian dijadikan alasan untuk menghakimi korban.

Pertanyaannya, pantaskah kita dengan mudah memastikan bahwa penderitaan orang lain adalah bentuk kemurkaan Allah? Apakah manusia memiliki pengetahuan untuk memastikan maksud Allah di balik setiap peristiwa?

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Fikih Kebencanaan Muhammadiyah memberikan cara pandang yang lebih utuh dalam memahami persoalan tersebut. Bencana tidak cukup dibaca hanya melalui satu sudut pandang. Ada dimensi keimanan, ada hukum alam atau sunnatullah, ada perilaku manusia, dan ada tanggung jawab sosial yang harus dilakukan setelah sebuah bencana terjadi.

Dalam keyakinan Islam, Allah adalah Zat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah berfirman dalam QS Al-An'am ayat 54:

وَإِذَا جَاۤءَكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِنَا فَقُلْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَۙ اَنَّهٗ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوْۤءًاۢ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَصْلَحَ فَاَنَّهٗ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya:

"Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, "Salamun 'alaikum (selamat sejahtera untuk kamu)." Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya (yaitu) barang-siapa berbuat kejahatan di antara kamu karena kebodohan, kemudian dia bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS Al-An'am: 54).

Ayat tersebut mengingatkan bahwa cara kita membaca ketentuan Allah tidak boleh dilepaskan dari sifat kasih sayang-Nya.

Musibah yang menimpa manusia juga dapat menjadi ujian kehidupan. Allah SWT. berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٥٥
الَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ۝١٥٦

Artinya:

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)." (QS Al-Baqarah: 155-156).

Dengan demikian, ketika bencana menimpa suatu masyarakat, sikap pertama kita seharusnya bukan mencari kesalahan korban. Sikap seorang mukmin adalah menghadirkan empati, mendoakan mereka, serta memikirkan apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi penderitaannya.

Musibah tidak boleh menjadi panggung untuk merasa lebih suci daripada orang yang sedang tertimpa kesulitan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Di sisi lain, keimanan juga tidak membuat kita menutup mata terhadap sebab-sebab yang dapat dipelajari melalui ilmu pengetahuan.

Gempa bumi memiliki mekanisme geologis. Banjir dapat berkaitan dengan curah hujan, kondisi daerah aliran sungai, tata ruang, dan daya dukung lingkungan. Tanah longsor berkaitan dengan kondisi tanah, lereng, hujan, serta perubahan tutupan lahan. Kebakaran hutan dan lahan juga dapat diperparah oleh kekeringan dan tindakan manusia.

Karena itu, menerima sunnatullah tidak berarti menyerah tanpa ikhtiar.

Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Artinya: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS Ar-Rum: 41).

Ayat ini tidak berarti bahwa setiap bencana tertentu dapat kita pastikan sebagai hukuman atas dosa kelompok tertentu. Namun, ayat ini menegaskan bahwa tindakan manusia dapat menimbulkan kerusakan dan karena itu manusia memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki perilakunya.

Maka muhasabah setelah bencana bukan hanya bertanya, "Dosa siapa yang menyebabkan bencana ini?" Muhasabah yang lebih penting adalah bertanya kepada diri kita, Apakah alam telah kita jaga? Apakah pembangunan telah memperhitungkan risiko dan keselamatan? Apakah pengetahuan tentang mitigasi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat?"

Inilah bentuk ikhtiar yang juga merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Ada pelajaran lain yang tidak kalah penting. Bencana bukan hanya menguji mereka yang menjadi korban. Bencana juga menguji kita yang sedang berada dalam keadaan aman.

Ketika saudara kita kehilangan rumah, apakah hati kita tergerak?

Ketika mereka membutuhkan makanan, air bersih, pelayanan kesehatan, tempat perlindungan, dan pendampingan, apakah kita hadir?

Ketika mereka berbeda agama, suku, bahasa, bahkan pandangan dengan kita, apakah pertolongan kita tetap diberikan?

Di sinilah solidaritas menemukan maknanya.

Pertolongan kemanusiaan harus diberikan kepada manusia karena ia membutuhkan pertolongan. Bukan karena ia berasal dari kelompok yang sama dengan kita.

Karena itu, setidaknya ada tiga sikap yang perlu menjadi pegangan ketika menghadapi bencana.

Pertama, menolong secara inklusif. Keselamatan manusia harus menjadi perhatian utama. Bantuan tidak boleh dibatasi oleh identitas agama, suku, ras, maupun golongan. Penderitaan manusia tidak mengenal sekat-sekat tersebut.

Kedua, menolong secara tepat dan bermartabat. Bantuan tidak cukup diberikan sekadar untuk menunjukkan bahwa kita pernah datang ke lokasi bencana. Apa yang diberikan harus berdasarkan kebutuhan masyarakat terdampak. Dokumentasi tidak boleh lebih penting daripada penderitaan korban. Kemanusiaan bukan panggung untuk mencari perhatian.

Ketiga, memikirkan pemulihan secara berkelanjutan. Setelah perhatian publik berkurang, para penyintas masih harus melanjutkan kehidupan. Ada rumah yang harus dibangun kembali, anak-anak yang harus kembali bersekolah, mata pencaharian yang harus dipulihkan, serta trauma yang membutuhkan pendampingan.

Karena itu, pertolongan tidak berhenti pada masa tanggap darurat. Semangat kemanusiaan harus terus hadir hingga masyarakat mampu berdiri kembali.

Perhatian khusus juga harus diberikan kepada kelompok yang memiliki kerentanan lebih besar, seperti anak-anak, lansia, perempuan, penyandang disabilitas, orang sakit, serta mereka yang kehilangan anggota keluarga dan sumber penghidupan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Bencana pada akhirnya menghadapkan kita kepada dua kesadaran sekaligus.

Pertama, kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan. Sebesar apa pun ilmu dan teknologi yang kita kuasai, manusia tetap tidak mampu mengendalikan seluruh peristiwa alam.

Namun yang kedua, manusia juga diberi akal, ilmu, dan tanggung jawab untuk mengurangi risiko. Kita dapat membangun dengan lebih aman, menjaga lingkungan, mengenali ancaman, menyiapkan jalur evakuasi, mendengarkan peringatan dini, mendidik masyarakat, serta saling menolong ketika keadaan darurat terjadi.

Tawakal tidak bertentangan dengan kesiapsiagaan.

Iman tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan.

Doa tidak meniadakan ikhtiar.

Bahkan, salah satu wujud keimanan adalah menggunakan seluruh kemampuan yang Allah berikan untuk menjaga kehidupan.

Maka ketika mendengar saudara kita tertimpa bencana, janganlah kita terlebih dahulu bertanya tentang kesalahan mereka. Tanyakanlah kepada diri sendiri:

Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu?

Boleh jadi justru melalui pertanyaan itulah Allah sedang menguji keimanan dan kemanusiaan kita.

Semoga Allah SWT melindungi bangsa dan negeri kita dari berbagai marabahaya, memberikan kekuatan kepada mereka yang sedang menghadapi musibah, menguatkan para relawan dan petugas kemanusiaan, serta menjadikan kita sebagai manusia yang ringan tangan dalam menolong sesama.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah SWT,

Bencana mengajarkan bahwa kehidupan manusia saling terhubung. Kesulitan yang dialami seseorang atau suatu masyarakat semestinya menjadi panggilan bagi yang lain untuk menghadirkan pertolongan.

Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Mā'idah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan."

Marilah kita membiasakan diri melakukan mubadarah, yaitu berinisiatif dan proaktif dalam setiap kebaikan. Jangan menunggu musibah datang ke rumah kita sendiri untuk memahami penderitaan orang lain.

Kita juga perlu membangun budaya kesiapsiagaan. Menjaga lingkungan, memahami risiko di sekitar tempat tinggal, mengikuti informasi resmi ketika terjadi keadaan darurat, serta membantu masyarakat yang membutuhkan merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kehidupan.

Semoga Allah memberikan kepada kita kekuatan untuk terus berbuat baik, membimbing kita agar mampu menjaga bumi yang telah diamanahkan-Nya, serta menjadikan kepedulian kepada sesama sebagai bagian dari ketakwaan kita.

Marilah kita menundukkan hati, memohon ampun, dan berdoa kepada Allah SWT.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ

اللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

Sumber: Laman resmi Muhammadiyah

Khutbah Jumat #7

Jangan Tunda Amal Baik

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَظْهَرَ لَنَا ثَمَرَ الرَّوْضِ مِنْ كِمَامِهِ، وَأَسْبَغَ عَلَيْنَا بِفَضْلِهِ مَلَابِسَ إِنْعَامِهِ، وَبَصَّرَنَا مِنْ شَرْعِهِ بِحَلَالِهِ وَحَرَامِهِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ذُوْ الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُؤَيَّدُ بِمُعْجِزَاتِهِ الْعِظَامِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْغُرِّ الْكِرَامِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

Ma'asyiral muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Sudah seyogianya kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT, atas segala nikmat dan karunia-Nya, sehingga pada hari yang penuh berkah ini kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul dan menunaikan ibadah shalat Jumat. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Selanjutnya, di tengah kehidupan yang penuh dengan berbagai ujian dan godaan, takwa menjadi bekal yang sangat kita butuhkan. Dengan takwa, kita memiliki kekuatan untuk senantiasa berada di jalan yang Allah swt ridhai, dan tidak mudah terjerumus dalam berbagai perbuatan yang dilarang oleh-Nya. Karena itu, pada momen yang mulia ini, mari kita perkuat ketakwaan kita, dengan senantiasa menunaikan segala perintah dan larangan-Nya.

Ma'asyiral muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Dalam kehidupan ini, kesempatan untuk melakukan kebaikan senantiasa datang silih berganti. Ada kebaikan yang bisa kita lakukan setiap hari, dan ada pula kebaikan yang mungkin hanya datang sesekali dalam hidup kita. Namun tidak jarang kita justru menundanya dengan berbagai alasan, seolah waktu yang kita miliki masih panjang dan kesempatan untuk melakukannya akan selalu terbuka.

Karena itu, Allah SWT memuji orang-orang yang tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melakukan kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang ketika mendapatkan peluang untuk melakukan amal baik, tidak berlambat-lambat atau menunggu waktu yang lain. Allah SWT berfirman:

أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

Artinya, "Mereka itu bersegera dalam (melakukan) kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya." (QS. Al-Mu'minun: 61).

Menurut Imam Fakhruddin Ar-Razi, ayat ini memberikan gambaran kepada kita semua tentang orang-orang yang memiliki keinginan kuat terhadap ketaatan, sehingga ketika kesempatan melakukannya datang, mereka segera menyambutnya dan tidak membiarkannya berlalu begitu saja. Mereka bersegera melakukan agar kebaikan tersebut tidak kehilangan waktunya dana agar kesempatan untuk mendapatkannya tidak terlewat. Ia mengatakan dalam kitab Tafsir Mafatihul Ghaib, jilid XI, halaman 193 sebagai berikut:

يَرْغَبُوْنَ فِي الطَّاعَاتِ أَشَدَّ الرَّغْبَةِ، فَيُبَادِرُوْنَهَا لِئَلَّا تَفُوْتَ عَنْ وَقْتِهَا وَلِكَيْلَا تَفُوْتَهُمْ دُوْنَ الْاِحْتِرَامِ

Artinya, "Mereka sangat menginginkan berbagai ketaatan, sehingga segera melaksanakannya agar tidak terlewat dari waktunya dan agar tidak terlewatkan oleh mereka tanpa penghargaan."

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Sikap bersegera dalam melakukan kebaikan dapat kita lakukan dalam kebiasaan-kebiasaan kecil sehari-hari, mulai dari membantu orang tua yang membutuhkan bantuan tanpa harus diminta, menyisihkan sebagian rezeki ketika melihat orang lain kesusahan, menjenguk orang yang sakit tanpa menunggu diundang, dan meminta maaf ketika melakukan kesalahan tanpa menunggu orang lain memulai.

Selain itu, masih banyak kebaikan yang dapat segera kita lakukan tanpa harus menunggu waktu sempurna, misalnya segera menunaikan shalat ketika masuk waktu, mengembalikan barang yang dipinjam sebelum pemiliknya menagih, segera melunasi utang ketika sudah mampu, membuang sampah yang berserakan meski bukan kita yang menjatuhkannya, menutup aib dan kekurangan orang lain ketika kita mengetahuinya, dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Itulah beberapa contoh kebaikan yang dapat segera kita lakukan tanpa harus menunggu waktu dan kesempatan yang lebih besar. Sebab, menunda kebaikan tidak hanya dikhawatirkan menjadikan kesempatan itu berlalu, tetapi juga dapat membuat seseorang menghadapi berbagai keadaan yang dapat menghalanginya untuk berbuat baik.

Oleh sebab itu, Rasulullah saw mengingatkan kita semua agar tidak menunda-nunda amal kebaikan dan segera melakukannya sebelum datangnya berbagai kondisi yang dapat menjauhkan kita dari kebaikan tersebut. Nabi bersabda:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Artinya, "Segeralah melakukan amal kebaikan sebelum datang berbagai fitnah yang seperti potongan malam yang gelap. Seseorang di pagi hari masih dalam keadaan beriman, tetapi sore harinya menjadi kafir, atau pada sore hari masih dalam keadaan beriman, tetapi pagi harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi memperoleh kesenangan dunia." (HR Muslim)

Menurut penjelasan Imam Nawawi, hadits ini merupakan dorongan dan motivasi kepada kita semua agar segera melakukan amal baik sebelum ia menjadi sulit dilaksanakan, atau sebelum kita terhalang darinya oleh berbagai fitnah yang datang silih-berganti, yang menumpuk bagaikan gelapnya malam pekat tanpa cahaya rembulan.

Dengan kata lain, hadits ini mengajak kita semua untuk tidak menunda kebaikan selagi waktu masih terbuka, dan belum datangnya cobaan, ujian yang menumpuk dan menyita perhatian kita, hingga tak lagi sempat melakukan amal kebaikan. Dalam kitab Syarh Nawawi 'ala Muslim, jilid I, halaman 231, Imam Nawawi mengatakan:

مَعْنَى الْحَدِيثِ الْحَثُّ عَلَى الْمُبَادَرَةِ إِلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَة قَبْلَ تَعَذُّرِهَا وَالِاشْتِغَالِ عَنْهَا بِمَا يَحْدُثُ مِنَ الْفِتَنِ الشَّاغِلَةِ الْمُتَكَاثِرَةِ الْمُتَرَاكِمَةِ كَتَرَاكُمِ ظَلَامِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ لَا الْمُقْمِرِ

Artinya, "Makna hadits adalah anjuran untuk segera melakukan amal kebaikan sebelum menjadi sulit dan sibuk darinya oleh berbagai fitnah yang menyibukkan, yang semakin bertumpuk, sebagaimana bertumpuknya kegelapan malam yang pekat, bukan yang bercahaya."

Oleh sebab itu, mari jangan menunggu datangnya keadaan yang membuat kita sulit untuk melakukan amal baik. Selama kesehatan masih kita miliki, waktu masih tersedia, dan kesempatan untuk melakukan kebaikan senantiasa terbuka, marilah kita segera melakukannya. Jangan sampai kebaikan yang hari ini mampu kita lakukan justru kita tunda hingga datang suatu keadaan yang membuat kita tidak lagi mampu melakukannya.

Ma'asyiral muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Demikian khutbah Jumat tentang pentingnya tidak menunda-nunda amal kebaikan. Semoga Allah swt senantiasa memberikan kita kesempatan, kekuatan, dan keistiqamahan untuk segera melakukan setiap kebaikan yang mampu kita kerjakan, serta menjauhkan kita dari sikap menunda-nunda. Dan semoga khutbah ini menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Oleh: Ustadz Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam, Kokop Bangkalan Jawa Timur

Sumber: NU Online

Demikianlah khutbah Jumat Rabiul Awal 1448 H terbaru yang dapat dijadikan referensi. Semoga bermanfaat!



(urw/urw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads