Krisis air bersih melanda 3 kecamatan di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel) akibat penurunan debit air yang cukup drastis. Warga pun terpaksa mengandalkan bantuan air dari PDAM untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Sudah sekitar sebulan terakhir ini terasa krisis air bersih. Sejak akhir Juli sampai Agustus ini," kata warga Sidrap bernama Susanti kepada detikSulsel, Jumat (21/8/2026).
Wanita yang tinggal di Kelurahan Lawawoi, Kecamatan Watang Pulu mengaku kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia bahkan terpaksa menumpang mengambil air di rumah tetangga karena persediaan air di rumahnya semakin terbatas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terpaksa numpang ambil air di tetangga karena susah sekali mi sekarang dapat air," paparnya.
Keluhan serupa disampaikan Bahrul Appas. Warga Kelurahan Lalebata, Kecamatan Panca Rijang, itu mengatakan keluarganya yang tinggal di wilayah tersebut sudah mengalami kesulitan air bersih selama sepekan.
"Ini sudah seminggu terasa susahnya dapat air bersih di Lalebata. Di sana itu rumah orang tua saya," keluhnya.
Menurut Bahrul, warga di wilayah tersebut selama ini mengandalkan air sumur. Namun, debit air sumur kini mengalami penurunan cukup signifikan.
"Ini kan warga pakai sumur dan itu sudah menurun sekali debit airnya. Makanya saya coba komunikasi ke PDAM agar bisa turut membantu distribusi air bersih ke warga," imbuhnya.
3 Kecamatan Terdampak Krisis Air Bersih
Direktur Perumda Tirta Saromase Andi Hindi Tongkeng menjelaskan krisis air bersih melanda sedikitnya 3 kecamatan di Kabupaten Sidrap. Penyebab krisis air bersih yakni akibat penurunan debit air yang cukup drastis.
"Wilayah yang cukup terdampak krisis air bersih yakni di Kecamatan Tellu Limpoe, Kecamatan Watang Pulu dan Pangkajene (Kecamatan Maritenggae)," kata Andi Hindi kepada detikSulsel.
PDAM Sidrap saat ini memiliki sekitar 8.000 pelanggan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 persen pelanggan terdampak akibat penurunan debit air.
"Pelanggan kami ada sekitar 8 ribu. Kalau yang terdampak sekitar 20 sampai 30 persen," paparnya.
Andi Hindi menjelaskan debit air di bendungan yang menjadi salah satu sumber air baku PDAM kini berada dalam kondisi kritis. Penurunan debit air tersebut membuat wilayah yang mengandalkan sumber air permukaan menjadi yang paling terdampak.
"Kalau air sumur dalam masih bisa, walaupun penurunannya sekitar 50 persen. Yang lebih parah itu yang menggunakan air permukaan karena sumber kami di bendungan sudah krisis air turun sudah 90 persen," ujarnya.
Menurutnya, sebagian pelanggan masih mendapatkan aliran air, terutama pada malam hari. Namun, saat memasuki jam-jam sibuk, pasokan air dari sumber permukaan mengalami kendala.
Untuk memenuhi kebutuhan dasar warga, Perumda Tirta Saromase melakukan distribusi air bersih secara langsung ke masyarakat atau door-to-door. Distribusi dilakukan menggunakan kendaraan bak terbuka yang dilengkapi tandon dan dibantu BPBD Sidrap.
"Kita di PDAM tidak ada mobil tangki. Jadi kita koordinasi pinjam ke BPBD. Kami juga punya satu mobil yang saya isi dua tandon dengan kapasitas 2.000 liter," ungkapnya.
Distribusi air dilakukan berdasarkan kebutuhan dan jadwal masing-masing wilayah. PDAM juga tetap melayani permintaan warga yang membutuhkan air bersih secara mendesak selama kendaraan distribusi tersedia.
"Hampir lima hari kerja kita distribusi air bersih ke warga. Biasanya pagi ke Tellu Limpoe, sore ke Watang Pulu. Besoknya kalau tiba-tiba ada yang butuh, kita antarkan lagi," paparnya.
