Kapan Maulid Nabi 2026? Cek Jadwal dan Ketentuan Liburnya

Kapan Maulid Nabi 2026? Cek Jadwal dan Ketentuan Liburnya

Urwatul Wutsqaa - detikSulsel
Kamis, 20 Agu 2026 21:30 WIB
Ucapan Selamat Maulid Nabi Muhammad SAW
Foto: Dok. iStock
Makassar -

Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan hari penting bagi umat Islam yang dirayakan setiap tanggal 12 Rabiul Awal kalender Hijriah. Dalam kalender Masehi, perayaan ini jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya.

Mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang disusun oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI, Maulid Nabi SAW 12 Rabiul Awal 1448 H bertepatan dengan Selasa, 25 Agustus 2026 Masehi.

Tanggal tersebut juga sejalan dengan penanggalan yang digunakan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Muhammadiyah dan Kalender Almanak NU sama-sama menetapkan 12 Rabiul Awal 1448 H bertepatan dengan tanggal 25 Agustus 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Maulid Nabi 25 Agustus 2026 Apakah Libur?

Peringatan Maulid Nabi merupakan salah hari besar keagamaan yang ditetapkan sebagai hari libur. Ketentuan tersebut sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026.

Hari libur dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW ini hanya berlangsung 1 hari pada Selasa, 25 Agustus 2026. Libur tersebut juga tidak disertai cuti bersama.

ADVERTISEMENT


Rekomendasi Cuti Maulid Nabi 2026

Meskipun tidak disertai dengan cuti bersama, masyarakat tetap berpeluang menikmati libur panjang pada periode libur Maulid Nabi. Libur Maulid Nabi jatuh pada hari Selasa, dengan mengambil cuti tambahan pada hari Senin 24 Agustus 2026 maka detikers dapat menikmati libur yang tersambung dari akhir pekan sebelumnya.

Dengan mengikuti rekomendasi cuti tersebut, masyarakat bisa menikmati libur selama 4 hari berturut-turut.

Berikut rincian potensi long weekend jika mengikuti rekomendasi cuti:

  • Sabtu, 22 Agustus 2026: Libur akhir pekan
  • Minggu, 23 Agustus 2026: Libur akhir pekan
  • Senin, 24 Agustus 2026: Rekomendasi cuti tahunan
  • Selasa, 25 Agustus 2026: Libur nasional Maulid Nabi Muhammad SAW


Sejarah Singkat Maulid Nabi di Indonesia

Menyadur Jurnal Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri berjudul 'Tradisi Melempar Koin Memperingati Maulid Nabi', perayaan Maulid Nabi di Indonesia dibawa Wali Songo. Perayaan tersebut menjadi salah satu sarana dalam menyebarkan ajaran Islam.

Melalui perayaan Maulid Nabi, diadakan berbagai kegiatan yang menarik masyarakat untuk mengucapkan syahadat sebagai pertanda memeluk Islam. Di wilayah Jawa, perayaan Maulid Nabi disebut 'Syahadatain' atau orang Jawa menyebutnya 'Sekaten'.

Dua kalimat syahadat itu dilambangkan sebagai dua buah gamelan ciptaan Sunan Kalijaga. Sebelum menabuh dua gamelan tersebut, orang-orang yang baru masuk Islam mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dahulu.

Pada zaman kesultanan Mataram, Maulid Nabi disebut Gerebeg Mulud. Peringatan kelahiran Rasulullah SAW ini pun terus berkembang di seluruh wilayah di Indonesia.

Kini peringatan Maulid Nabi lekat dengan tradisi warga Nahdlatul Ulama (NU). Perayaannya dilakukan tanggal 12 Rabiul Awal setiap tahunnya.


Hukum Merayakan Maulid Nabi

Perayaan Maulid sudah menjadi tradisi bagi banyak masyarakat di Indonesia. Meskipun tidak ada anjuran langsung, tradisi ini pada dasarnya tetap dapat dilakukan.

Menyadur laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), hukum merayakan Maulid Nabi adalah boleh dan tidak termasuk bid'ah dhalalah (mengada-ada yang buruk). Memperingati Maulid Nabi hukumnya adalah bid'ah hasanah (sesuatu yang baik).

Rasulullah juga ,memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa sebagai ungkapan rasa syukur. Sebagaimana disebutkan hadits riwayat Muslim berikut:

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ" : فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ ." رواه مسلم

"Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari Senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku". (H.R. Muslim)

Selaras dengan itu, Imam Al Suyuthi menjelaskan tentang hukum Maulid Nabi sebagai berikut:

وَالجَوَابُ عِنْدِيْ أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ المَوْلِدِ الَّذِيْ هُوَ اِجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَأَةُ مَاتَيَسَّرَ مِنَ القُرْآنِ وَرِوَايَةُ الأَخْبَارِ الوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَأِ أَمْرِالنَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مَاوَقَعَ فِيْ مَوْلِدِهِ مِنَ الاَياَتِ ثُمَّ يَمُدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَهُ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَالِكَ مِنَ البِدَعِ الحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِظْهَارِالفَرَحِ وَالِاسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ.

"Menurut saya asal perayaan maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur'an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu tergolong bid'ah hasanah (sesuatu yang baik). Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad saw yang mulia". (Al- Hawi Li al-Fatawa, juz I, h. 222).

Makna Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Menyadur laman Kemenag, peringatan Maulid Nabi Muhammad bukan sekadar mengenang momen kelahiran Rasulullah SAW. Tradisi ini menjadi kesempatan untuk menghayati ajaran, konsepsi, dan syariat yang ia sampaikan kepada umatnya.

Peringatan Maulid Nabi mengajak kembali umat Islam untuk mempertegas komitmen dalam meneladani Rasulullah SAW dan menerapkan ajarannya pada kehidupan sehari-hari.

Makna tersebut juga dapat diwujudkan melalui kepedulian kepada sesama dengan menebarkan rahmat, kasih sayang, kedamaian, dan kesejahteraan. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan melalui berbagai aksi kemanusiaan yang membantu menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih aman dan harmonis.

Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi SAW tidak terbatas pada perayaan seremonial semata. Lebih dari itu, Maulid Nabi juga menjadi pengingat untuk menghadirkan nilai-nilai agama dan meneladani ajaran Rasulullah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.



(urw/urw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads