Tanggal 9 Agustus 2026 Memperingati Apa? Ada Hari Masyarakat Adat Sedunia

Tanggal 9 Agustus 2026 Memperingati Apa? Ada Hari Masyarakat Adat Sedunia

Iswandy Rusli - detikSulsel
Minggu, 09 Agu 2026 06:30 WIB
Kalender Agustus 2026
Foto: detikSulsel
Makassar -

Setiap tanggal di kalender menyimpan momen penting yang diperingati, baik secara nasional di sebuah negara ataupun secara global. Lantas tanggal 9 Agustus 2026 memperingati hari apa saja?

Tanggal 9 Agustus 2026 jatuh pada hari Minggu berdasarkan kalender Masehi. Di tanggal ini tidak ada hari nasional yang diperingati di Indonesia.

Meski demikian, terdapat sejumlah peringatan nasional di negara lain, seperti Peringatan Tragedi Bom Atom Nagasaki di Jepang dan Hari Kemerdekaan Singapura. Selain itu juga terdapat peringatan global, yakni Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Simak daftar dan ulasan hari penting yang diperingati pada 9 Agustus 2026 berikut, sebagaimana disadur dari laman National Today dan laman website resmi PBB.

1. Peringatan Tragedi Bom Atom Nagasaki di Jepang

Setiap tanggal 9 Agustus bangsa Jepang memperingati Tragedi Bom Atom Nagasaki. Hari ini untuk mengenang tragedi bom atom yang menghancurkan kota Nagasaki pada tahun 1945.

ADVERTISEMENT

Pada 6 Agustus 1945, dalam upaya memaksa Jepang menyerah dan mengakhiri Perang Dunia II, pesawat pengebom Amerika Serikat Enola Gay menjatuhkan Little Boy, bom atom pertama yang digunakan dalam perang, di kota Hiroshima, Jepang. Ledakan tersebut menewaskan sekitar 80.000 orang, sementara ribuan lainnya meninggal kemudian akibat paparan radiasi.

Jepang sebelumnya telah menyebabkan banyak korban di pihak Sekutu selama perang, kendati mengalami kehancuran besar setelah tragedi Hiroshima, Negeri Sakura tersebut belum menyerah. Karena itu, Amerika Serikat memutuskan menjatuhkan bom kedua untuk memaksa Jepang menyerah.

Pada 9 Agustus 1945, tiga hari setelah serangan pertama, pesawat pengebom Amerika Serikat Bockscar menjatuhkan bom bernama Fat Man di kota Nagasaki. Bom tersebut memiliki daya ledak yang setara dengan sekitar 22.000 ton TNT. Ledakannya menimbulkan kehancuran besar dan menewaskan sekitar 40.000 orang. Banyak penduduk lainnya meninggal kemudian akibat luka bakar, penyakit akibat radiasi, dan cedera lainnya.

Namun, dampak ledakan di Nagasaki sedikit berkurang karena kota tersebut berada di antara lembah-lembah sempit yang dikelilingi pegunungan serta memiliki jumlah penduduk yang lebih sedikit.

Setelah pengeboman kedua ini, Kaisar Jepang Hirohito akhirnya mengumumkan penyerahan Jepang melalui siaran radio pada 15 Agustus 1945 waktu Jepang.

Pada 2 September 1945, perjanjian penyerahan diri secara resmi ditandatangani di atas kapal perang Amerika Serikat USS Missouri yang berlabuh di Teluk Tokyo, menandai berakhirnya Perang Dunia II. Kedua pengeboman tersebut menyebabkan sekitar 70.000 hingga 135.000 kematian di Hiroshima dan 60.000 hingga 80.000 kematian di Nagasaki.

Karena itu, Hari Peringatan Nagasaki diperingati untuk mengenang para korban pengeboman, mendorong perdamaian, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya mencegah perang dan memahami dampak kehancuran yang dapat ditimbulkan oleh senjata nuklir.

2. Hari Kemerdekaan Singapura

Tidak hanya Jepang, tanggal 9 Agustus juga menandai hari penting kenegaraan di Singapura. Tanggal ini diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Singapura.

Hari ini untuk memperingati kemerdekaan Singapura dari Malaysia pada tahun 1965.

Pada tahun 1963, Sarawak, Sabah, Singapura, dan Federasi Malaya bergabung membentuk Federasi Malaysia. Singapura menjadi bagian dari federasi tersebut karena, sebagai negara yang tidak memiliki banyak sumber daya alam, Singapura membutuhkan akses ke pasar yang lebih luas dan peluang kerja.

Namun, pada tahun 1965, akibat berbagai ketegangan politik dan sosial, Singapura memperoleh kemerdekaan dari Malaysia. Sejak saat itu, kemerdekaan tersebut diperingati setiap tahun.

Tanggal ini ditetapkan sebagai libur nasional. Hari HUT kemerdekaan ini dirayakan dengan berbagai kegiatan, salah satu yang identik adalah "Parade Hari Nasional Singapura" yang biasanya digelar di Marina Bay, Stadion Nasional, atau Padang.

Parade ini melibatkan anggota Angkatan Bersenjata, Kepolisian, Pasukan Pertahanan Sipil, perwakilan partai politik, serta anggota serikat pekerja. Para pelajar dari kelompok berseragam seperti Girl Guides, Pramuka, dan berbagai korps kadet juga turut berpartisipasi. Selain itu, Angkatan Udara Singapura melakukan penerbangan melintasi lokasi parade dengan berbagai pesawat militer.

3. Hari Bergandengan Tangan Nasional di USA

Di Amerika Serikat (USA), tanggal 9 Agustus diperingati sebagai Hari Bergandengan Tangan Nasional. Hari ini menekankan pentingnya sentuhan fisik dalam membangun kasih sayang dan kedekatan dalam berbagai hubungan, baik pasangan, keluarga, maupun teman.

Bergandengan tangan merupakan kebiasaan yang umum di berbagai budaya di seluruh dunia. Bergandengan tangan dapat menjadi tanda kasih sayang, persahabatan, atau solidaritas.

Tindakan ini tidak hanya dilakukan oleh pasangan, tetapi juga dapat menjadi bentuk kasih sayang dalam hubungan keluarga dan pertemanan. Penelitian ilmiah bahkan mengaitkan bergandengan tangan dengan pelepasan hormon yang disebut oksitosin.

Oksitosin adalah hormon peptida yang diproduksi di hipotalamus otak dan dilepaskan ke dalam aliran darah ketika neuron mengalami aktivitas listrik. Hormon ini berperan penting dalam sistem reproduksi perempuan, terutama selama kehamilan dan menyusui.

Namun, oksitosin juga dapat dilepaskan saat melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga dan berpelukan. Ketika dilepaskan, hormon ini dapat memberikan sejumlah efek positif bagi tubuh, seperti membantu mengurangi stres dan menurunkan tingkat kecemasan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of North Carolina semakin menunjukkan manfaat bergandengan tangan. Dalam penelitian tersebut, sejumlah pasangan diminta untuk menyampaikan pidato. Sebelum tampil, sebagian pasangan duduk bersama sambil bergandengan tangan, kemudian berpelukan selama 20 detik. Sementara itu, kelompok lainnya duduk terpisah dari pasangannya sebelum menyampaikan pidato.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang terpisah dari pasangannya memiliki detak jantung lebih tinggi dan tekanan darah yang meningkat hingga dua kali lebih besar dibandingkan pasangan yang bergandengan tangan dan berpelukan. Hal ini menunjukkan bahwa sentuhan seperti bergandengan tangan dapat membantu mengurangi respons stres dan memberikan dampak positif terhadap kondisi emosional seseorang.

4. Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia

Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia diperingati setiap 9 Agustus secara global. Hari ini sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman masyarakat adat di seluruh dunia.

Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia pertama kali diperingati secara resmi pada Agustus 1995. Peringatan ini ditetapkan setelah Resolusi 49/214 disahkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 23 Desember 1994.

Melansir laman resmi PBB, Tanggal 9 Agustus dipilih sebagai tanggal peringatan karena menandai pertemuan pertama Kelompok Kerja PBB tentang Populasi Masyarakat Adat yang berlangsung pada tahun 1982.

Setiap tahun, hari ini diperingati melalui forum pendidikan dan konferensi untuk membahas persoalan sosial yang dihadapi masyarakat adat di seluruh dunia. Masyarakat juga diberikan informasi mengenai berbagai kegiatan dan proyek yang sedang berlangsung maupun yang akan dilaksanakan untuk membantu komunitas masyarakat adat.

Setiap tahun, tema yang diusung menyesuaikan isu-isu penting yang sedang dihadapi masyarakat adat. Adapun tema yang diusung tahun ini adalah "Honouring Indigenous Midwives: Safeguarding Life and Well-being" yang artinya "Menghormati Para Bidan Masyarakat Adat: Menjaga Kehidupan dan Kesejahteraan".

Tema tersebut diusung mengingat peran penting para bidan masyarakat adat dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan komunitasnya. Mereka tidak hanya berperan sebagai tenaga yang membantu proses persalinan, tetapi juga sebagai penjaga dan pewaris pengetahuan tradisional yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Melalui tema ini, masyarakat diajak untuk mengakui dan menghargai pengetahuan serta praktik kesehatan masyarakat adat yang turut berperan dalam menjaga kehidupan. Penghormatan terhadap para bidan masyarakat adat juga menjadi bagian dari upaya mendorong pendekatan pelayanan kesehatan dan kesejahteraan yang lebih sesuai dengan budaya dan kebutuhan komunitas adat, sekaligus memastikan pengetahuan tersebut tetap terjaga dan bermanfaat bagi generasi mendatang.



(alk/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads