Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko meraih penghargaan pada ajang detiktimur Awards 2026. Penghargaan kategori Pemimpin Operasi Kemanusiaan Inspiratif itu diberikan atas kepemimpinannya dalam misi kemanusiaan kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada awal 2026.
Mayjen TNI Bangun Nawoko menerima penghargaan detiktimur Awards di Grand Ballroom Trans Hotel Jakarta, Jumat (7/8/2026) malam. Melalui detiktimur Awards 2026, detikSulsel ingin mengapresiasi berbagai pihak yang menghadirkan inovasi, kepemimpinan, serta program-program berdampak bagi kemajuan masyarakat dan daerah di Indonesia Timur.
Sejumlah kategori penghargaan tahun ini disiapkan untuk mengapresiasi kontribusi di berbagai sektor strategis. Seleksi penerima penghargaan dilakukan melalui tahapan khusus oleh dewan redaksi detikcom dan detikSulsel dengan memperhatikan kriteria inovasi, kreativitas, inspiratif, dampak bagi masyarakat, dan keaktifan di bidang masing-masing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kiprah Pangdam Hasanuddin dalam Misi Kemanusiaan Pesawat Jatuh di Bulusaraung
Mayjen TNI Bangun Nawoko memimpin koordinasi operasi kemanusiaan dalam kecelakaan pesawat ATR 42-500. Operasi tersebut melibatkan Basarnas, TNI AU, Polri, KNKT, pemerintah daerah, serta berbagai unsur relawan.
Begitu pesawat dinyatakan hilang kontak,Bangun Nawoko segera berkoordinasi dengan Basarnas dan TNI AU untuk mempercepat pencarian melalui jalur udara dan darat. Helikopter Caracal TNI AU dikerahkan menyisir area yang diduga menjadi lokasi jatuhnya pesawat hingga akhirnya menemukan titik api dan serpihan di kawasan Gunung Bulusaraung.
Temuan tersebut menjadi acuan bagi tim gabungan untuk mengarahkan penyisiran darat, sementara Pangdam secara berkala memantau perkembangan dan menyampaikan informasi kepada publik. Setelah lokasi kecelakaan teridentifikasi, Kodam XIV/Hasanuddin mengerahkan lima Satuan Setingkat Kompi (SSK) untuk menyisir medan pegunungan yang ekstrem.
Ratusan personel dari berbagai satuan didukung tim kesehatan, komunikasi, topografi, drone pemetaan, serta Tim Elang Yonif 700 Raider yang memiliki kemampuan mountaineering dan vertical rescue. Operasi darat juga diperkuat personel Kostrad, Lanud, Paskhas, Basarnas, dan masyarakat sekitar, dengan ambulans disiagakan di kawasan Leang-leang guna mempercepat proses evakuasi.
Untuk mengatasi kendala blank spot di kawasan pegunungan, Kodam XIV/Hasanuddin membekali personel lapangan dengan perangkat komunikasi satelit Starlink. Dukungan teknologi tersebut memungkinkan koordinasi antara posko komando dan tim di lapangan tetap berlangsung secara real time.
Di tengah cuaca yang kerap berubah dan medan yang sulit, Pangdam juga menunjuk perwira sebagai pengendali lapangan serta memimpin koordinasi langsung dari Posko Aju Desa Tompobulu agar pergerakan personel tetap sinkron dan proses evakuasi berjalan tanpa hambatan birokrasi.
Operasi mulai membuahkan hasil ketika korban pertama ditemukan pada hari kedua pencarian di bawah tebing dekat puncak Bulusaraung. Korban berikutnya ditemukan secara bertahap hingga seluruh 10 korban berhasil dievakuasi pada hari ketujuh. Selain melakukan evakuasi korban, tim gabungan juga mengamankan serpihan pesawat dan sejumlah dokumen untuk mendukung proses investigasi penyebab kecelakaan.
Bagian penting lainnya dalam operasi tersebut adalah pencarian kotak hitam (black box). Personel TNI yang berada di lapangan berhasil menangkap sinyal pinger dan menemukan bagian ekor pesawat tempat black box berada. Setelah dievakuasi ke Posko Tompobulu, black box diserahkan secara resmi oleh Pangdam XIV/Hasanuddin kepada Kepala Basarnas RI untuk diteruskan kepada KNKT sebagai bagian dari proses investigasi.
Dengan ditemukannya seluruh korban dan black box, operasi SAR dinyatakan selesai pada hari ketujuh. Pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta-Makassar tersebut diketahui membawa tujuh kru dan tiga penumpang. Memasuki tahap akhir, tim gabungan melaksanakan operasi bersandi 'Sapu Bersih' untuk memastikan tidak ada barang milik korban maupun komponen pesawat yang tertinggal di lokasi kejadian.
Selama operasi berlangsung, Mayjen TNI Bangun Nawoko terus memantau perkembangan dari Posko Aju dan memastikan koordinasi lintas instansi berjalan optimal. Ia juga memerintahkan personel mendokumentasikan serpihan besar pesawat guna membantu KNKT merekonstruksi sudut benturan (impact angle). Kepemimpinan, koordinasi, dan pengambilan keputusan yang cepat menjadi faktor penting dalam keberhasilan operasi kemanusiaan di Gunung Bulusaraung hingga seluruh rangkaian evakuasi dinyatakan tuntas.
