Lima bupati di Sulawesi Selatan (Sulsel) ramai-ramai dikukuhkan sebagai ketua DPC Gerindra di wilayah masing-masing. Di antaranya, ada yang baru saja bergabung dengan Gerindra.
Para kepala daerah itu dikukuhkan Ketua Harian DPP Gerindra Sufmi Dasco Ahmad di sela-sela kegiatan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) DPD Gerindra Sulsel di UpperHills Convention Hall, Makassar, Selasa (4/8/2026). Selain lima kepala daerah, juga ada dua tokoh politik yang turut dikukuhkan.
"Saudara-saudara sekalian, sebelum saya menyerahkan pataka Partai Gerindra sebagai simbol pengukuhan saudara-saudara menjadi Ketua, Sekretaris, dan Bendahara Dewan Pimpinan Cabang. Bersediakah saudara-saudara menjadi pengurus Partai Gerindra?" kata Dasco.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara serentak, seluruh calon pengurus DPC menyatakan kesediaan dan kesanggupan mereka. Dasco juga meminta kesediaan para pengurus untuk menjalankan roda organisasi, memegang teguh Pancasila dan UUD 1945, serta mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai.
"Apakah saudara-saudara sanggup mengibarkan panji-panji Partai Gerindra di wilayah masing-masing dan memenangkan Partai Gerindra dalam setiap pemilu?" tegas Dasco saat memimpin pengukuhan.
Pengukuhan tersebut ditutup dengan penyerahan pataka secara simbolis dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama antara jajaran pimpinan DPP, DPD Sulawesi Selatan, serta seluruh pengurus DPC yang baru dilantik.
"Saya pikir ini pengurus baru dengan semangat baru di Sulsel, tentunya ini akan terjadi perkembangan-perkembangan yang signifikan," ucap Dasco kepada wartawan usai acara.
Adapun lima kepala daerah yang resmi dikukuhkan sebagai Ketua DPC Gerindra di wilayah masing-masing adalah Bupati Luwu Utara Andi Abdullah Rahim (Gerindra), Bupati Enrekang Muh. Yusuf Ritangga (NasDem), Bupati Wajo Andi Rosman (Gerindra), Bupati Kepulauan Selayar Natsir Ali (Golkar), dan Bupati Sinjai Ratnawati Arif.
Selain jajaran kepala daerah tersebut, pengukuhan ini juga mencakup tokoh politik daerah lainnya, yakni Anggota DPR RI Unru Baso (Gerindra) sebagai Ketua DPC Luwu Timur serta mantan calon Wali Kota Palopo Trisal Tahir sebagai Ketua DPC Palopo.
Bisa Jadi Ancaman bagi Golkar-NasDem
Lima bupati yang menjabat ketua DPC Gerindra di wilayah masing-masing dinilai merupakan modal besar Gerindra sekaligus menjadi ancaman bagi Golkar dan NasDem pada Pemilu 2029.
"Sekarang ini Gerindra mendapatkan momentum di Sulsel. Ini tidak terlepas dari posisi Gerindra di nasional dan saat ini beberapa kepala daerah berlabuh ke Gerindra karena melihat prospeknya. Karena Gerindra itu, saat ini dengan tokoh sentralnya Presiden Prabowo yang masih berpotensi dua periode," ujar pengamat politik UIN Alauddin Makassar Firdaus Muhammad kepada detikSulsel, Rabu (5/8).
Firdaus mengatakan bergabungnya kepala daerah tersebut juga tidak lepas dari kalkulasi politik menghadapi Pemilu 2029. Menurutnya, para kepala daerah melihat peluang politik yang lebih besar bersama Gerindra.
"Jadi tidak hanya menghitung periodenya Prabowo tetapi momentum di Pemilihan 2029 itu menjadi momen politik yang telah diperhitungkan kepala daerah yang pindah ini. Jadi kepala daerah ini bergabung ke Gerindra karena melihat ada potensi prospek politik," paparnya.
Dia menilai target Gerindra meraih 10 kursi DPR RI di Dapil Sulsel cukup realistis. Pasalnya, 5 kepala daerah itu disebut menjadi tambahan kekuatan bagi Gerindra.
"Itu sangat logis dan tentu ada kerja-kerja politik menjadi ukuran. Itu menjadi titik awal dengan bergabungnya 5 kepala daerah sehingga ada tambahan kekuatan dan mesin politik yang baru. Kepala daerah ini memegang mesin pemerintah dan mesin partai tentu ini menjadi mesin politik yang bisa mewujudkan agenda-agenda politik Gerindra," ungkapnya.
Menurutnya, tantangan terbesar justru dihadapi NasDem dan Golkar. NasDem disebut kehilangan figur sentral setelah Rusdi Masse Mappasessu (RMS) yang hijrah ke PSI, sedangkan Golkar mulai kehilangan sebagian kadernya yang berpindah ke Gerindra.
"Sekarang yang menghadapi tantangan serius itu adalah NasDem pasca RMS hengkang ke PSI. sehingga target Gerindra menjadi logis, sementara Golkar juga masih mencari momen politik namun soalnya adalah ada kader Golkar yang berpindah ke Gerindra yang menjadi sedikit banyak memengaruhi peta politik," urai Firdaus.
Hal senada disampaikan Pengamat Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Ali Armunanto yang juga menilai Gerindra kini menjadi ancaman serius bagi partai-partai besar di Sulsel. Menurutnya, masuknya lima kepala daerah akan memperkuat jaringan politik Gerindra.
"Iya, saya kira dengan posisi Gerindra sekarang dan target-targetnya itu, termaksud hal-hal yang berhasil mereka realisasikan, saya kira memang akan menjadi ancaman buat partai lain," ujar Ali.
Ali mengatakan kepala daerah tidak hanya berpindah seorang diri, tetapi juga membawa jaringan politik yang selama ini menjadi basis dukungannya. Apalagi dua kepala daerah di antaranya yang pindah yakni Yusuf Ritangnga yang merupakan kader NasDem.
"Saya kira itu akan jadi ancaman khususnya buat Golkar dan NasDem karena saya kira misalnya supplier yang selama ini menjadi kantongnya Golkar begitu, tentu dengan berpindahnya kepala daerahnya ke Gerindra tentu dia tidak hanya pindah saja tapi membawa gerbong-gerbong politiknya begitu juga bupati-bupati yang lainnya," ujarnya.
Dia menyebut Gerindra bahkan masih berpotensi menambah kekuatan jika berhasil menarik kepala daerah lain bergabung. Menurutnya, kepala daerah memiliki jaringan politik dan sumber daya yang dapat dimobilisasi untuk kepentingan partai.
"Saya kira ke depan ini mungkin memang masih ada yang mereka target saya dengar juga Gerindra sudah mencoba mendekati Munafri Arifuddin pasca Musda Golkar Sulsel dan kalau itu berhasil kan target-target itu kemudian menjadi realistis," ucapnya.
"Artinya itu bisa diwujudkan karena kita tahu bahwa kepala daerah tidak hanya sekedar figur tapi dia juga political network dan juga punya akses terhadap sumber-sumber daya yang bisa mobilisasi untuk merealisasikan target Gerindra itu," jelasnya.
Sementara NasDem dan Golkar, lanjut Ali, sama-sama menghadapi tantangan internal. Menurutnya, polemik Musda Golkar Sulsel dan hengkangnya figur sentral NasDem seperti RMS akan membuat kedua partai itu harus bekerja lebih keras menjaga soliditas.
"Saya kira memang ini akan menjadi ancaman serius buat Golkar dan NasDem, apalagi kita tahu bahwa di Musda Golkar Sulsel kemarin banyak polemik-polemik yang terjadi," pungkasnya.
Simak Video "Melihat Peti Mati Berjejer dan Tengkorak di Dalam Goa Londa, Tana Toraja "
[Gambas:Video 20detik] (asm/asm)
