Renungan Harian Katolik Senin 3 Agustus 2026: Berlayar Bersama Tuhan

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Senin, 03 Agu 2026 09:30 WIB
Ilustrasi renungan harian Katolik (Foto: pngfree)
Makassar -

Renungan Harian Katolik menjadi salah satu sarana bagi umat untuk meluangkan waktu sejenak di tengah kesibukan sehari-hari. Melalui bacaan Kitab Suci dan permenungan, setiap orang diajak semakin peka melihat penyertaan Tuhan dalam berbagai peristiwa, baik saat menghadapi sukacita maupun tantangan.

Pada Senin, 3 Agustus 2026, renungan harian kembali mengundang umat untuk membuka hati terhadap firman Tuhan yang memberi kekuatan, penghiburan, dan arah dalam setiap langkah kehidupan. Dengan sikap hati yang terbuka, semoga Sabda Tuhan tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi juga menginspirasi tindakan nyata yang membawa damai, kasih, dan harapan bagi sesama.

Artikel ini menyajikan Renungan Harian Katolik Senin, 3 Agustus 2026 yang dilengkapi dengan bacaan liturgi dan teks Mazmur. Yuk, simak selengkapnya!

Bacaan Harian Katolik Hari Ini 3 Agustus 2026

Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:

Bacaan I: Yer 28:1-17

Dalam tahun itu juga, pada permulaan pemerintahan Zedekia, raja Yehuda, dalam bulan yang kelima tahun yang keempat, berkatalah nabi Hananya bin Azur yang berasal dari Gibeon itu kepadaku di rumah TUHAN, di depan mata imam-imam dan seluruh rakyat:

"Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu.

Dalam dua tahun ini Aku akan mengembalikan ke tempat ini segala perkakas rumah TUHAN yang telah diambil dari tempat ini oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang diangkutnya ke Babel.

Juga Yekhonya bin Yoyakim, raja Yehuda, beserta semua orang buangan dari Yehuda yang dibawa ke Babel akan Kukembalikan ke tempat ini, demikianlah firman TUHAN! Sungguh, Aku akan mematahkan kuk raja Babel itu!"

Lalu berkatalah nabi Yeremia kepada nabi Hananya di depan mata imam-imam dan di depan mata seluruh rakyat yang berdiri di rumah TUHAN itu,

kata nabi Yeremia: "Amin! Moga-moga TUHAN berbuat demikian! Moga-moga TUHAN menepati perkataan-perkataan yang kaunubuatkan itu dengan dikembalikannya perkakas-perkakas rumah TUHAN dan semua orang buangan itu dari Babel ke tempat ini.

Hanya, dengarkanlah hendaknya perkataan yang akan kukatakan ke telingamu dan ke telinga seluruh rakyat ini:

Nabi-nabi yang ada sebelum aku dan sebelum engkau dari dahulu kala telah bernubuat kepada banyak negeri dan terhadap kerajaan-kerajaan yang besar tentang perang dan malapetaka dan penyakit sampar.

Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu benar-benar diutus oleh TUHAN."

Kemudian nabi Hananya mengambil gandar itu dari pada tengkuk nabi Yeremia, lalu mematahkannya.

Berkatalah Hananya di depan mata seluruh rakyat itu: "Beginilah firman TUHAN: Dalam dua tahun ini begitu jugalah Aku akan mematahkan kuk Nebukadnezar, raja Babel itu, dari pada tengkuk segala bangsa!" Tetapi pergilah nabi Yeremia dari sana.

Maka sesudah nabi Hananya mematahkan gandar dari pada tengkuk nabi Yeremia, datanglah firman TUHAN kepada Yeremia:

"Pergilah mengatakan kepada Hananya: Beginilah firman TUHAN: Engkau telah mematahkan gandar kayu, tetapi Aku akan membuat gandar besi sebagai gantinya!

Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Kuk besi akan Kutaruh ke atas tengkuk segala bangsa ini, sehingga mereka takluk kepada Nebukadnezar, raja Babel; sungguh, mereka akan takluk kepadanya! Malahan binatang-binatang di padang telah Kuserahkan kepadanya."

Lalu berkatalah nabi Yeremia kepada nabi Hananya: "Dengarkanlah, hai Hananya! TUHAN tidak mengutus engkau, tetapi engkau telah membuat bangsa ini percaya kepada dusta.

Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku menyuruh engkau pergi dari muka bumi. Tahun ini juga engkau akan mati, sebab engkau telah mengajak murtad terhadap TUHAN."

Maka matilah nabi Hananya dalam tahun itu juga, pada bulan yang ketujuh.

Mazmur Tanggapan: Mzm 119:29.43.79.80.95.102

Jauhkanlah jalan dusta dari padaku, dan karuniakanlah aku Taurat-Mu.

Janganlah sekali-kali mencabut firman kebenaran dari mulutku, sebab aku berharap kepada hukum-hukum-Mu.

Biarlah berbalik kepadaku orang-orang yang takut kepada-Mu, orang-orang yang tahu peringatan-peringatan-Mu.

Biarlah hatiku tulus dalam ketetapan-ketetapan-Mu, supaya jangan aku mendapat malu.

Orang-orang fasik menantikan aku untuk membinasakan aku; tetapi aku hendak memperhatikan peringatan-peringatan-Mu.

Aku tidak menyimpang dari hukum-hukum-Mu, sebab Engkaulah yang mengajar aku.

Bacaan Injil: Mat 14:22-36

Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.

Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.

Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.

Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.

Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut.

Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"

Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air."

Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.

Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"

Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.

Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah."

Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret.

Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya.

Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

Renungan Hari Ini 3 Agustus 2026: Berlayar Bersama Tuhan

Tetapi, ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak, "Tuhan, tolonglah aku!" (Mat. 14:30)

Setelah memberi makan lima ribu orang, Yesus mendesak murid-murid untuk naik ke atas perahu dan mendahului-Nya ke seberang. Orang banyak itu disuruhnya pulang dan Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri.

Petrus dan kawan-kawan sudah berada dalam perahu beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Menjelang subuh, Yesus datang kepada mereka dan berjalan di atas air.

Karena gelombang dan cuaca gelap, mereka tidak dapat mengenali apa atau siapa 'sesuatu' yang berjalan di atas air yang mendatangi mereka. Dalam situasi panik memikirkan perahu yang diombang-ambingkan angin sakal, mereka berteriak karena ketakutan: "Hantu!" Yesus segera memperkenalkan diri kepada mereka, "Ini Aku, jangan takut." (ego eimi).

Petrus, murid paling sembrono hendak meyakinkan diri, "Tuhan, apabila itu Engkau, suruhlah aku berjalan di atas air." Jawab Yesus: "Datanglah!" Petrus berjalan di atas air mendapatkan Yesus.

Selama ia memusatkan perhatian pada Yesus, Petrus dapat berjalan di atas air. Tetapi ketika dirasakannya tiupan angin, Petrus menjadi takut dan mulai tenggelam.

Petrus hampir tenggelam karena mengalihkan perhatiannya dari pada Yesus dan lebih kepada angin yang menakutkan. Berlayar dalam bahtera rumah tangga, tanpa mengundang Yesus ke dalam bahtera sejak awal perjalanan adalah seperti berlayar di tengah badai kehidupan tanpa kompas.

Kita tidak akan pernah mengetahui apa yang akan berada di depan, di belakang atau di samping kita dalam pelayaran kıta.

Sejak kita menandatangani surat perkawinan, hidup kita sudah ditentukan oleh negara dan Gereja. Selama lima tahun pertama, hidup perkawinan biasanya tenang tanpa gelombang dan akan terasa 'fine-fine saja'.

Ini seperti saat murid-murid berada dalam perahu tidak jauh dari pantai. Menjelang subuh ketika diterpa angin sakal seperti sekitar 10 tahun usia perkawinan, bahtera sudah semakin jauh dari pantai.

Bila kita tidak mengundang Yesus dalam perjalanan bahtera rumah tangga dari awal, angin sakal akan menenggelamkan bahtera perkawinan kita. Belajar dari pengalaman Petrus dan murid-murid, marilah kita selalu menyertakan dan memusatkan perhatian kita kepada Tuhan Yesus dalam bahtera rumah tangga kita.

Sumber: Buku Renungan Tiga Titik
Oleh: Kayus Mulia @3titikvertikal

Doa Penutup

Ya Yesus yang baik, peganglah kemudi dan tentukanlah arah perjalanan rumah tangga dalam bahtera perkawinan kami, supaya ke mana pun bahtera rumah tangga kami kau arahkan, kami akan tiba di tempat tujuan dengan selamat. Amin.

Demikian renungan harian Katolik Senin, 3Agustus 2026 lengkap bacaan dan teks Mazmur Tanggapan. Tuhan memberkati!



Simak Video "Video: 1 Tahun Wafatnya Paus Fransiskus, Paus Leo Beri Penghormatan"

(alk/alk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork
InsertLive
Kamis, 01 Jan 1970 07:00 WIB