Setiap tanggal dalam kalender menyimpan beragam peringatan, termasuk tanggal 29 Juli. Tanggal ini menjadi istimewa karena menandai peringatan sejumlah momen penting dengan latar belakang dan makna yang berbeda-beda.
Di skala internasional, tanggal 29 Juli diperingati sebagai Hari Harimau Internasional dan Hari Hujan. Selain itu, terdapat pula peringatan Hari Wilayah Wallis dan Futuna dan peringatan Asalha Puja atau Asahna Bucha bagi umat Buddha yang diperingati di sejumlah negara.
Seperti apa kisah dan makna di balik setiap peringatan-peringatan tersebut? Simak berikut ulasan selengkapnya yang dirangkum dari laman National Today!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari Harimau Internasional
Hari Harimau Internasional diperingati setiap 29 Juli sebagai momentum untuk meningkatkan kepedulian masyarakat Dunia terhadap nasib harimau liar. Peringatan tersebut sekaligus menjadi kampanye untuk mengajak masyarakat mendukung berbagai upaya konservasi demi menjaga kelangsungan hidup serta habitat alami satwa tersebut.
Salah satu tokoh penting dalam peringatan ini adalah Dr. George Schaller. Lahir pada 1933, ia dikenal sebagai ahli biologi lapangan yang memberi kontribusi besar bagi konservasi harimau.
Pada era 1960-an Dr. George Schaller melakukan penelitian di Taman Nasional Kanha, India dan menghasilkan temuan penting mengenai perilaku dan ekologi harimau. Temuan tersebut kemudian menjadi pijakan strategi dalam pelestarian harimau.
Hari Harimau Internasional pertama kali diperingati pada 2010 setelah terungkap sebanyak 97 persen populasi harimau liar di dunia telah hilang dalam kurun satu abad. Diperkirakan jumlah harimau yang tersisa saat itu hanya sekitar 3.000 ekor. Kondisi itulah yang kemudian mendorong lahirnya kampanye global untuk menghentikan penurunan populasi mereka.
Ancaman terhadap penurunan populasi harimau berasal dari berbagai faktor, mulai dari hilangnya habitat, perubahan iklim, hingga perburuan liar dan perdagangan ilegal. Oleh karena itu, peringatan ini tidak hanya berfokus pada penyelamatan spesies harimau, tetapi juga perlindungan serta perluasan kawasan hutan yang menjadi tempat hidup mereka.
Sejumlah organisasi internasional, seperti WWF, IFAW, dan Smithsonian Institution, turut memperingati hari tersebut melalui berbagai kampanye konservasi.
Hari Hujan
Peringatan internasional lainnya yang jatuh pada tanggal 29 Juli adalah Hari Hujan. Hari istimewa ini diciptakan sebagai bentuk apresiasi terhadap peran hujan dalam menopang kehidupan.
Selain perannya yang krusial dalam keberlangsungan hidup dan menjaga keseimbangan ekosistem, hujan juga kerap menghadirkan suasana yang menenangkan.
Peringatan Hari Hujan kerap dikaitkan dengan sosok Luke Howard, ahli kimia sekaligus meteorolog amatir asal Inggris yang dijuluki sebagai "bapak meteorologi". Pada 1802, dia memperkenalkan sistem klasifikasi awan melalui karyanya On the Modifications of Clouds, yang melahirkan istilah cumulus, stratus, dan cirrus yang masih digunakan hingga kini.
Sejarah Hari Hujan sendiri diperkirakan bermula pada awal abad ke-19. Sosok penggagas hari tersebut adalah William Allison, seorang apoteker di Waynesburg, Pennsylvania, Amerika Serikat. Ide tersebut bermula Ketika dia menyadari bahwa hujan kerap turun setiap tanggal 29 Juli di daerahnya.
Tradisi tersebut berlanjut ketika Albert Allison mulai mencatat curah hujan pada tanggal yang sama sejak dekade 1920-an. Catatan tersebut berhasil menarik perhatian media lokal dan akhirnya dikenal lebih luas setelah wartawan John O'Hara mengangkat kisah tersebut ke berbagai surat kabar pada 1930-an.
Saat ini, Hari Hujan tidak hanya dikenal di Waynesburg, tetapi juga diperingati di berbagai tempat di seluruh Dunia dengan beragam bentuk perayaan. Banyak orang memanfaatkan momen ini untuk mempelajari pentingnya hujan bagi kehidupan, meningkatkan kesadaran akan konservasi air, atau sekadar menikmati suasana yang hadir setelah hujan turun.
Asalha Puja
Tanggal 29 Juli juga menandai perinatan Asalha Puja, Hari raya umat Buddha yang juga dikenal sebagai Asahna Bucha atau Hari Dhamma. Penamaan hari raya tersebut bergantung pada tradisi dan negara yang merayakannya.
Asalha Puja atau Asahna Bucha diperingati untuk mengenang khotbah pertama Sang Buddha setelah mencapai pencerahan. Tokoh sentral dalam peringatan ini adalah Siddhartha Gautama atau Sang Buddha. Dalam khotbah pertamanya kepada lima pertapa di Taman Rusa Isipatana, Sarnath, ia menyampaikan ajaran Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan, yang menjadi landasan utama ajaran Buddha.
Hari Raya Asalha Puja diperingati setiap hari purnama pada bulan kedelapan kalender lunar, umumnya jatuh pada Juli dalam kalender Masehi. Selain menandai dimulainya penyebaran ajaran Dhamma, hari suci ini juga dikenang sebagai awal berdirinya Sangha, komunitas pertama para bhikkhu setelah salah seorang pendengar khotbah Buddha memutuskan menjadi muridnya.
Asalha Puja menjadi titik awal penyebaran ajaran Buddha kepada masyarakat sehingga memiliki makna yang mendalam bagi umat Buddha. Saat ini, Asalha Puja diperingati di berbagai negara dengan tradisi yang beragam.
Thailand menjadi salah satu negara yang merayakannya secara besar-besaran dengan sebutan Asahna Bucha. Sementara di Indonesia, Sri Lanka, Kamboja, Laos, dan Myanmar, hari suci ini juga diperingati melalui ibadah di vihara, meditasi, mendengarkan khotbah Dhamma, hingga melakukan berbagai kebajikan.
Hari Wilayah Wallis dan Futuna
Tanggal 29 Juli juga menjadi hari penting bagi masyarakat di Kepulauan Wallis dan Futuna, sebuah wilayah yang berada di Pasifik Selatan. Hari ini memndai perubahan statusnya menjadi Wilayah Seberang Laut Prancis, sebuah tonggak yang menandai babak baru dalam perjalanan sejarahnya.
Perjalanan tersebut tidak lepas dari sosok Ratu Amelia Tokagahahau Aliki, penguasa terakhir Kerajaan Uvea sebelum berada di bawah perlindungan Prancis. Pada 1887, ia menandatangani perjanjian yang menjadikan Pulau Wallis sebagai protektorat Prancis, sekaligus membuka fase baru dalam hubungan antara pemerintahan tradisional dan kekuatan kolonial Eropa.
Meski baru resmi menjadi wilayah seberang laut pada 1961, sejarah Wallis dan Futuna sudah dimulai jauh sebelumnya. Mulanya kepulauan tersebut dihuni masyarakat Polinesia sebelum akhirnya ditemukan pelaut Belanda pada 1616. Nama "Wallis" diberikan oleh penjelajah Inggris, Samuel Wallis, yang singgah di kawasan tersebut pada 1767.
Pengaruh Prancis di kepulauan ini semakin menguat pada akhir abad ke-19 hingga akhirnya wilayah tersebut dicaplok pada 1917. Selama beberapa dekade berikutnya, Wallis dan Futuna berada di bawah administrasi Kaledonia Baru.
Setelah referendum pada 1959, mayoritas penduduk memilih bergabung sebagai wilayah seberang laut Prancis, dan keputusan itu resmi berlaku pada 29 Juli 1961. Hingga kini, hubungan Wallis dan Futuna dengan Prancis tetap terjalin erat.
Ketika Wallis dan Futuna dilanda topan besar pada 1998, Prancis memberikan dukungan dengan membantu proses pemulihan wilayah tersebut. Kedua pihak juga memperkuat kerja sama melalui perjanjian bilateral yang ditandatangani pada 2003 untuk mengatur hubungan administratif dan berbagai isu yang berkaitan dengan masyarakat di wilayah tersebut.
Nah detikers, demikianlah ulasan mengenai daftar peringatan penting dan menarik yang jatuh pada tanggal 29 Juli. Semoga bermanfaat!
