Tidak jarang, tanggal-tanggal tertentu memiliki nilai historis atau sosial yang diperingati secara nasional maupun internasional. Lantas tanggal 25 Juli memperingati apa?
Tanggal 25 Juli 2025 jatuh pada hari Sabtu. Di hari ini tidak ada momen penting yang diperingati di Indonesia.
Meski demikian, terdapat peringatan nasional di negara lainnya. Selain itu ada juga momen yang diperingati secara global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penasaran dengan momen yang diperingati setiap 25 Juli?
Nah, dalam artikel ini detikSulsel menyajikan daftar peringatan yang jatuh pada 25 Juli, lengkap dengan ulasannya. Yuk simak selengkapnya untuk memahami makna dan pesan yang terkandung di balik tanggal tersebut.
Hari Pencegahan Tenggelam Sedunia
Tanggal 25 Juli diperingati sebagai Hari Pencegahan Tenggelam Sedunia atau World Drowning Prevention Day. Hari peringatan ini ditetapkan oleh Majelis Umum Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Resolusi A/RES/75/273 pada April 2021 tentang Global Drowning Prevention (Pencegahan Tenggelam Global).
melansir laman resmi World Health Organization (WHO), Peringatan global bertujuan untuk meningkatkan kesadaran terhadap dampak tragis dan mendalam akibat tenggelam bagi keluarga dan masyarakat. Peringatan ini juga sekaligus mendorong penerapan berbagai solusi penyelamatan jiwa untuk mencegahnya.
Diperkirakan 236.000 orang meninggal akibat tenggelam setiap tahun, dan tenggelam termasuk dalam sepuluh penyebab utama kematian pada anak usia 5 hingga 14 tahun. Lebih dari 90% kematian akibat tenggelam terjadi di sungai, danau, sumur, tempat penampungan air rumah tangga, serta kolam renang di negara berpendapatan rendah dan menengah. Anak-anak dan remaja yang tinggal di wilayah pedesaan merupakan kelompok yang paling terdampak.
Pada peringatan tahun ini, tema Hari Pencegahan Tenggelam Sedunia 2026 berfokus pada upaya mempromosikan Strategi Global Pencegahan Tenggelam (Global Strategy for Drowning Prevention). Temayang diusung adalah "Unite to Turn the Tide" atau "Bersatu untuk Membalikkan Keadaan".
Melalui Strategi Global Pencegahan Tenggelam, seluruh sektor dan seluruh lapisan masyarakat diajak untuk mencapai satu tujuan bersama yakni: Bersatu untuk mengurangi angka kematian akibat tenggelam sebesar 35% pada tahun 2035.
Mewujudkan target tersebut bergantung pada kontribusi setiap orang. Setiap individu, di setiap tempat, dan dalam setiap situasi memiliki peran penting dalam mencegah tenggelam dan menyelamatkan nyawa.
Hari Internasional Perempuan dan Anak Perempuan Keturunan Afrika
Tanggal 25 Juli juga diperingati sebagai Hari Internasional untuk Perempuan dan Anak Perempuan Keturunan Afrika. Hari peringatan ini juga ditetapkan oleh PBB.
Melansir laman resmi PBB, perempuan dan anak perempuan keturunan Afrika masih menghadapi berbagai bentuk diskriminasi yang saling beririsan. Kondisi tersebut tercermin dari tingginya angka kemiskinan, hambatan dalam mengakses pendidikan, keterbatasan memperoleh layanan kesehatan yang berkualitas, serta minimnya keterwakilan dalam proses pengambilan keputusan.
Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, mereka tetap menunjukkan ketangguhan dan memberikan kontribusi besar bagi masyarakat. Mulai dari gerakan akar rumput hingga berbagai bidang profesi, peran mereka turut membentuk komunitas, perekonomian, dan kebudayaan. Mereka bukan hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi penggeraknya.
Urgensi untuk mengatasi ketidaksetaraan sistemik ini PBB menetapkan tanggal 25 Juli sebagai Hari untuk Menghormati Perempuan dan Anak Perempuan Keturunan Afrika melalui Resolusi Majelis Umum PBB A/RES/78/323. Resolusi tersebut menyerukan tindakan dan akuntabilitas global yang diperbarui untuk menghilangkan rasisme, diskriminasi rasial, xenofobia, dan intoleransi terkait, khususnya yang memengaruhi perempuan dan anak perempuan keturunan Afrika.
Hari Internasional untuk Kesejahteraan Peradilan
PBB juga menetapkan 25 Juli sebagai Hari Internasional untuk Kesejahteraan Peradilan (International Day for Judicial Well-being). Peringatan ini ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Maret 2025 melalui Resolusi A/RES/79/266.
Penetapan hari internasional tersebut mengadopsi Deklarasi Nauru tentang Kesejahteraan Peradilan, yang menegaskan bahwa kesehatan fisik dan mental serta kesejahteraan para hakim merupakan faktor penting dalam menjaga integritas, independensi, dan kualitas sistem peradilan.
Selain itu, pada Resolusi Majelis Umum PBB juga mengaitkan kesejahteraan peradilan dengan pelaksanaan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Menentang Korupsi (UNCAC), dengan menekankan bahwa kesejahteraan aparat peradilan berperan dalam mendukung pemberantasan korupsi, memperluas akses terhadap keadilan, dan mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan.
Dalam penjelasannya, PBB menyebutkan bahwa hakim dan pejabat peradilan lainnya, termasuk magistrat, komisioner pengadilan, hingga arbiter, memikul tanggung jawab besar dalam menegakkan supremasi hukum, melindungi hak asasi manusia, serta memastikan proses peradilan berlangsung secara independen, imparsial, dan adil.
Namun, di balik tugas tersebut, banyak hakim menghadapi tekanan yang tidak terlihat. Jam kerja yang panjang, beban perkara yang tinggi, isolasi, serta tekanan emosional dalam mengambil keputusan dapat berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan mereka. Kondisi ini pada akhirnya berpotensi memengaruhi kualitas putusan dan pelayanan peradilan kepada masyarakat.
PBB juga menyoroti bahwa korupsi lebih mudah berkembang ketika integritas lembaga peradilan melemah. Lembaga peradilan yang berada di bawah tekanan lebih rentan terhadap pengaruh eksternal, konflik kepentingan, serta menurunnya kepercayaan publik. Karena itu, Pasal 11 UNCAC menyerukan langkah-langkah untuk menjaga independensi dan integritas lembaga peradilan.
Menurut PBB, kesejahteraan peradilan merupakan prasyarat bagi terwujudnya peradilan yang independen, berintegritas, dan efektif. Hakim yang memperoleh dukungan yang memadai akan lebih mampu menolak intervensi yang tidak semestinya, menjunjung tinggi standar etika, serta memberikan keadilan secara profesional dan tidak memihak.
Hari Aneksasi Guanacaste
Hari Aneksasi Guanacaste merupakan peringatan nasional yang dirayakan setiap tanggal 25 Juli di wilayah tersebut. Melansir laman National Today, wilayah Guanacaste dahulu merupakan bagian dari Nikaragua.
Saat itu Nikaragua terlibat dalam sejumlah perang saudara, sehingga masyarakat Guanacaste mengajukan permohonan agar wilayah mereka dianeksasi ke Kosta Rika. Permohonan tersebut kemudian disetujui oleh Federasi Amerika Tengah, sehingga Guanacaste resmi menjadi bagian dari Kosta Rika.
Hari Aneksasi Guanacaste ini diperingati untuk mengenang keputusan bersejarah pada 25 Juli 1824 tersebut. Sejak saat itu, masyarakat Guanacaste memiliki hubungan yang erat dengan Kosta Rika dan bangga menjadi bagian dari sejarah negara tersebut. Hal ini tercermin dalam slogan populer "de la Patria por Nuestra Voluntad", yang berarti "menjadi bagian dari tanah air atas kehendak kami sendiri".
Aneksasi yang dilakukan atas dasar pilihan ini menjadi simbol penghormatan terhadap nilai-nilai demokrasi yang dijunjung tinggi oleh Kosta Rika. Hari Aneksasi Guanacaste diperingati sebagai hari libur nasional dan diramaikan dengan berbagai kegiatan perayaan, terutama di Provinsi Guanacaste. Pada hari tersebut, bank, kantor pemerintahan, kantor pos, serta berbagai tempat usaha tutup, mencerminkan pentingnya peringatan ini bagi masyarakat Kosta Rika.
Peringatan Penyerbuan Moncada
Peringatan Penyerbuan Moncada yang berlangsung pada 25 Juli merupakan momen untuk mengenang serangan bersejarah terhadap Barak Moncada pada 1953. Peristiwa bersejarah merupakan pemicu Revolusi Kuba.
Melansir laman National Today, berawal pada dini hari 26 Juli 1953, Fidel Castro memimpin 136 pejuang gerilya yang telah dilatih secara khusus untuk menyerang Barak Moncada. Serangan tersebut dilakukan setelah sekitar satu tahun perencanaan dan dipicu oleh kudeta militer yang dilakukan diktator Kuba, Fulgencio Batista.
Namun, keterbatasan persenjataan serta kendala komunikasi membuat serangan itu gagal. Meski demikian, peristiwa tersebut mengirimkan pesan penting kepada kalangan elite bahwa Castro dan kelompok pemberontaknya telah mengguncang kekuasaan yang ada. Kelompok tersebut terdiri dari berbagai latar belakang, termasuk warga keturunan Afrika, orang Kuba, dan warga ras campuran, dengan rata-rata usia sekitar 26 tahun.
Dampak setelah penyerbuan menjadi pengalaman pahit bagi para pejuang karena lebih dari selusin anggota mereka dieksekusi. Sejumlah penyintas, termasuk Castro, kemudian ditangkap dan dipenjara.
Meskipun pengadilan yang berlangsung selama berbulan-bulan menyatakan Castro bersalah, pidatonya yang terkenal, "History Will Absolve Me" (Sejarah Akan Membebaskanku), menjadi sorotan di seluruh Kuba dan membangkitkan semangat nasionalisme di kalangan masyarakat. Peristiwa itu turut mengangkat Castro sebagai tokoh nasional.
Ketika kekuasaan Batista mulai melemah, sang diktator berupaya memperbaiki citranya dengan membebaskan Castro dan para pemberontak lainnya pada 1955. Langkah tersebut menjadi awal perjalanan Castro yang kemudian membawanya menjadi pemimpin Kuba.
Peringatan Penyerbuan Moncada, yang juga dikaitkan dengan Gerakan 26 Juli, oleh Castro dipandang sebagai langkah awal untuk menggulingkan pemerintahan diktator yang represif serta mengakhiri pengaruh asing terhadap kepemimpinan Kuba. Peringatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian Hari Revolusi Nasional Kuba yang berlangsung selama tiga hari, yakni dari 25 hingga 27 Juli.
