Rabu Wekasan atau Rebo Wekasan adalah hari Rabu terakhir pada bulan Safar dalam penanggalan Hijriah. Terdapat sejumlah mitos yang diyakini oleh sejumlah masyarakat Nusantara terkait hari tersebut.
Melansir laman Kementerian Agama RI Jawa Barat, asal penamaan Rabu Wekasan yakni dari "Rabu" yang merupakan nama hari dan "Wekasan" yang artinya pungkasan atau akhir. Pemberian nama atau istilah Rabu Wekasan ini berasal dari ilham orang saleh, bukan berasal dari Rasulullah.
Kapan Rabu Wekasan 2026?
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama RI, Rabu terakhir bulan Safar tahun ini bertepatan 29 Safar 1448 H. Jika dikonversi ke penanggalan Masehi, Rabu Wekasan tahun ini jatuh pada tanggal 12 Agustus 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun berdasarkan pasaran Jawa, maka tradisi Rabu Wekasan jatuh pada Rabu Legi. Mengingat pergantian hari pada kalender Hijriah dan Jawa terjadi pada waktu Magrib, maka malam Rabu Wekasan jatuh pada Selasa 11 Agustus 2026 setelah waktu Maghrib.
Berikut rinciannya:
- Malam Rabu Wekasan: Selasa Kliwon, 11 Agustus 2026 (setelah waktu Magrib)
- Rabu Wekasan: Rabu Legi, 12 Agustus 2026
Mitos Rabu Wekasan
Sebagaimana telah disebutkan, Rabu Wekasan identik dengan sejumlah mitos yang dipercaya oleh sebagian masyarakat Nusantara. Melansir laman Baznas, salah satu mitos dan kepercayaan mengenai hari ini adalah dianggap sebagai hari yang penuh dengan bencana atau musibah.
Beberapa kalangan percaya bahwa pada hari ini, Allah menurunkan berbagai macam cobaan atau ujian kepada umat manusia. Oleh karena itu, banyak orang yang merasa perlu melakukan berbagai amalan khusus untuk menolak bala atau menghindari kesulitan yang diyakini turun pada hari tersebut.
Kepercayaan ini berasal dari cerita-cerita yang berkembang di masyarakat, namun tidak semua kalangan Islam sepakat dengan pandangan ini. Sebagian ulama dan cendekiawan muslim berpendapat bahwa keyakinan ini tidak memiliki dasar yang kuat dalam syariat Islam dan lebih merupakan hasil dari kepercayaan lokal yang bercampur dengan budaya.
Di sisi lain, adapula kepercayaan bahwa Rabu Wekasan merupakan hari penuh keberkahan. Kalangan ini meyakini bahwa Rabu terakhir bulan Safar adalah hari yang penuh keberkahan, sehingga melakukan amalan-amalan tertentu.
Tradisi Rabu Wekasan di Berbagai Daerah
Tradisi Rabu Wekasan tumbuh melalui akar mitos "hari nahas" yang identik dengan hari tersebut. Sehingga tradisi Rabu Wekasan ini dilakukan sebagai wujud untuk menjauhkan diri dari segala macam bala dan musibah.
Sejumlah daerah di Indonesia memiliki tradisi Rabu Wekasan yang berbeda-beda. Berikut di antaranya sebagaimana disadur dari laman STAI Senori Tuban:
- Yogyakarta
Rebo wekasan dikenal oleh masyarakat Yogyakarta dengan sebutan 'Rebo Pungkasan'. Puncak acara rebo wekasan biasanya dilakukan pada malam Rabu dengan mengarak lemper raksasa yang selanjutnya dibagi-bagikan kepada para pengunjung. - Aceh
Masyarakat Aceh Barat dan Aceh Selatan menyebut Rabu Wekasan dengan 'Rabu Abeh' yang gunanya untuk menolak bala. Tradisi ini awalnya dilakukan dengan memotong kerbau dan membuang bagian kepalanya ke laut. Akan tetapi, saat ini tradisi Rabu Abeh diganti dengan pembacaan shalawat, dzikir dan doa bersama. - Banten
Tradisi Dudus atau tradisi mandi kembang tujuh rupa yang sudah ada sejak masa Kesultanan Banten. Tradisi ini dilakukan dengan diikuti tradisi sedekah Bumi pada malam Rabu terakhir bulan Safar. Sebelum tradisi Dudus dilaksanakan, masyarakat terlebih dahulu melakukan shalat dan riungan. Tradisi ini dilakukan dengan tujuan antara lain agar diberi umur panjang, kesehatan, banyak rezeki, terhindar dari bahaya, dan sebagainya. - Banyuwangi
Masyarakat Banyuwangi merayakan Rabu Wekasan dengan tradisi Petik Laut. Petik Laut dilaksanakan dengan cara menyelenggarakan doa bersama yang diikuti dengan ritual melarung sesaji yang diletakkan dalam sebuah kapal kecil ke tengah laut. Tradisi tersebut dipercaya sebagai cara untuk menolak musibah. - Kalimantan Selatan
Arba Mustamir adalah sebutan untuk hari Rabu Wekasan bagi masyarakat Kalimantan Selatan. Arba Mustamir merupakan kalimat dari Bahasa Arab yang artinya adalah Rabu berkelanjutan. Tradisi tersebut dilaksanakan dengan melakukan shalat sunah, membaca ayat suci Al-Qur'an dan doa bersama. - Maluku Tengah
Mandi Safar merupakan ritual yang dilakukan oleh masyarakat Maluku Tengah ketika memperingati Rabu Wekasan. Ritual tersebut diyakini oleh masyarakat karena akan mendatangkan keselamatan dan menghindarkan dari marabahaya atau musibah dan sudah ada sejak ratusan tahun silam.
Hukum Tradisi Rabu Wekasan dalam Islam
Terkait hukum perayaan atau tradisi Rabu Wekasan dalam hukum Islam pernah dijelaskan Kiai Miftahul Huda. Dilansir dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI Digital), ia menjelaskan sebagian orang meyakini bahwa pada Rabu terakhir bulan Safar, Allah SWT menurunkan berbagai jenis bala atau penyakit. Keyakinan ini, kata dia, tidak memiliki dasar dalil yang dapat dipertanggungjawabkan.
"Mayoritas ulama menyatakan tidak ada dalil yang sahih untuk mendasari keyakinan ini. Justru, meyakini turunnya takdir buruk pada hari tertentu dapat menjerumuskan seseorang ke dalam tathayyur atau thiyarah kepercayaan terhadap pertanda sial, yang dilarang Nabi Muhammad SAW," jelasnya sebagaimana dikutip detikSulsel, Jumat (27/7/2026).
Kiai Miftah mengutip hadis Nabi SAW yang diriwayatkan Muslim:
لا عَدْوَى و لا طيرةَ و لا هامةَ و لا صَفرَ ، و فِرَّ مِنَ المجذومِ كما تَفِرُّ مِنَ الأسد
Artinya: "Tidak ada penularan (tanpa izin Allah), tidak ada kesialan karena burung, tidak ada hantu, tidak ada bulan Safar (yang dianggap sial), dan larilah dari orang yang terkena lepra seperti kamu lari dari singa." (Shahih Muslim, No 2220).
Kiai Miftah menambahkan, sikap menghindari aktivitas penting seperti menikah, bepergian, atau memulai usaha pada hari tersebut karena takut sial termasuk bentuk tathayyur yang dilarang dan bisa merusak keyakinan. Adapun memilih waktu tertentu karena lebih afdhal (lebih baik), maka itu bukan tathayyur.
Lantas bagaimana dengan melaksanakan amalan khusus Rabu Wekasan?
Beberapa tradisi Rabu Wekasan diketahui berupa amalan seperti shalat, sholawat, hingga berdoa khusus. Melansir laman Nahdlatul Ulama Jawa Timur, ditegaskan bahwa ritual dan amalan khusus tersebut tidak ada tuntunannya dalam agama Islam.
Tradisi Rebo Wekasan memang bukan bagian dari syariat Islam, bahkan tata caranya tidak disebutkan secara jelas dalam kitab hadis maupun kitab fikih. Akan tetapi beberapa amaliah ibadah sunnah serta anjuran berbuat baik di dalamnya terdapat nilai keislaman, seperti menganjurkan shalat sunnah dan doa, melakukan wirid dzikir, hingga memperbanyak bersedekah.
Maka hukum ibadah di hari Rabu Wekasan sangat bergantung pada tujuan dan teknis pelaksanaan. Jika niat dan pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan syariat, maka hukumnya boleh. Tapi bila terjadi penyimpangan (baik dalam keyakinan maupun caranya), maka hukumnya haram. Misalkan, melaksanakan shalat sunnah pada Rabu terakhir bulan Safar dilakukan dengan niat shalat sunnah mutlak, bukan niat khusus shalat Rabu Wekasan.
