Pilu Pemuda ODGJ di Mamasa 8 Tahun Dikurung Dalam Kandang Bambu

Sulawesi Barat

Pilu Pemuda ODGJ di Mamasa 8 Tahun Dikurung Dalam Kandang Bambu

Abdy Febriady - detikSulsel
Jumat, 24 Jul 2026 14:50 WIB
Pemuda ID di Mamasa terkurung dalam kandang bambu selama 8 tahun akibat gangguan kejiwaan.
Pemuda ID di Mamasa terkurung dalam kandang bambu selama 8 tahun akibat gangguan kejiwaan. Foto: dok istimewa
Mamasa -

Nasib pilu menimpa pemuda berinisial ID (25) di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulsel). Dia terpaksa dikurung di dalam kandang bambu yang sempit selama delapan tahun karena menderita gangguan kejiwaan dan kerap mengamuk hingga menyerang warga.

ID merupakan warga Dusun Kampung Baru, Desa Tampak Kurra, Kecamatan Tabulahan, Mamasa. Tindakan pengurungan dilakukan oleh pihak keluarga karena khawatir ID akan membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

"Berdasarkan keterangan orang tuanya, ini anak selalu mengamuk bahkan pukul orang sembarangan, makanya terpaksa dikurung," kata pendamping Kecamatan Tabulahan, Aditia Malison kepada wartawan, Jumat (24/07/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan keterangan pihak keluarga, Aditia menuturkan gangguan kejiwaan yang dialami ID telah berlangsung sekitar 10 tahun. Tekanan hidup akibat kondisi ekonomi keluarga yang masuk kategori kurang mampu diduga menjadi salah satu penyebabnya.

"Info dari keluarganya sudah sepuluh tahun seperti ini (gangguan kejiwaan). Mungkin karena latar belakang keluarga kurang mampu, banyak keinginan yang tidak tercapai, terlalu banyak beban hidup," ujarnya.

ADVERTISEMENT

ID sempat dikurung di dalam kamar rumahnya. Namun, karena kerap mengamuk dan merusak bagian rumah, keluarga akhirnya memindahkannya ke sebuah kurungan khusus yang terbuat dari bambu.

"Awalnya (dikurung) di dalam kamar di rumah (selama 2 tahun). Tapi dirusak, jadi satu-satunya jalan, keluarganya kurung seperti itu, agar tidak bisa mengamuk," ucapnya.

Aditia mengungkapkan ID menjalani hari-harinya dalam kondisi memprihatinkan. Seluruh aktivitasnya, mulai dari makan, mandi, tidur hingga buang air, dilakukan di dalam kurungan bambu tersebut.

"Kalau kondisi kurungannya memang agak miris, karena sempit. Pasien tidak bisa berdiri, hanya bisa duduk dan baring, panjangnya mungkin sekitar 180 centimeter kemudian lebarnya tidak sampai satu meter," jelasnya.

Menurut Aditia, kondisi ID sempat membaik ketika rutin menjalani pemeriksaan dan pengobatan di rumah sakit. Namun, pengobatan tersebut terpaksa dihentikan karena keluarga tidak mampu membiayai kontrol secara rutin.

"Pernah dibawa ke rumah sakit, menurut informasi dari keluarga dan petugas puskesmas sempat ada perubahan. Tapi karena masalah biaya, akhirnya terkendala kontrol rutin, akhirnya kambuh kembali," tandas Aditia.

Diakui Aditia, kondisi ekonomi keluarga ID terbilang memprihatinkan. Ayahnya berprofesi sebagai petani dengan penghasilan tidak menentu, sementara rumah yang ditempati juga tidak layak huni.

"Orang tuanya bertani, rumahnya saja sangat tidak layak huni. Sebagian dindingnya masih pakai terpal," bebernya.

Ironisnya, bantuan sosial yang sebelumnya diterima keluarga ID juga dihentikan karena data keluarga tersebut masuk dalam desil 6. Bantuan itu terhenti pada 2025 lalu.

"Sempat terima bantuan dulu sampai tahun 2025 namun dihentikan karena data keluarga ini masuk di desil agak tinggi, desil 6. Tapi kami sudah upayakan agar datanya turun ke desil 1, selanjutnya mau diusulkan lagi untuk menerima bantuan," pungkas Aditia.

Dalam potongan video yang dilihat wartawan, tampak ID duduk di dalam kurungan sempit yang terbuat dari batang bambu. Ayah ID kemudian menyampaikan permohonan maaf atas perbuatan ID yang menyerang warga hingga melakukan pengrusakan rumah.

"Ya, kami mohon maaf karena sudah beberapa pengalaman belakangan ini. Sudah berapa korbannya, baik itu rumah orang dirusak maupun orang-orang yang lewat di jalan dilempar atau dipukul dengan balok. Jadi kami anggap berbahaya sekali. Makanya kami ingin sekali, seandainya ada pihak-pihak yang bisa membantu dalam hal ini," ujar ayah ID dalam video tersebut.



(hsr/asm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads