BBPMP Sulsel-Institut Leimena Latih Guru Perkuat Literasi Agama Lintas Budaya

BBPMP Sulsel-Institut Leimena Latih Guru Perkuat Literasi Agama Lintas Budaya

Sahrul Alim - detikSulsel
Rabu, 22 Jul 2026 14:48 WIB
Pembukaan Hybrid Upgrading Workshop bertemakan “Penguatan Kompetensi Guru Profesional dengan Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB)” di Aula Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan.
Foto: Pembukaan Hybrid Upgrading Workshop bertemakan "Penguatan Kompetensi Guru Profesional dengan Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB)" di Aula Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan. (Sahrul Alim/detikSulsel)
Makassar -

Sebanyak 34 guru SMA dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan mengikuti lokakarya Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB). Kegiatan ini digelar Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Sulsel bekerja sama dengan Institut Leimena sebagai implementasi Program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN).

Workshop dengan tema "Penguatan Kompetensi Guru Profesional dengan Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB)" ini digelar aula BBPMP Sulsel, Rabu (22/7/2026). Kegiatan ini diikuti guru dari Makassar, Palopo, Parepare, Maros, Bone, Jeneponto, Wajo, Gowa, Enrekang, Pinrang, hingga Toraja Utara.

Kepala BBPMP Sulsel Imran Sinong mengatakan, program LKLB sejalan dengan upaya meningkatkan mutu pendidikan melalui kolaborasi berbagai pihak. Menurutnya, penerapan budaya sekolah yang aman dan nyaman tidak dapat dijalankan hanya mengandalkan regulasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Salah satu prinsip dalam pendidikan adalah partisipasi semesta, sehingga kebijakan atau regulasi tidak bisa jalan sendiri. Literasi Keagamaan Lintas Budaya ini sangat relevan sebagai implementasi dari Budaya Sekolah Aman dan Nyaman," kata Imran.

Imran menjelaskan BBPMP memiliki tugas menjamin mutu pendidikan, termasuk mengembangkan berbagai model pembelajaran bagi guru. Dia menilai pelatihan LKLB dapat menjadi bagian dari penguatan kompetensi pendidik.

ADVERTISEMENT

"Standar pelayanan minimal ini tidak hanya indeks literasi, numerasi, angka partisipasi, dan lainnya, tapi yang menarik juga ada indeks kebhinekaan, indeks inklusivitas, dan indeks keamanan, ini sangat terkait erat dengan LKLB," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho mengatakan program LKLB telah berjalan sejak 2021 melalui kerja sama dengan lebih dari 40 lembaga pendidikan dan keagamaan. Hingga kini, program tersebut telah diikuti sekitar 11.000 guru dari 38 provinsi, termasuk sekitar 2.000 guru di Sulsel.

Menurutnya, LKLB menjadi salah satu pendekatan yang dapat mendukung implementasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang dicanangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

"Di awal tahun 2026, kami melakukan audiensi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Dirasa perlu mengupayakan agar pendekatan LKLB juga dapat mendukung tercapainya Budaya Sekolah Aman dan Nyaman," katanya.

Matius menjelaskan peserta akan dibekali tiga kompetensi utama, yakni memahami ajaran agama sendiri secara benar, mengenal agama lain dari perspektif pemeluknya, serta membangun kemampuan bekerja sama dengan orang yang berbeda agama dan latar belakang.

"Namanya juga beda agama, pasti ada perbedaan yang tidak bisa menjadi sama, bahkan tidak boleh disama-samakan. Tapi di situlah kita belajar menghargai perbedaan dan tetap bisa bekerja sama untuk kebaikan bersama," jelasnya.

Sementara itu, Plt Kepala Bidang PTK Dinas Pendidikan Sulsel Ashar mengatakan BSAN bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menghargai keberagaman.

"Sekolah harus menjamin keberagaman, membangun budaya aman dan nyaman bagi warga sekolah. Ini menjadi dasar kita untuk mengembangkan berbagai kebijakan di dinas pendidikan," katanya.

Kepala Kanwil Kementerian Agama Sulsel Ali Yafid menilai program LKLB sejalan dengan Asta Prioritas Kementerian Agama. Dia mengatakan pihaknya juga telah menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta di seluruh madrasah di Sulsel.

"Literasi yang menyangkut keagamaan lintas budaya ini sangat berkembang di Sulawesi Selatan. Kami sudah menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta di seluruh madrasah di Sulsel karena ini penting agar membuahkan rasa aman, damai, dan sejuk di lembaga pendidikan," pungkasnya.



(sar/asm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads