Cara Merawat Anak Kucing Tanpa Induk, Ini 12 Hal yang Wajib Diperhatikan!

Cara Merawat Anak Kucing Tanpa Induk, Ini 12 Hal yang Wajib Diperhatikan!

Urwatul Wutsqaa - detikSulsel
Minggu, 19 Jul 2026 23:00 WIB
cute little white kittens only a few days old
Ilustrasi anak kucing tanpa induk (Foto: Getty Images/iStockphoto/amriphoto)
Makassar -

Merawat anak kucing atau kitten tanpa induk bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan ketelatenan dan perhatian ekstra untuk memastikan mereka tumbuh dengan baik.

Namun sebelum memutuskan untuk membawa pulang kucing tanpa induk, detikers perlu memastikan bahwa kucing tersebut betul-betul ditinggalkan oleh induknya. Pasalnya, tidak sedikit yang memutuskan untuk langsung membawa pulang anak kucing yang sebenarnya hanya ditinggal induknya berburu.

Induk kucing biasanya meninggalkan anaknya selama beberapa jam untuk mencari makan. Sebelum membawa mereka pulang, amati selama 4-6 jam. Jika induk tidak kembali dan anak kucing terus mengeong, tampak kedinginan, atau dalam kondisi berbahaya, barulah kitten perlu diselamatkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai panduan, berikut ini cara merawat anak kucing tanpa induk dari A-Z. Simak selengkapnya!

1. Siapkan Tempat Hangat dan Nyaman

Gunakan boks atau kardus yang dialasi kain lembut. Pastikan kucing tetap hangat karena bayi kucing tanpa induk belum bisa menjaga suhu tubuhnya sendiri.

ADVERTISEMENT

detikers bisa menyiapkan botol air hangat yang dilapisi handuk lembut di dekat tubuh kitten atau menggunakan lampu penghangat khusus. Jika menggunakan lampu penghangat, atur suhunya agar pas menghangatkan tubuh kucing tapi tidak sampai membuat mereka kepanasan.

2. Beri Susu Formula Khusus Anak Kucing (Kitten Milk Replacer)

Pastikan susu yang diberikan diformulasikan khusus untuk bayi kucing. Ikuti takaran di kemasan produk dan berikan sesuai berat badan kucing.

Hindari memberikan susu sapi atau susu untuk manusia yang mengandung laktosa. Susu yang mengandung laktosa karena dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti diare dan muntah.

3. Gunakan Dot Mini Khusus Kitten

Gunakan dot berukuran kecil yang sesuai dengan ukuran mulut kitten untuk memudahkan mereka menyusu. Pastikan susu yang diberikan dalam keadaan segar (baru diseduh) dan tidak terlalu panas maupun terlalu dingin.

4. Jangan Memberi Susu saat Tubuh Kitten Dingin

Ketika suhu tubuh kitten menurun dan menunjukkan gejala hipotermia, jangan langsung memberikan mereka susu. Hangatkan suhu tubuh kucing terlebih dahulu karena memberikan susu pada anak kucing yang mengalami hipotermia dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan, aspirasi, bahkan kematian.

5. Perhatikan Posisi Kitten saat Menyusu

Ketika memberikan susu kepada kitten, pastikan mereka dalam posisi tengkurap. Hindari kucing menyusu dalam keadaan telentang karena mereka akan mudah tersedak jika susu masuk ke saluran pernapasan.

6. Berikan Susu Secukupnya dan Bantu Anak Kucing Sendawa

Anak kucing yang berusia di bawah 1 bulan biasanya masih kesulitan berhenti minum susu walau sudah kenyang. Untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya berikan susu secukupnya pada setiap sesi. Hentikan menyodorkan susu apabila perut kucing tampak membesar dan kencang.

Setelah menyusu, bantu anak kucing untuk mengeluarkan gas. Posisikan kucing menghadap ke depan, lalu usap perutnya perlahan dengan jari.

7. Cuci dengan Bersih dan Sterilkan Dot Setelah Digunakan

Menjaga kebersihan dot atau alat minum kucing menjadi hal yang sangat penting. Langkah ini dapat membantu mencegah pertumbuhan bakteri yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan pada kitten.

Setelah digunakan, pisahkan semua bagian dot lalu cuci dengan sabun dan bilas menggunakan air mengalir. Selanjutnya, sterilkan dengan merebusnya dalam air mendidih selama sekitar 3-5 menit.

Pastikan seluruh bagian terendam air selama proses sterilisasi. Setelah itu, angkat menggunakan alat yang bersih, lalu letakkan di atas kain/tissue bersih hingga kering alami. Simpan dot yang kering di tempat yang aman agar kebersihannya tetap terjaga hingga digunakan kembali.

8. Jadwal dan Frekuensi Pemberian Susu

Atur jadwal pemberian susu dengan menyesuaikan usia kitten. Untuk kucing berusia kurang dari satu pekan, pemberian susu dilakukan setiap 2 jam atau 10-12 kali sehari.

Kucing usia 1-2 pekan, diberikan susu setiap 3 jam. Seiring bertambahnya usia, frekuensi pemberian susu bisa dikurangi perlahan.

Sebagai panduan, berikut ini frekuensi dan takaran pemberian susu untuk bayi kucing tanpa induk sesuai usianya sebagaimana dikutip dari laman Indonesian Cat Association (ica.or.id):

  • Usia 1-3 hari: 2,5 ml susu yang diulang setiap dua jam
  • Usia 4-7 hari: 5 ml susu diberikan 10-12 kali dalam sehari
  • Usia 6-10 hari: 5 sampai 7,5 ml susu. Diberikan 10 kali dalam sehari
  • Usia 11-14 hari: 10 hingga 12,5 ml susu setiap tiga jam sekali
  • Usia 15-21 hari : 10 ml susu dan diberikan delapan kali dalam sehari
  • Usia 21 hari dan seterusnya: 7,5 hingga 25 ml, tiga hingga empat kali dalam sehari.

Kucing yang memiliki induk biasanya akan disusui hingga berusia 2 bulan. Namun jika detikers merawat kucing tanpa induk, mereka bisa disapih lebih awal setelah berumur 1 bulan.

Pada usia tersebut, kucing sudah bisa mulai diperkenalkan dengan makanan padat yang lembut dan mudah dicerna. Seiring bertambahnya usia dan pemberian susu bisa dikurangi dan cukup menjadi makanan pendamping saja.

9. Bantu Buang Air Kecil dan Buang Air Besar Tiap Selesai Makan

Bayi kucing belum memiliki kemampuan untuk meregulasi saluran kemih maupun saluran pencernaannya sendiri. Oleh karena itu, kitten perlu dibantu distimulasi agar bisa buang air kecil dan buang air besar.

Setiap kali mereka selesai menyusu, usap area kelamin dan anus menggunakan kapas atau kain lembut yang telah dibasahi air hangat. Lakukan gerakan memutar atau usap secara lembut hingga kitten mengeluarkan urine atau feses.

Setelah selesai buang air kecil maupun buang air besar, bersihkan area kelamin dan anus agar tetap higienis. Pastikan juga bagian tersebut tetap kering untuk mencegah terjadinya iritasi maupun infeksi.

Stimulasi ini biasanya perlu dilakukan hingga kitten berusia sekitar 3-4 pekan. Setelah itu, biasanya mereka akan mulai mampu buang air sendiri.

10. Timbang Berat Badan Kucing Secara Berkala

Jika asupan susu atau makanannya cukup, berat badan akan terus bertambah. Apabila berat badan cenderung stagnan atau bahkan berkurang, itu bisa menjadi indikasi kitten kekurangan nutrisi.

Selain itu, memantau perubahan berat badan kucing secara berkala bisa membantu mendeteksi penyakit lebih dini sehingga penanganannya bisa lebih tepat.

Normalnya, kenaikan berat badan kucing berusia 0-4 minggu adalah 10-15 gram per hari. Namun pada kucing tanpa induk, variasi kenaikannya akan sedikit berbeda. Meskipun begitu, yang terpenting adalah tren berat badan kitten secara umum terus naik.

11. Beri Obat Cacing Setelah Kucing Berusia 1 Bulan

Ketika kucing sudah genap berusia 1 bulan, detikers bisa mulai mempertimbangkan untuk memberikan obat cacing. Terutama jika kitten menunjukkan gejala seperti diare, mata berair, atau penurunan berat badan.

Kitten bisa tertular cacing sejak masih sangat kecil, baik itu dari induk, dari lingkungan, atau dari kutu yang tidak sengaja tertelan saat grooming. Namun tidak disarankan memberikan obat cacing sebelum berusia 1 bulan karena mereka masih rentan.

Pada usia sekitar 4 minggu atau 1 bulan, manfaat pemberian obat cacing pada kitten biasanya sudah lebih besar daripada risikonya. Di usia ini, kitten juga mulai lebih rentan mengalami beban cacing yang dapat mengganggu pertumbuhannya.

12. Tanda Kitten Harus Segera Dibawa ke Dokter

Kucing yang berusia kurang dari 1 bulan sangat rentan terhadap virus, bakteri, dan penyakit. Oleh karena itu, detikers perlu memperhatikan tanda-tanda kapan kucing perlu mendapatkan perawatan medis.

Segera bawa kitten ke dokter hewan apabila mengalami gejala berikut:

  • Tidak mau minum selama beberapa kali jadwal
  • Tubuh sangat lemas
  • Diare berat
  • Muntah berulang
  • Perut sangat buncit
  • Kesulitan bernapas
  • Keluar cairan dari hidung atau mata dalam jumlah banyak
  • Suhu tubuh menurun drastis

Nah detikers, demikianlah panduan lengkap cara merawat anak kucing tanpa induk. Semoga bermanfaat!



(urw/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads