Setiap tanggal dalam kalender menandai berbagai peringatan penting, baik di tingkat nasional maupun internasional. Begitu pula dengan 17 Juli, yang menjadi momen untuk memperingati sejumlah peristiwa bersejarah serta meningkatkan kesadaran terhadap berbagai isu di berbagai belahan dunia.
Lantas, tanggal 17 Juli memperingati apa saja?
Pada tanggal ini, dunia memperingati Hari Emoji Sedunia (World Emoji Day). Sementara di Indonesia, terdapat Hari Bakti Husada dan Hari Gagasan Pemindahan Ibu Kota Negara. Selain itu, Korea Selatan juga memperingati Hari Konstitusi sebagai hari nasional yang menandai berlakunya konstitusi pertama negara tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masing-masing peringatan tersebut memiliki latar belakang, sejarah, dan makna yang berbeda. Simak ulasan lengkap mengenai berbagai peringatan pada 17 Juli berikut ini.
Hari Emoji Sedunia
Menyadur National Today, Hari Emoji Sedunia (World Emoji Day) dicetuskan oleh Jeremy Burge, pendiri Emojipedia, pada 2014. Ia memilih 17 Juli sebagai tanggal peringatannya karena tanggal tersebut ditampilkan pada emoji kalender di perangkat Apple.
Sejarah emoji sendiri bermula pada 1999 ketika Shigetaka Kurita, seorang desainer asal Jepang, menciptakan 176 emoji pertama untuk layanan internet seluler i-mode milik NTT DoCoMo. Kumpulan ikon sederhana berpiksel itu dirancang untuk memudahkan pengguna menyampaikan emosi, informasi cuaca, hingga berbagai objek dalam komunikasi digital.
Karya Kurita kemudian menjadi fondasi perkembangan emoji modern yang kini digunakan oleh miliaran orang di seluruh dunia. Desain-desain awal tersebut menginspirasi lahirnya ribuan emoji baru yang terus berkembang mengikuti kebutuhan komunikasi digital.
Perkembangan emoji semakin pesat setelah Unicode Consortium mengadopsinya pada 2010. Sejak saat itu, berbagai emoji baru, termasuk wajah hewan, makanan, aktivitas, hingga beragam ekspresi manusia, terus ditambahkan ke dalam standar Unicode.
Hingga akhir 2025, Standar Unicode telah mencakup lebih dari 3.600 emoji yang digunakan di berbagai platform digital. Setiap tahun, Unicode Consortium juga menyetujui penambahan emoji baru sehingga pengguna memiliki lebih banyak pilihan simbol untuk mengekspresikan emosi, aktivitas, benda, maupun berbagai konsep dalam komunikasi sehari-hari.
Baca juga: Tanggal Merah Bulan Juli 2026, Cek di Sini! |
Hari Bakti Husada
Setiap tanggal 17 Juli juga di Indonesia diperingati Hari Bakti Husada. Hari Bakti Husada berkaitan dengan Saka Bakti Husada (SBH), yaitu Satuan Karya Pramuka yang menjadi wadah bagi anggota Pramuka untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman praktis di bidang kesehatan.
Menukil laman Ayo Sehat Kementerian Kesehatan RI, peringatan ini berawal dari peresmian Saka Bakti Husada pada 17 Juli 1985. Peresmian tersebut ditandai dengan pelantikan Pimpinan Saka Bakti Husada Tingkat Nasional oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Selanjutnya, pada 12 November 1985, Menteri Kesehatan Republik Indonesia mencanangkan momentum tersebut di Magelang sebagai bagian dari upaya penguatan gerakan kesehatan melalui kepramukaan. Saka Bakti Husada dibentuk sebagai sarana pembinaan bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega yang memiliki minat di bidang kesehatan.
Melalui berbagai kegiatan edukatif, para anggota didorong untuk mengembangkan pengetahuan, teknologi, serta keterampilan kesehatan yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Bekal tersebut diharapkan dapat menumbuhkan jiwa pengabdian sehingga mereka mampu berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Hari Gagasan Pemindahan Ibu Kota Negara
Selain Hari Bakti Husada, tanggal 17 Juli di Indonesia juga diperingati sebagai Hari Gagasan Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN). Peringatan ini merujuk pada momen ketika Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, pertama kali mengemukakan gagasan memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Pulau Kalimantan.
Melansir laman resmi Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan, gagasan tersebut disampaikan Soekarno pada 17 Juli 1957. Saat itu, ia mengusulkan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sebagai calon ibu kota baru Indonesia karena dinilai memiliki letak yang strategis dan wilayah yang luas untuk mendukung pembangunan jangka panjang.
Meski demikian, rencana tersebut tidak pernah direalisasikan pada masa pemerintahannya. Soekarno kemudian menetapkan Jakarta sebagai ibu kota negara melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1964 yang disahkan pada 22 Juni 1964.
Wacana pemindahan ibu kota kembali mencuat pada era Orde Baru. Pada 1990-an, pemerintah sempat mengkaji Jonggol, Jawa Barat, sebagai calon ibu kota baru. Selanjutnya, pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pembahasan mengenai pemindahan ibu kota kembali mengemuka sebagai respons terhadap berbagai persoalan di Jakarta, seperti kemacetan lalu lintas, banjir, dan kepadatan penduduk.
Saat itu, pemerintah mempertimbangkan tiga alternatif, yakni mempertahankan Jakarta sebagai ibu kota sekaligus pusat pemerintahan dengan melakukan pembenahan, menjadikan Jakarta tetap sebagai ibu kota tetapi memindahkan pusat pemerintahan ke daerah lain, atau membangun ibu kota negara yang benar-benar baru.
Gagasan pemindahan ibu kota negara benar-benar mulai diwujudkan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Pada 29 April 2019, pemerintah memutuskan memindahkan ibu kota negara ke Pulau Kalimantan.
Rencana tersebut kemudian dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Selanjutnya, melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara, pemerintah menetapkan nama ibu kota negara baru sebagai Nusantara.
Memasuki pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pembangunan IKN tetap dilanjutkan. Kemudian menargetkan Nusantara menjadi ibu kota politik Indonesia pada 2028.
Target tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2025 tentang Pemutakhiran Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2026.
Hari Konstitusi Korea Selatan
Setiap 17 Juli, Korea Selatan memperingati Hari Konstitusi atau Jeheonjeol. Peringatan ini menjadi momen untuk mengenang pemberlakuan Konstitusi Republik Korea yang menjadi landasan sistem ketatanegaraan negara tersebut.
Kembali melansir laman National Today, Hari Konstitusi ditetapkan sebagai hari libur nasional pada 1949. Namun, status tersebut dicabut pada 2008 setelah pemerintah merevisi ketentuan mengenai hari libur dan jam kerja.
Meski tidak lagi menjadi hari libur, Jeheonjeol tetap diperingati sebagai salah satu hari nasional penting di Korea Selatan. Peringatan Hari Konstitusi biasanya diisi dengan upacara kenegaraan yang diselenggarakan di Gedung Majelis Nasional, Seoul.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara, seperti Presiden, Ketua Majelis Nasional, Ketua Mahkamah Agung, serta tokoh-tokoh pemerintahan lainnya. Selain upacara resmi, masyarakat juga turut memperingati Jeheonjeol dengan mengibarkan bendera nasional Korea Selatan.
Di sejumlah sekolah, hari tersebut dimanfaatkan sebagai sarana edukasi melalui berbagai kegiatan, seperti diskusi, debat, dan pembelajaran mengenai sejarah konstitusi serta nilai-nilai demokrasi.
Itulah daftar peringatan yang dirayakan pada tanggal 17 Juli 2026. Semoga menambah wawasan ya, detikers!
