Sejumlah momen penting diperingati setiap tanggal 12 Juli. Lantas, tanggal 12 Juli 2024 memperingati hari apa saja?
Tanggal 12 Juli 2024 jatuh pada hari Sabtu berdasarkan kalender Masehi. Di Indonesia, hari ini diperingati sebagai Hari Koperasi Nasional.
Tak hanya itu, masih ada hari peringatan lainnya yang diperingati di Indonesia maupun seluruh dunia. Yuk simak daftar dan ulasannya di bawah ini!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari Koperasi Nasional
Di Indonesia, tanggal 2 Juli diperingati sebagai Hari Koperasi Nasional. Tahun ini, Hari Koperasi Nasional memasuki peringatan ke-79.
Mengutip unggahan Instagram Kementerian Koperasi, peringatan tahun ini mengusung tema "Koperasi Berdaya Indonesia Berjaya". Koperasi Berdaya merepresentasikan penguatan peran koperasi sebagai pilar ekonomi kerakyatan yang mampu meningkatkan kapasitas anggota, pelaku UMKM, dan masyarakat melalui akses terhadap permodalan, pasar, teknologi, serta pengembangan sumber daya manusia. Koperasi yang berdaya mencerminkan kelembagaan yang sehat profesional, inovatif, dan berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya secara nyata.
Sementara Indonesia Berjaya menggambarkan cita-cita terwujudnya perekonomian nasional yang tangguh, inklusif, dan berkeadilan melalui koperasi yang modern dan berdaya saing. Semakin kuat peran koperasi di seluruh Indonesia, semakin besar kontribusinya dalam memperkuat struktur ekonomi nasional serta mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Melasir laman Dewan Koperasi Indonesia, sejarah Hari Koperasi Nasional tidak terlepas dari perkembangan gerakan koperasi di Indonesia yang telah dimulai sejak masa kolonial. Tonggak awalnya tercatat pada 16 Desember 1896, ketika Raden Aria Wiraatmadja mendirikan Hulp en Spaarbank di Purwokerto. Lembaga tersebut dikenal sebagai salah satu cikal bakal gerakan koperasi di Indonesia karena bertujuan membantu masyarakat memperoleh akses layanan keuangan.
Baca juga: Tanggal Merah Bulan Juli 2026, Cek di Sini! |
Seiring waktu, semangat berkoperasi terus berkembang melalui sejumlah organisasi pergerakan nasional, seperti Budi Utomo, Sarekat Dagang Islam, dan Studie Club. Organisasi-organisasi tersebut turut mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat serta menanamkan nilai-nilai gotong royong dan kemandirian.
Setelah Indonesia merdeka, berbagai organisasi koperasi dari berbagai daerah bersatu dalam Kongres Koperasi Indonesia pertama yang digelar di Tasikmalaya pada 12 Juli 1947. Kongres yang dihadiri sekitar 500 utusan dari seluruh Indonesia itu menjadi tonggak penting dalam sejarah gerakan koperasi nasional.
Salah satu keputusan utama yang dihasilkan dalam kongres tersebut adalah menetapkan tanggal 12 Juli sebagai Hari Koperasi. Sejak saat itu, tanggal tersebut diperingati setiap tahun sebagai momentum untuk mengenang sejarah, memperkuat semangat berkoperasi, serta mendorong peran koperasi dalam pembangunan ekonomi nasional.
Hari Internasional Penanggulangan Badai Pasir dan Debu
Hari Internasional Penanggulangan Badai Pasir dan Debu diperingati setiap 12 Juli secara global. Peringatan ini untuk meningkatkan kesadaran global terhadap dampak badai pasir dan debu yang semakin mengancam lingkungan, kesehatan, dan kehidupan masyarakat.
Hari internasional ini ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Resolusi A/RES/77/294 sebagai bentuk pengakuan bahwa fenomena tersebut merupakan isu lintas negara yang memerlukan kerja sama internasional.
Melansir laman resmi PBB, badai pasir dan debu merupakan bagian dari proses alami Bumi. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, frekuensi dan dampaknya meningkat akibat aktivitas manusia, seperti perubahan iklim, pengelolaan lahan yang tidak berkelanjutan, serta penggunaan air yang berlebihan.
PBB mencatat sedikitnya 25 persen emisi debu global berasal dari aktivitas manusia, bahkan di sejumlah wilayah jumlah debu dari gurun telah meningkat hingga dua kali lipat sepanjang abad ke-20.
Dampak badai pasir dan debu tidak hanya dirasakan di wilayah asalnya. Partikel debu dapat terbawa angin hingga melintasi batas negara, sehingga memengaruhi kualitas udara, kesehatan masyarakat, produktivitas pertanian, ketersediaan air, hingga pertumbuhan ekonomi. Karena itu, fenomena ini dinilai menghambat pencapaian sedikitnya 11 dari 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), termasuk pengentasan kelaparan, kesehatan yang baik, aksi iklim, serta perlindungan ekosistem daratan.
Melalui peringatan ini, PBB mendorong setiap negara memperkuat kerja sama dalam pencegahan dan penanggulangan badai pasir dan debu, antara lain dengan meningkatkan sistem peringatan dini, berbagi informasi cuaca dan iklim, serta menerapkan pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan untuk mengurangi risiko bencana di masa depan.
Hari Harapan Internasional
Hari Harapan Internasional juga diperingati setiap 12 Juli. Hari ini diperingati sebagai momentum untuk menegaskan pentingnya harapan dalam membangun dunia yang lebih damai, inklusif, dan berkelanjutan.
Peringatan yang ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini lahir di tengah berbagai tantangan global, mulai dari konflik, kesenjangan sosial, hingga krisis ekonomi dan lingkungan, yang membutuhkan nilai-nilai pemersatu bagi masyarakat dunia.
Melalui Hari Harapan Internasional, PBB mengajak pemerintah, organisasi, komunitas, dan masyarakat untuk menumbuhkan budaya yang memberi ruang bagi harapan melalui pendidikan, kampanye kesadaran, aksi sosial, serta penguatan nilai empati, toleransi, pengampunan, dan rekonsiliasi. Harapannya, langkah-langkah tersebut dapat memperkuat ketahanan masyarakat sekaligus mendorong terciptanya kehidupan yang lebih harmonis.
Peringatan ini juga didukung oleh berbagai temuan ilmiah yang menunjukkan bahwa harapan memiliki manfaat nyata bagi kesehatan mental dan fisik. Sejumlah penelitian menemukan bahwa individu dengan tingkat harapan yang tinggi cenderung lebih mampu mengatasi stres, memiliki risiko lebih rendah mengalami depresi dan kecemasan, serta lebih termotivasi dalam mencapai tujuan hidup. Bahkan, pada beberapa kondisi penyakit kronis, harapan dikaitkan dengan kepatuhan pengobatan yang lebih baik dan kualitas hidup yang lebih tinggi.
Melalui Hari Harapan Internasional, PBB ingin mengingatkan bahwa harapan bukan sekadar perasaan optimistis, melainkan kekuatan yang dapat mendorong perubahan positif, mempererat solidaritas, dan membantu masyarakat menghadapi tantangan bersama demi masa depan yang lebih baik.
Hari Kemerdekaan Kiribati
Hari Kemerdekaan Kiribati diperingati setiap 12 Juli untuk mengenang kemerdekaan negara kepulauan tersebut dari pemerintahan kolonial Britania Raya pada 1979. Peringatan ini menjadi momen penting bagi rakyat Kiribati untuk merayakan lahirnya negara yang berdaulat sekaligus mengenang perjalanan panjang menuju kemerdekaan.
Kiribati merupakan negara kepulauan yang berada di Samudra Pasifik bagian tengah dan termasuk dalam subkawasan Mikronesia, Oseania. Negara ini terdiri atas 33 pulau karang yang terbagi ke dalam tiga gugusan utama, yaitu Kepulauan Gilbert, Kepulauan Phoenix, dan Kepulauan Line.
Sebagian besar pulau di Kiribati merupakan atol, yaitu pulau berbentuk cincin yang mengelilingi laguna di bagian tengah. Pengecualiannya adalah Pulau Banaba di Kepulauan Gilbert yang merupakan pulau batu kapur terangkat. Dari seluruh pulau tersebut, hanya 21 yang berpenghuni, dengan sebagian besar penduduk tinggal di Kepulauan Gilbert.
Kepulauan Kiribati mulai dikenal bangsa Eropa pada akhir abad ke-18 setelah sejumlah pelaut dan pedagang singgah atau terdampar di wilayah tersebut. Nama Kiribati berasal dari Kapten Angkatan Laut Inggris, Thomas Gilbert, yang melintasi kawasan itu pada 1788 saat berlayar dari Australia menuju China.
Pada 1892, Britania Raya menetapkan Kepulauan Gilbert dan Kepulauan Ellice-yang kini menjadi negara Tuvalu-sebagai wilayah protektorat. Inggris kemudian mencaplok Pulau Ocean, yang kini dikenal sebagai Banaba, setelah ditemukannya cadangan fosfat bernilai ekonomi tinggi.
Selanjutnya, pada 1916, wilayah-wilayah tersebut disatukan menjadi Koloni Kepulauan Gilbert dan Ellice. Dalam dua dekade berikutnya, Inggris menambahkan beberapa gugusan pulau lain ke dalam koloni tersebut, termasuk Kepulauan Line dan Kepulauan Phoenix.
Pada 1971, masyarakat Banaba menggugat pemerintah Britania Raya untuk menuntut ganti rugi atas kerusakan lingkungan akibat penambangan fosfat serta meminta kompensasi atas hilangnya pendapatan dari ekspor fosfat. Beberapa tahun kemudian, mereka juga menuntut kemerdekaan, tetapi permintaan tersebut ditolak oleh pemerintah Inggris.
Sementara itu, Kepulauan Ellice memisahkan diri dari koloni dan kemudian menjadi negara Tuvalu. Adapun Kepulauan Gilbert memperoleh pemerintahan sendiri pada 1977. Proses tersebut menjadi tonggak penting yang mengantarkan Kiribati meraih kemerdekaan penuh pada 12 Juli 1979.
Demikian daftar dan ulasan sejumlah momen penting yang diperingati setiap 12 Juli.
