Hadits Puasa Tasua dan Asyura sebagai Dasar Anjuran Berpuasa

Hadits Puasa Tasua dan Asyura sebagai Dasar Anjuran Berpuasa

Andi Sitti Nurfaisah - detikSulsel
Rabu, 24 Jun 2026 23:07 WIB
Ilustrasi Buka Puasa Tarwiyah
Foto: Ilustrasi. (Ahmed/Unsplash)
Makassar -

Islam memuliakan empat bulan dalam kalender Hijriah, salah satunya bulan Muharram. Pada bulan mulia ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunnah, termasuk melaksanakan puasa Tasua dan Asyura.

Puasa Tasua dilaksanakan pada 9 Muharram, sedangkan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Adapun keutamaan dan anjuran melaksanakan kedua puasa tersebut dijelaskan dalam sejumlah hadits Rasulullah SAW.

Untuk itu, berikut detikSulsel menyajikan hadits tentang puasa Tasua dan Asyura yang menjadi dasar anjurannya. Yuk, simak selengkapnya di bawah ini!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hadits tentang Puasa Tasua dan Asyura

Berikut beberapa hadits yang menjelaskan tentang puasa Tasua dan Asyura yang dirangkum dari laman Muhammadiyah:

1. Awal Mula Puasa Asyura

Hari Asyura yang jatuh pada 10 Muharram memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan Nabi Musa AS. Pada hari tersebut, Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun beserta bala tentaranya.

ADVERTISEMENT

Sebagai bentuk syukur atas pertolongan Allah SWT, Nabi Musa berpuasa pada 10 Muharram. Amalan itu kemudian menjadi tradisi di kalangan orang-orang Yahudi dalam mengenang peristiwa tersebut.

Sementara itu, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah setelah hijrah dari Makkah, ia mendapati alasan kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mendengar penjelasan itu, Rasulullah SAW bersabda bahwa ia lebih berhak terhadap Nabi Musa AS daripada mereka.

Karena itu, Nabi Muhammad SAW turut berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan umat Islam untuk melaksanakannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

ΨΉΩŽΩ†Ω’ ابْنِ ΨΉΩŽΨ¨ΩŽΩ‘Ψ§Ψ³Ω رَآِيَ Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω ΨΉΩŽΩ†Ω’Ω‡ΩΩ…ΩŽΨ§: Ψ£ΩŽΩ†ΩŽΩ‘ Ψ§Ω„Ω†ΩŽΩ‘Ψ¨ΩΩŠΩŽΩ‘ Ψ΅ΩŽΩ„ΩŽΩ‘Ω‰ Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω‡Ω ΩˆΩŽΨ³ΩŽΩ„ΩŽΩ‘Ω…ΩŽ Ω„ΩŽΩ…ΩŽΩ‘Ψ§ Ω‚ΩŽΨ―ΩΩ…ΩŽ Ψ§Ω„Ω’Ω…ΩŽΨ―ΩΩŠΩ†ΩŽΨ©ΩŽ ΩˆΩŽΨ¬ΩŽΨ―ΩŽΩ‡ΩΩ…Ω’ ΩŠΩŽΨ΅ΩΩˆΩ…ΩΩˆΩ†ΩŽ ΩŠΩŽΩˆΩ’Ω…Ω‹Ψ§ ΩŠΩŽΨΉΩ’Ω†ΩΩŠ عَاشُورَاَؑ ΩΩŽΩ‚ΩŽΨ§Ω„ΩΩˆΨ§ Ω‡ΩŽΨ°ΩŽΨ§ ΩŠΩŽΩˆΩ’Ω…ΩŒ ΨΉΩŽΨΈΩΩŠΩ…ΩŒ ΩˆΩŽΩ‡ΩΩˆΩŽ ΩŠΩŽΩˆΩ’Ω…ΩŒ Ω†ΩŽΨ¬ΩŽΩ‘Ω‰ Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω ΩΩΩŠΩ‡Ω Ω…ΩΩˆΨ³ΩŽΩ‰ ΩˆΩŽΨ£ΩŽΨΊΩ’Ψ±ΩŽΩ‚ΩŽ Ψ’Ω„ΩŽ ΩΩΨ±Ω’ΨΉΩŽΩˆΩ’Ω†ΩŽ ΩΩŽΨ΅ΩŽΨ§Ω…ΩŽ Ω…ΩΩˆΨ³ΩŽΩ‰ شُكْرًا Ω„ΩΩ„ΩŽΩ‘Ω‡Ω ΩΩŽΩ‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ Ψ£ΩŽΩ†ΩŽΨ§ Ψ£ΩŽΩˆΩ’Ω„ΩŽΩ‰ Ψ¨ΩΩ…ΩΩˆΨ³ΩŽΩ‰ مِنْهُمْ ΩΩŽΨ΅ΩŽΨ§Ω…ΩŽΩ‡Ω ΩˆΩŽΨ£ΩŽΩ…ΩŽΨ±ΩŽ Ψ¨ΩΨ΅ΩΩŠΩŽΨ§Ω…ΩΩ‡Ω

Artinya: "Dari Ibnu Abbas RA bahwa Nabi SAW ketika tiba di Madinah, beliau mendapatkan mereka (orang Yahudi) melaksanakan puasa hari Asyura (10 Muharram) dan mereka berkata: "Ini adalah hari raya, yaitu hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir'aun. Lalu Nabi Musa AS mempuasainya sebagai wujud syukur kepada Allah". Maka beliau bersabda: "Akulah yang lebih utama (dekat) terhadap Musa dibanding mereka". Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk mempuasainya." (HR Bukhari)

2. Puasa Asyura Dianjurkan Bagi Umat Islam

Berbeda dengan riwayat sebelumnya yang mengaitkan puasa Asyura dengan peristiwa Nabi Musa AS, terdapat hadits lain dari Aisyah RA yang menjelaskan asal-usul puasa Asyura dari sudut pandang berbeda. Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa orang-orang Quraisy pada masa jahiliyah juga berpuasa pada hari Asyura.

Menurut Imam al-Qurtubi, yang dikutip oleh Imam Ibnu Hajar, tradisi puasa Asyura yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy tersebut adalah warisan dari ajaran Nabi Ibrahim.

Sementara itu, Rasulullah SAW yang masih berada di Makkah, sebelum hijrah ke Madinah, turut melaksanakan puasa Asyura atas izin dan petunjuk dari Allah SWT. Rasulullah SAW pun memerintahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari itu dan anjuran itu berlangsung hingga Allah SWT mewajibkan puasa Ramadhan, sehingga puasa Asyura menjadi ibadah sunnah.

Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:

ΨΉΩ† ΨΉΨ§Ψ¦Ψ΄Ψ© ، رآي Ψ§Ω„Ω„Ω‡ ΨΉΩ†Ω‡Ψ§ ، Ψ£Ω† Ω‚Ψ±ΩŠΨ΄Ψ§ ΩƒΨ§Ω†Ψͺ ΨͺΨ΅ΩˆΩ… ΩŠΩˆΩ… عاشوراؑ في Ψ§Ω„Ψ¬Ψ§Ω‡Ω„ΩŠΨ© Ψ«Ω… Ψ£Ω…Ψ± Ψ±Ψ³ΩˆΩ„ Ψ§Ω„Ω„Ω‡ Ψ΅Ω„Ω‰ Ψ§Ω„Ω„Ω‡ ΨΉΩ„ΩŠΩ‡ ΩˆΨ³Ω„Ω… Ψ¨Ψ΅ΩŠΨ§Ω…Ω‡ Ψ­ΨͺΩ‰ فرآ Ψ±Ω…ΨΆΨ§Ω† ΩˆΩ‚Ψ§Ω„ Ψ±Ψ³ΩˆΩ„ Ψ§Ω„Ω„Ω‡ Ψ΅Ω„Ω‰ Ψ§Ω„Ω„Ω‡ ΨΉΩ„ΩŠΩ‡ ΩˆΨ³Ω„Ω… : Ω…Ω† Ψ΄Ψ§Ψ‘ ΩΩ„ΩŠΨ΅Ω…Ω‡ ، ΩˆΩ…Ω† Ψ΄Ψ§Ψ‘ أفطر

Artinya: "Dari 'Aisyah RA, sesungguhnya orang-orang Quraisy dulu pada masa jahiliyah berpuasa pada hari Asyura. Rasulullah SAW pun memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu hingga turunnya perintah wajib puasa Ramadan. Rasulullah (setelah wajibnya puasa Ramadhan) berkata barang siapa menghendaki maka ia boleh berpuasa Asyura sedangkan yang tidak mau puasa maka tidak mengapa." (HR Bukhari dan Muslim)

3. Dianjurkannya Puasa Tasua

Nabi Muhammad SAW menganjurkan umat Islam berpuasa pada 9 Muharram, yang dikenal sebagai puasa Tasua. Anjuran ini diberikan untuk membedakan umat Islam dan kaum Yahudi dalam menjalankan ibadah puasa Asyura.

Namun, Rasulullah SAW wafat sebelum sempat melaksanakan puasa Tasua tersebut. Meski demikian, sunnah puasa Tasua tersebut menjadi penyempurna puasa Asyura.

Hadits tentang anjuran puasa Tasua (9 Muharram) tercatat dalam riwayat Ibnu Abbas berikut ini:

ΨΉΩŽΨ¨Ω’Ψ―ΩŽ Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω Ψ¨Ω’Ω†ΩŽ ΨΉΩŽΨ¨ΩŽΩ‘Ψ§Ψ³Ω رَآِيَ Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω ΨΉΩŽΩ†Ω’Ω‡ΩΩ…ΩŽΨ§ ΩŠΩŽΩ‚ΩΩˆΩ„ΩΨ§ : Ψ­ΩΩŠΩ†ΩŽ Ψ΅ΩŽΨ§Ω…ΩŽ Ψ±ΩŽΨ³ΩΩˆΩ„Ω Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω Ψ΅ΩŽΩ„ΩŽΩ‘Ω‰ Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω‡Ω ΩˆΩŽΨ³ΩŽΩ„ΩŽΩ‘Ω…ΩŽ ΩŠΩŽΩˆΩ’Ω…ΩŽ عَاشُورَاَؑ ΩˆΩŽΨ£ΩŽΩ…ΩŽΨ±ΩŽ Ψ¨ΩΨ΅ΩΩŠΩŽΨ§Ω…ΩΩ‡Ω Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩΩˆΨ§ يَا Ψ±ΩŽΨ³ΩΩˆΩ„ΩŽ Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω Ψ₯ΩΩ†ΩŽΩ‘Ω‡Ω ΩŠΩŽΩˆΩ’Ω…ΩŒ ΨͺΩΨΉΩŽΨΈΩΩ‘Ω…ΩΩ‡Ω Ψ§Ω„Ω’ΩŠΩŽΩ‡ΩΩˆΨ―Ω ΩˆΩŽΨ§Ω„Ω†ΩŽΩ‘Ψ΅ΩŽΨ§Ψ±ΩŽΩ‰ ΩΩŽΩ‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ Ψ±ΩŽΨ³ΩΩˆΩ„Ω Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω Ψ΅ΩŽΩ„ΩŽΩ‘Ω‰ Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω‡Ω ΩˆΩŽΨ³ΩŽΩ„ΩŽΩ‘Ω…ΩŽ فَΨ₯ِذَا ΩƒΩŽΨ§Ω†ΩŽ Ψ§Ω„Ω’ΨΉΩŽΨ§Ω…Ω الْمُقْبِلُ Ψ₯ِنْ شَاَؑ Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω Ψ΅ΩΩ…Ω’Ω†ΩŽΨ§ Ψ§Ω„Ω’ΩŠΩŽΩˆΩ’Ω…ΩŽ Ψ§Ω„ΨͺΩŽΩ‘Ψ§Ψ³ΩΨΉΩŽ Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ ΩΩŽΩ„ΩŽΩ…Ω’ ΩŠΩŽΨ£Ω’Ψͺِ Ψ§Ω„Ω’ΨΉΩŽΨ§Ω…Ω الْمُقْبِلُ حَΨͺΩŽΩ‘Ω‰ ΨͺΩΩˆΩΩΩΩ‘ΩŠΩŽ Ψ±ΩŽΨ³ΩΩˆΩ„Ω Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω Ψ΅ΩŽΩ„ΩŽΩ‘Ω‰ Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω‡Ω ΩˆΩŽΨ³ΩŽΩ„ΩŽΩ‘Ω…ΩŽ

Artinya: "Abdullah bin Abbas RA berkata saat Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani." Maka Rasulullah SAW bersabda: "Pada tahun depan insya Allah, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (Muharram)." Tahun depan itu pun tak kunjung tiba, hingga Rasulullah SAW wafat." (HR Muslim)

Ketentuan Pelaksanaan Puasa Tasua dan Asyura

Melansir laman Rumaysho, Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa Imam Syafi'i, ulama Syafi'i, Imam Ahmad, Ishaq, dan ulama lainnya menganjurkan puasa Tasua dan Asyura dilaksanakan sekaligus. Anjuran ini didasarkan pada sunnah Rasulullah SAW yang berpuasa pada 10 Muharram dan berniat untuk berpuasa pula pada 9 Muharram.

Sementara itu, ulama dari mazhab Hambali dan Maliki berpendapat bahwa melaksanakan puasa Asyura tanpa puasa Tasua adalah tidak makruh. Menurutnya, hanya melaksanakan puasa Asyura tetap sunnah dan dibolehkan.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Buya Yahya dalam kanal YouTube pribadinya. Ia menjelaskan bahwa puasa Asyura merupakan puasa sunnah yang paling utama dan umat Islam yang mengerjakannya akan mendapatkan pahala meskipun tidak didahului puasa Tasua.

Meski demikian, berpuasa pada 9 Muharram atau puasa Tasua tetap dianjurkan sebagai bentuk penyempurnaan ibadah sekaligus untuk menyelisihi kaum Yahudi.

Dengan demikian, puasa Asyura tetap sah dan bernilai ibadah meski dikerjakan tanpa didahului puasa Tasua.

Demikianlah hadits tentang puasa Tasua dan Asyura beserta ketentuan pelaksanaannya. Semoga bermanfaat!



(alk/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads