Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6,7 yang berpusat di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), mengakibatkan kerusakan sejumlah rumah warga di Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi. Usut punya usut, warga yang rumahnya rusak sebelumnya juga terdampak gempa pada 2018 silam dan sampai saat ini belum mendapatkan bantuan rehabilitasi.
Diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa tektonik M 6,7 mengguncang Palu pada Selasa (16/6/2026) pukul 11.27 Wita. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 1,03Β° LS dan 120,24Β° BT, atau tepatnya berlokasi di darat 42 km tenggara Palu pada kedalaman 10 km.
Data kaji cepat BPBD Sigi hingga Kamis (18/6) mencatat sebanyak 2.109 kepala keluarga (KK) atau 6.412 jiwa terdampak gempa. Selain itu, sebanyak 1.652 rumah mengalami kerusakan dengan rincian 1.472 rumah rusak ringan, 111 rumah rusak sedang, dan 69 rumah rusak berat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wilayah terdampak paling parah yakni Desa Kamarora A dan Desa Kamarora B, di Kecamatan Nokilalaki. Rumah warga di dua desa tersebut rata-rata mengalami kerusakan berat. Warga kemudian mendirikan tenda di halaman rumah.
Warga bernama Lindo mengaku rumahnya juga terdampak gempa pada 2018 silam. Setelah dua kali diguncang gempa, rumahnya sudah tidak bisa ditempati sehingga mengungsi dengan mendirikan tenda.
"Waktu gempa 2018 lalu, rumah juga rusak, ada retak dan terbelah, tapi tidak separah sekarang," kata Lindo saat ditemui detikcom di pengungsian, Desa Kamarora B, Jumat (19/6/2026).
Rumah warga di Sigi rusak imbas gempa. (Rangga Musabar/detikcom) |
Lindo menuturkan, pascagempa 2018 lalu, dirinya sudah beberapa kali didata oleh aparat desa maupun petugas terkait. Namun, bantuan rehabilitasi rumah tidak pernah diterima.
"Tidak ada sama sekali bantuan rumah. Kami sudah dimintakan KTP dan KK," terangnya.
Lindo mengaku tidak mengetahui penyebab dirinya tidak masuk dalam daftar penerima bantuan saat itu. Dia pun melakukan rehabilitasi rumahnya secara mandiri.
Ia berharap, dampak bencana gempa tahun ini dirinya bisa menerima bantuan. Terlebih, rumahnya kembali mengalami kerusakan cukup parah dan sudah tidak layak huni.
"Kami ini orang tidak tahu apa-apa. Tidak tahu (tidak paham) bantuan-bantuan seperti itu. Semoga dapat tahun ini bantuannya," paparnya.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Afrina. Dia mengaku rumahnya juga mengalami kerusakan akibat gempa 2018, namun hingga kini belum pernah menerima bantuan rehabilitasi.
"Waktu 2018 ada bagian rumah rusak pada bagian dapur, tapi memang tidak ada kita dapat bantuan," ujarnya.
Afrina mengatakan gempa yang kembali terjadi tahun ini membuat kondisi rumahnya rusak parah. Dia berharap pemerintah memberikan perhatian kepada warga yang belum pernah menerima bantuan sejak bencana sebelumnya.
"Ini sudah dua kali gempa dan tidak pernah dapat bantuan. Untuk sekarang juga belum tahu bagaimana nanti. Syukur ada yang datang melihat dan meliput supaya kondisi kami diketahui," ujarnya.
Selain bantuan perbaikan rumah, Afrina mengaku warga masih membutuhkan bantuan kebutuhan dasar di lokasi pengungsian.
"Kami butuh tenda. Kalau hujan tempat pengungsian becek, terpaksa tidur di tempat yang basah," katanya.
Sementara itu, warga lainnya, Juanda, mengatakan bantuan yang diterima warga sejauh ini berupa tenda darurat. Namun jumlahnya dinilai masih belum mencukupi kebutuhan para korban gempa.
"Tadi ada bantuan tenda dan sudah kami pasang. Tapi kami masih sangat membutuhkan tenda tambahan karena masih banyak barang yang berhasil diselamatkan dari rumah rusak dan tidak ada tempat menyimpannya," kata Juanda.
Simak Video "Video: Gempa M 7,6 Guncang Bitung Sulut "
[Gambas:Video 20detik]
(hsr/hsr)

