Tatkala ditanya perihal resep bertahan di era akal imitasi (AI), CEO Microsoft, Satya Nadella, dengan mantap menjawab: "Every organization will need to become an AI-first organization".
Bukan gedung megah, dana besar, atau restrukturisasi birokrasi yang disarankan, melainkan keharusan memulai budaya kerja dan tata kelola yang berbasis AI agar tetap relevan. Pesan ini menandakan bahwa persaingan ke depan ditentukan oleh kepandaian berasimilasi dengan teknologi, bukan semata-mata besarnya aset yang dimiliki.
Lantas, di manakah posisi perguruan tinggi? Haruskah ia tetap bertahan dengan pedagogi klasik yang sudah jadi tradisi? atau berani bertransformasi mengikuti laju teknologi yang kian lesat?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang jelas, gelombang digitalisasi sudah menerpa seluruh sendi kehidupan. Kampus yang enggan menyesuaikan diri, hanya akan menjelma menara gading yang megah, namun kian tenggelam dalam disrupsi teknologi.
Pemerhati Pendidikan, John Dewey, sejak dulu mengingatkan bahwa mengajar generasi hari ini dengan cara kemarin, sama saja dengan merampas hari esok mereka. Sebegitu pentingnya adaptasi pendidikan, hingga menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib Ra, berpesan agar kita senantiasa mendidik anak-anak kita sesuai dengan zaman mereka. Bahkan Nabi SAW sendiri pernah bersabda bahwa orang beruntung adalah mereka yang hari ini lebih baik dari hari kemarin.
Jika Islam tidak anti perubahan demi kemaslahatan, demikian pula seharusnya perguruan tinggi Islam. Dalam laporan bertajuk "AI and Education: Guidance for Policy-Makers", UNESCO menegaskan potensi besar AI dalam mempercepat inovasi pembelajaran dan meningkatkan kualitas tata kelola pendidikan tinggi. Maka, sebagai perguruan tinggi islam yang mengusung diri "Kampus Unggulan dan Berdampak", Universitas Muslim Indonesia (UMI) menyambut digitalisasi dengan tangan terbuka dan menegaskan langkahnya bertransformasi menjadi "Kampus Cerdas" (embracing smart university).
Komitmen itu bukan sekadar slogan. Ketika banyak perguruan tinggi masih mendiskusikan peluang dan risiko AI, UMI telah mengambil langkah konkret. Pada Oktober 2025, jauh sebelum terbitnya Surat Keputusan Bersama Delapan Menteri tentang Pedoman Pemanfaatan Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial dalam Pembelajaran, UMI sudah lebih dulu menerbitkan Peraturan Rektor Nomor 03 Tahun 2025 tentang Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan Generatif Berbasis Nilai-Nilai Islami.
Dalam beleid tersebut ditegaskan bahwa penggunaan AI harus mendukung misi Caturdharma UMI-pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan dakwah-dengan tetap menjunjung tinggi prinsip integritas, kejujuran (shidq), keadilan, keterbukaan (tabyin), kemanfaatan (maslahah), tanggung jawab (amanah), serta keterbukaan (tabyin). Transparansi penggunaan AI dalam karya ilmiah, pencegahan plagiarisme dan manipulasi, juga pengawasan dan sanksinya pun tak ada yang luput. Artinya, UMI tidak hanya mengadopsi AI, tapi juga membangun tata kelola yang etis dan selaras dengan nilai-nilai Islam sebagai fondasi menuju smart university.
Tentu saja, menjadi kampus cerdas tidak cukup hanya dengan kebijakan normatif, membangun gedung yang futuristik, atau peresmian sekelumit aplikasi digital. Ruh smart university justru terletak pada kemampuan menjadikan teknologi dan data sebagai "nadi penggerak" kampus dalam melahirkan keputusan yang efektif, pembelajaran yang inovatif, riset yang lebih produktif, serta layanan yang lebih responsif (Uskov et al., 2017).
Kesadaran inilah yang tampaknya dibaca dan dicermati dengan saksama oleh jajaran pimpinan UMI. Alih-alih memandang digitalisasi sebagai tren dan selera mahasiswa Gen-Z yang membikin banyak kampus menjadi FOMO, UMI memilih menempatkannya sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam menyiapkan kampus yang relevan dengan perkembangan zaman.
Untuk kampus sebesar UMI, transformasi jelas tidak cukup dilakukan dari balik ruang rapat saja. Ia menuntut kerja-kerja yang berani, cepat, dan tepat. Upaya tersebut tercermin dari lawatan strategis pimpinan Yayasan Wakaf UMI dan UMI ke Tiongkok, untuk belajar langsung dari ekosistem yang unggul. Sebagai salah satu pusat perkembangan teknologi digital, AI, smart city, dan pendidikan berbasis teknologi, Tiongkok menawarkan nilai dan wawasan yang strategis bagi perguruan tinggi yang ingin bertransformasi.
Berbekal semangat "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina," yang populer dalam tradisi Islam, delegasi UMI yang dipimpin Rektor Prof. Hambali Thalib turun gunung menjajaki kerja sama dengan Ruijie Networks Ltd., perusahaan teknologi jaringan asal Tiongkok yang mahsyur dikenal sebagai penyedia solusi smart campus, dan infrastruktur digital berbasis AI untuk berbagai institusi pendidikan di Asia.
Rombongan juga mengunjungi Minjiang University, sebagai jajaran elit 8,5 persen universitas terbaik dunia menurut Center for World University Rankings. Selebihnya, kampus ini punya nilai historis tersendiri karena pernah dinahkodai oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping. Nama yang saat ini sering disandingkan dengan tokoh berpengaruh dunia sekelas Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Selama di sana, berbagai praktik terbaik mulai dipelajari, mulai dari pengembangan ekosistem kampus berbasis AI, sistem akademik digital yang terintegrasi, smart classroom, hingga tata kelola berbasis data. UMI bahkan tengah menjajaki kolaborasi pembukaan Program Studi Artificial Intelligence (AI) bersama Minjiang University. Langkah ini menunjukkan bahwa UMI tidak ingin sekadar menjadi konsumen teknologi, melainkan juga produsen sumber daya manusia masa depan yang terampil.
Dari sana, ada pelajaran berharga yang bisa dipetik, bahwa kemajuan pendidikan tidak lahir secara instan, melainkan lewat visi jangka panjang, tata kelola yang kuat, serta keberanian beradaptasi. Seperti Minjiang yang punya Xi Jin Ping, Ketua Pembina Yayasan UMI, Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, berharap UMI juga dapat melahirkan tokoh besar yang berpengaruh positif bagi kemajuan peradaban dunia.
Akademisi UMI Rizki Ramadani. Dokumen Istimewa |
Namun, kemajuan teknologi saja tidak cukup untuk membangun peradaban. Karena itu, di tengah agenda akademik dan kemitraan internasional, delegasi UMI juga membawa misi kemanusiaan dan dakwah yang menjadi ruh UMI sebagai perguruan tinggi Islam. Komitmen tersebut diwujudkan melalui silaturahmi dengan komunitas Muslim di Fuzhou serta penyerahan bantuan sebesar RMB 196.000, atau sekitar Rp.500 juta, kepada Masjid Fuzhou melalui LAZ Yayasan Wakaf UMI sebagai simbol kepedulian dan penguatan ukhuwah lintas bangsa.
Di sinilah letak kekhasan sekaligus kekuatan UMI. Transformasi menuju smart university tidak harus dengan menanggalkan identitas keislamannya. Teknologi ditempatkan laiknya bahtera, sementara nilai-nilai Islam menjadi kompas yang mengarahkan pengemudinya.
Pada akhirnya, perjalanan UMI ke Tiongkok menghadirkan satu pelajaran penting. Tidak hanya UMI, Di era AI ini, tantangan terbesar perguruan tinggi Islam bukanlah memilih antara kitab atau komputer, antara tradisi versus teknologi, melainkan memastikan keduanya berjalan beriringan untuk melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, dan siap memimpin peradaban. Semangat inilah yang tampaknya menjadi arah transformasi UMI: menjadi modern tanpa kehilangan jati diri, menjadi global tanpa tercerabut dari akar nilai, serta menjadi kampus cerdas yang tetap memuliakan ilmu, ibadah, dan kemanusiaan.
Oleh Akademisi UMI Rizki Ramadani, SH, MH.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
(hmw/hmw)












































