Puisi Hari Kebangkitan Nasional menjadi salah satu sarana untuk menumbuhkan semangat persatuan, cinta tanah air, dan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia. Melalui rangkaian kata yang penuh makna, puisi juga dapat menjadi pengingat akan perjuangan para pahlawan dalam membangkitkan kesadaran nasional dan semangat perjuangan bangsa.
Bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional setiap 20 Mei. Peringatan ini tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para tokoh dan pahlawan bangsa, tetapi juga menjadi pengingat bagi generasi muda untuk terus menumbuhkan rasa cinta tanah air, menjaga persatuan, serta mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif dan bermanfaat bagi Indonesia.
Puisi bertema Hari Kebangkitan Nasional biasanya mengangkat semangat perjuangan, nasionalisme, persatuan dalam keberagaman, hingga harapan untuk masa depan bangsa. Selain itu, puisi juga sering menjadi media untuk menyampaikan ajakan agar masyarakat bersatu dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi detikers yang sedang mencari inspirasi puisi untuk tugas, persembahan, atau lomba, berikut kumpulan puisi bertema Hari Kebangkitan Nasional yang singkat, penuh makna, dan membangkitkan semangat nasionalisme.
Kumpulan Puisi Hari Kebangkitan Nasional
Berikut berbagai puisi yang cocok untuk peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang dihimpun detikSulsel dari berbagai sumber:
"Dr. Wahidin Sudirohusada"
Oleh: Sri Widayati
Engkau pengobar semangat kebangsaan
Gagasan-gagasanmu sungguh sangat cemerlang
Kau bebaskan dari keterbelakangan
Dan juga penderitaan
Kau tumbuhkan semangat dan budaya membaca
Untuk masyarakat dan kalangan pemuda
Terbitkan majalah Retna Doemilah namanya
Engkau pembakar semangat para pemuda Indonesia
Penggagas lahirnya organisasi Budi Utomo
Organisasi kebangsaan yang pertama di Indonesia
Dua puluh Mei sembilan belas nol delapan berdirinya
Yang kini setiap tanggal dua puluh Mei
Kita peringati sebagai Hari Kebangkitan nasional
"Gerilya"
Oleh: WS Rendra
Tubuh biru
Tatapan mata biru
Lelaki berguling di jalan
Angin tergantung
Terkecap pahitnya tembakau
Bendungan keluh dan bencana
Tubuh biru
Tatapan mata biru
Lelaki berguling di jalan
Dengan tujuh lubang pelor
Diketuk gerbang langit
Dan menyala mentari muda
Melepas kesumatnya
Gadis berjalan di subuh merah
Dengan sayur-mayur di punggung
Melihatnya pertama
Ia beri jeritan manis
Dan duka daun wortel
Tubuh biru
Tatapan mata biru
Lelaki berguling di jalan
Orang-orang kampung mengenalnya
Anak janda berambut ombak
Ditimba air bergantang-gantang
Disiram atas tubuhnya
Tubuh biru tatapan mata biru
Lelaki berguling di jalan
Lewat gardu Belanda dengan berani
Berlindung warna malam Sendiri masuk kota
Ingin ikut ngubur ibunya.
"Diponegoro"
Oleh: Chairil Anwar
Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai.
Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang.
"Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini"
Oleh: Taufik Ismail
Tidak ada pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
"Duli Tuanku ?"
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
"Kubu"
Oleh: Subagio Sastrowardoyo
Bagaimana akan bergembira kalau pada detik ini ada bayi mati kelaparan
atau seorang istri bunuh diri karena sepi
atau setengah rakyat terserang wabah sakit -
barangkali di dekat sini atau jauh di kampung orang,
Tak ada alasan untuk bergembira selama masih ada orang menangis
di hati atau berteriak serak
minta merdeka sebagai manusia yang terhormat dan berpribadi -
barangkali di dekat sini atau jauh di kampung orang.
Inilah saatnya untuk berdiam diri dan berdoa
untuk dunia yang lebih bahagia atau menyiapkan senjata
dekat dinding kubu dan menanti.
"Hari kebangkitan Nasional"
Oleh: Khadijah
Hari kebangkitan ini
Bukan sekadar untuk seremoni
Diperingati tapi tak lagi berarti
Dimeriahkan tapi tak ada makna tergapaikan
Hari Kebangkitan ini
Tak lain adalah pengingat
Apa yang telah dipersembahkan untuk bangsa ini
Kebangkitan apa yang kita gaungkan
Ini adalah soal
Kebangkitan sejati
Bukan hanya tradisi
Persembahan terbesar untuk hari ini
Bukan seremoni, puisi,
Tapi aksi nyata bagi negeri
Selamat hari kebangkitan nasional.
"Hari Kebangkitan Ini"
Oleh: Prito Windiarto
Hari kebangkitan ini
Bukan sekadar untuk seremoni
Diperingati tapi tak lagi beri arti
Dimeriahkan tapi tak ada makna tergapaikan
Hari Kebangkitan ini
Tak lain adalah pengingat
Apa yang telah dipersembahkan untuk bangsa ini
Kebangkitan apa yang kita gaungkan
Ini adalah soal
Kebangkitan sejati
Bukan hanya tradisi
Persembahan terbesar untuk hari ini
Bukan seremoni, puisi,
Tapi aksi nyata bagi negeri.
"Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini"
Oleh: Taufik Ismail
Tidak ada pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
"Duli Tuanku?"
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
"Sajak Untukmu Nak"
Oleh: Yulia Nugroho
107 tahun Budi Utomo Lahir
Diabadikan dengan HARKITNAS
Jiwa Nasionalis tanpa pamrih
Tidak hanya adu argumen
Berani unjuk bukti nyata
Kini ... kami ... kalian
Pemuda 107 tahun dan seterusnya
Dari Budi Utomo berdiri
Hanya sibuk upload foto selfie, Update Status dalam semua aplikasi
Gaya hidup di agungkan, Para elite organisasi saling menjatuhkan
Nak, Hari ini 20 Mei usiamu genap 2 tahun
Banyak harap dalam doa
Ada Cemas dalam bahagia
Akan seperti apa dunia setelah engkau dewasa kelak
Jiwa dan raga ini terus berusaha menjaga dan mendidik
Sambil Hati dan mulut ini terus berbisik
Tuhan
Sholehkan hati dan jiwanya
Jadikan takwa dalam Islam sebagai pedomannya
Aamiin
"Bangkitlah Indonesia Ku"
Oleh: Nadia Ayu Puspita
Buka mata wahai pemuda, yang tua, putra dan putri bangsa ini
Sudah sekian lama kita dijajah oleh negara asing
Kapan kita akan bangkit?
Indonesiaku
Bangkitlah, Indonesiaku
Dengan seluruh perjuangan para pahlawan
Sudah kewajibanku untuk melanjutkannya
Aku, untuk Indonesiaku
Bumi pertiwiku
Yang sangat aku banggakan
Yang sangat aku cintai
Berdirilah engkau, bangkitlah engkau, bangkitlah, Indonesiaku.
"Membangun Negeri"
Karya: Yongky Yulius
Apakah membangun negeri
Hanya kewajiban para petinggi
Keharusan para menteri
Apakah membangun negeri
Hanya bisa dilakukan
Orang yang bukan uang miliaran
Apakah hanya orang
Yang punya jabatan?
Tidak, tentu tidak,
Ini adalah kewajiban semua
Orang yang dilahirkan di bumi pertiwi
Jengkal tanahnya adalah kewajiban kita tuk lestarikan
Olah dan hasilkan
Tidak mesti dengan kekayaan
Pikiran dan tenaga amat berharga
Hari Kebangkitan ini
Tak lain adalah pengingat
Apa yang telah dipersembahkan untuk bangsa ini
Kebangkitan apa yang kita gaungkan
Ini adalah soal
Kebangkitan sejati
Bukan hanya tradisi
Persembahan terbesar untuk hari ini:
Bukan seremoni, puisi,
Tapi aksi nyata bagi negeri.
"Bangkitlah Putra-Putri Negeri"
Karya: Arif Rahmawan
Lihatlah wajah bangsa Indonesia
akhir-akhir ini seperti tercabik-cabik
oleh egoisme
kelicikan
disintegrasi
kemiskinan
kejahatan
penyalahgunaan kekuatan politik
dan oleh pemaksaan kehendak sekelompok massa
Semua itu terbaca jelas melalui media massa
atau sosial media
Wahai para pemuda
di pundakmu terpikul beban berat tersebut
yang harus engkau singkirkan
semua persoalan itu harus terselesaikan
Melalui peringatan hari kebangkitan nasional
ini saatnya kita bersama
berdiri berbaris di bawah kibaran bendera merah putih
hanya merah putih
Merah Putih...
kita harus menghilangkan perbedaan Suku Agama Ras dan Antar Golongan
demi tercapainya bangsa Indonesia yang melindungi segenap rakyatnya
sebagaimana tujuan para pendiri bangsa Indonesia
"Semangat Pemuda untuk Kebangkitan Indonesiaku"
Oleh: Nasywa Syifa
Kita adalah adalah pemuda terbaik bangsa
Dengan semangat bersumpah menjaga persatuan
Hari ini tak ada kata Merdeka, merdeka, dan merdeka
Karena pemuda terbaik Indonesia kini lebih mencontoh dengan gerakan bukan ucapan
Tak peduli siapa engkau dan siapa mereka
Jika kau adalah aku
Maka jaga sumpah pemuda yang dulu pemuda Indonesia Ikrarkan
Berjanjilah dengan sumpah setia pada Negara
Karena kau dan aku adalah Indonesia
Gelorakan semangat pemuda dalam diri kita
Kita adalah Indonesia
Inilah kebangkitan Indonesiaku
Inilah Semangat Sumpah Pemuda diriku untuk negeri bernama INDONESIA.
"Budi Utomo, 20 Mei 1908"
Karya: Anonim
Ratusan tahun sudah bangsa Indonesia
yang dahulu bernama nusantara
hidup dalam belenggu penjajahan
bangsa-bangsa Eropa
dan Kerajaan Jepang
Tak kurang-kurang perjuangan-perjuangan
dan peperangan bersenjata terjadi di mana-mana
Namun penjajah tak kunjung pergi dari bumi nusantara
Penjajah sangat licik dan culas
Sementara pejuang nusantara terlalu frontal
menghadapi penjajah
Semua itu menggelisahkan putra-putri negeri ini
dengan cara apa mengusir penjajah
Akhirnya, melalui pemikiran yang mendalam
dan kehendak untuk mengibarkan bendera merah putih
di seantero negei
di sekolah kedokteran, STOVIA
Lahirlah organisasi bernama Budi Utomo
dengan tekad membaja
mereka, sekelompok pemuda
berjuang melalui jalur pemikiran dan diplomasi
menghadapi penjajah yang serakah
Mereka berjuang mati-matian
mewujudkan tekad Indonesia Merdeka
bangkitlah bangsaku
bangkitlah putra putri negeriku
Indonesia Merdeka
"Semangat Juang Harkitnas"
Oleh: Anonim
Lengan baju lusuh tersingsing
Tanda tak gentar lawan yang asing
Melawan kebodohan dengan pemberontakan
Bukan lagi lagu lama karna penindasan
Engkau hadir di masa suram
Engkau tak takut menggapai malam
Kau kerahkan segala usaha
Demi semangat juang Harkitnas
Jayalah pejuang, jayalah negeriku
Demi kebebasan, suara rakyat negerimu.
(alk/alk)
