2 Kali Nobar Film 'Pesta Babi' di Ternate Dibubarkan TNI

2 Kali Nobar Film 'Pesta Babi' di Ternate Dibubarkan TNI

Tim detikcom - detikSulsel
Kamis, 14 Mei 2026 07:07 WIB
Dandim 1501 Ternate, Letkol Inf Jani Setiadi membubarkan kegiatan nonton bareng film dokumenter Pesta Babi di Benteng Oranje Ternate.
Foto: Dandim 1501 Ternate, Letkol Inf Jani Setiadi membubarkan kegiatan nonton bareng film dokumenter Pesta Babi di Benteng Oranje Ternate. (Nurkholis Lamaau/detikcom)
Ternate -

Nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi di Kota Ternate, Maluku Utara, dua kali dibubarkan aparat TNI dalam sepekan terakhir. Pembubaran terjadi dalam kegiatan yang digelar AJI Ternate hingga mahasiswa Universitas Khairun (Unkhair).

TNI pertama kali membubarkan nobar Pesta Babi yang digelar AJI Ternate bersama Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) Maluku Utara di Pendopo Benteng Oranje, Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah, Jumat (8/5) pukul 20.00 WIT. TNI menuding film tersebut bersifat provokatif.

"Kami memonitor kegiatan ini. Kemudian keberadaan kegiatan ini, kami melihat di media sosial, banyaknya penolakan akan kegiatan film ini, karena banyak yang menilai ini bersifat provokatif dari judulnya," ujar Dandim 1501 Ternate Letkol Inf Jani Setiadi kepada wartawan, Jumat (8/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini bukan pendapat pribadi saya. Tapi jika tidak percaya, akan saya tunjukan, banyak yang sifat provokatif menurut masyarakat, menurut di media sosial," ujarnya.

Jani meminta kegiatan nobar tersebut tidak dilanjutkan karena isu SARA di Maluku Utara dinilai sensitif dan mudah dipolitisir. Meski demikian, dia mempersilakan pihak penyelenggara tetap melanjutkan agenda diskusi.

ADVERTISEMENT

"Berdiskusi tentang pelestarian lingkungan hidup itu hal yang positif, silakan dilanjutkan. Kemudian untuk kegiatan (nobar) saya minta tolong dihentikan, agar tidak dijadikan bahan (untuk) dipolitisir kemudian hari," tuturnya.

Menurut Jani, dampak dari pemutaran film itu dikhawatirkan dapat muncul beberapa hari setelah kegiatan berlangsung. Dia pun mengajak semua pihak menjaga situasi keamanan di Maluku Utara, khususnya di Kota Ternate.

"Mari kita saling bekerja sama, mari kita saling menghargai, kami selaku aparat punya tanggung jawab dalam rangka menjaga keamanan maupun kondusif wilayah yang menjadi tanggung jawab kami," imbuh Jani.

Giliran Nobar Film Pesta Babi di Unkhair Dibubarkan

TNI kembali membubarkan nobar film Pesta Babi yang berlangsung di gedung UKM Karfapala Unkhair Ternate, Kecamatan Ternate Selatan, Selasa (12/5) sekitar pukul 22.56 WIT. Pembubaran ini menjadi yang kedua dalam sepekan terakhir.

"Katanya kami tidak punya izin keramaian di luar jam kampus," ujar Ketua Umum Keluarga Besar Arfat Pecinta Alam (Karfapala) Unkhair Ternate, Asriati La Abu kepada detikcom, Rabu (13/5/2026).

Asriati mengatakan kegiatan nobar awalnya didatangi sekuriti kampus yang datang untuk mengambil dokumentasi kegiatan. Tidak lama kemudian, sekuriti kembali datang bersama satu anggota TNI.

"Kedatangan pertama sekuriti hanya untuk mengambil dokumentasi kegiatan. Setelah itu, sekuriti kembali datang untuk kedua kalinya bersama satu anggota TNI," katanya.

Anggota TNI bersama sekuriti kampus membubarkan nonton bareng film Pesta Babi di Universitas Khairun Ternate.Anggota TNI bersama sekuriti kampus membubarkan nonton bareng film Pesta Babi di Universitas Khairun Ternate. Dokumen Istimewa

Menurut Asriati, kehadiran anggota TNI memicu perdebatan panjang dengan peserta nobar. Setelah perdebatan berlangsung, kegiatan akhirnya dihentikan sekitar pukul 22.56 WIT.

"Komunikasi dengan pihak sekuriti kampus berjalan baik, sementara dengan anggota TNI hanya terjadi cekcok hingga yang bersangkutan meninggalkan lokasi," ucapnya.

AJI Ternate Kecam Pembubaran Nobar Film Pesta Babi

Ketua AJI Ternate Yunita Kaunar mengecam tindakan TNI yang membubarkan kegiatan nobar tersebut. Dia menegaskan kegiatan itu merupakan bagian dari kebebasan berekspresi dan hak warga memperoleh informasi sebagaimana dijamin konstitusi.

"Ini bukan sekadar pembubaran nobar film, tapi bentuk nyata intimidasi terhadap ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi warga. Aparat tidak seharusnya menjadi pihak yang menentukan karya apa yang boleh atau tidak boleh ditonton masyarakat," tegas Yunita dalam keterangannya, Sabtu (9/5).

Yunita menilai kehadiran aparat sejak awal kegiatan, termasuk tindakan mendokumentasikan panitia dan peserta, telah menciptakan rasa takut dan tekanan psikologis. Menurutnya, cara seperti itu mengingatkan publik pada praktik pembungkaman di masa lalu.

Dia juga menilai alasan potensi konflik yang disampaikan aparat tidak bisa dijadikan dasar pembubaran kegiatan. Sebab, kegiatan nobar dan diskusi berlangsung damai tanpa unsur provokasi.

"Kalau setiap karya kritis dianggap ancaman lalu dibungkam, maka demokrasi sedang berada dalam situasi berbahaya. Negara tidak boleh takut terhadap diskusi dan film dokumenter," imbuh Yunita.




(hmw/hmw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads