Setiap bulan April, ingatan masyarakat Indonesia secara kolektif akan tertuju pada kebaya, sanggul, dan surat-surat tentang pendidikan. Namun, jika menengok ke timur, tepatnya Makassar, akan ada wajah lain dari perjuangan perempuan. Ia adalah Emmy Saelan, seorang pejuang wanita yang memilih berjuang dengan ikut mengangkat senjata.
Ia sebenarnya adalah seorang perawat, sosok yang identik dengan kelembutan dan kasih sayang. Namun, ketika Belanda mencoba mengoyak kembali kemerdekaan Indonesia melalui agresi militer pasca-proklamasi, ia memilih berdiri di garis depan perjuangan.
Upaya Belanda merebut kemerdekaan terjadi sekitar tahun 1945-1949 melalui peristiwa agresi militer pertama dan kedua. Sebagai bentuk perlawanan rakyat Indonesia, lahirlah laskar-laskar perlawanan di berbagai wilayah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Sulawesi, dibentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) pada tahun 1946 di bawah komando Ranggong Daeng Romo. Dalam upaya perjuangan melawan Belanda, Emmy Saelan kemudian bergabung dengan gerakan tersebut.
"Bentuk perlawanannya macam-macam. Terjun langsung ke dalam medan pertempuran, membantu pasukan yang bertempur langsung, menjadi mata-mata, dapur umum, persiapan-persiapan lainnya dan sebagainya," tutur Sejarawan Universitas Hasanuddin (Unhas) Ilham Daeng Makkelo kepada detikSulsel, Kamis (21/4/2022).[1]
Mendapatkan Misi sebagai Mata-mata LAPRIS
Perjuangan Emmy Saelan melawan Belanda dimulai ketika ia bersama beberapa teman kerjanya di RS Stella Maris melakukan aksi pemogokan. Aksi itu dilakukan sebagai protes atas penangkapan dan pengasingan Gubernur Sulawesi pada 5 April 1946 oleh Belanda.
Akibat aksi itu, pihak rumah sakit lalu melakukan pengamatan terhadap pegawai yang terindikasi pro-republiken. Emmy Saelan yang menyadari hal tersebut lantas memutuskan meninggalkan Stella Maris pada Juli 1946.
Ia memutuskan menyusul Maulwi Saelan ke Takalar, yang pada masa itu menjadi tempat pusat perjuangan para pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan. Sebagai tenaga Kesehatan, Emmy Saelan bergabung dalam LAPRIS sebagai penanggung jawab dalam Bagian Palang Merah.
Selain bertugas merawat para pejuang yang terluka, Emmy Saelan turut berjuang dengan mengangkat senjata. Pada masa-masa perjuangan tersebut, Emmy Saelan mendapatkan misi spionase alias menjadi mata-mata.
Misi tersebut dibebankan kepada Emmy Saelan bukan tanpa alasan, dia dianggap mengetahui seluk-beluk Kota Makassar karena pernah bertugas di Rumah Sakit Stella Maris. Dalam misi itu, ia diperintahkan bertolak ke Makassar untuk menggali informasi mengenai kekuatan KNIL/NICA.[2]
Emmy Saelan didampingi oleh Sangkala Tinggi saat menjalankan misi sebagai mata-mata tersebut. Begitu sampai di pinggiran kota, Emmy Saelan dan Sangkala Tinggi menunggu waktu yang tepat untuk menyusup ke dalam kota.
Dua hari penantian, Emmy Saelan dan Sangkala Tinggi tak kunjung menemukan kesempatan yang tepat untuk menyusup. Setelah mempertimbangkan kondisi, Sangkala Tinggi memutuskan bertolak menuju markas LAPRIS di Takalar dan bertemu dengan Ranggong Daeng Romo. Sedangkan Emmy Saelan memutuskan untuk bertahan di Makassar dan menunggu waktu yang tepat menyusup ke kota.
Setibanya di Takalar, Sangkala Tinggi melaporkan bahwa proses penyusupan tidak berhasil. Dia juga melaporkan bahwa dalam perjalanannya ia berpapasan dengan iring-iringan pasukan dari LAPRIS.
Ranggong Daeng Romo lalu memerintahkan Sangkala Tinggi dan seorang pemuda lainnya bernama Sonrong untuk menyusul pasukan tersebut. Sebelum Sangkala berhasil menyusul, pasukan tersebut telah berada di pinggiran kota dan bergabung dengan Emmy Saelan yang berada di lokasi pemantauan.
Sementara itu, posisi Emmy Saelan telah terbaca oleh pihak lawan. Kontak senjata antara Emmy Saelan bersama pasukan LAPRIS melawan KNIL/NICA pun tidak terhindarkan.
Memilih Gugur Bersama Ledakan Granat
Kontak senjata antara pasukan gabungan dari LAPRIS bersama Emmy Saelan melawan KNIL/NICA terjadi pada 20 Januari 1947 dan berlangsung hingga malam hari. Posisi Emmy Saelan dan pasukan gabungan LAPRIS terdesak hingga ke daerah Tidung.
Pada 21 Januari 1947, beberapa pasukan dari LAPRIS berhasil ditangkap dan menjadi tawanan. Sementara posisi Emmy Saelan telah terkepung oleh KNIL/NICA.[3]
Ketika pasukan merangsek ke markas-markas laskar pemuda, termasuk ke Desa Tidung, Wolter Mongisidi yang saat itu memimpin pasukan Laskar Pemuda di Tidung meminta Emmy Saelan memisahkan diri. Dia memerintahkan Emmy Saelan untuk menuju ke Kassi-kassi membawa pemuda yang terluka.
Rupanya perjalanan Emmy Saelan ke Kassi-kassi tidak berjalan mulus. Di tengah perjalanan, mereka bertemu pasukan tentara KNIL/NICA. Mereka pun semakin terdesak karena kalah jumlah. Dalam situasi genting tersebut, Belanda mencoba membujuk Emmy Saelan agar menyerahkan diri.
Tentu saja Emmy Saelan menolak. Situasi semakin pelik karena pasukan Belanda terus merangsek. Ketika tentara Belanda mendekat, terdengar bunyi letusan. Rupanya Emmy Saelan meledakkan granat yang ada di genggamannya, ia melempar granat tangan tepat sebelum tembakan musuh mengenai tubuhnya.
Granat meledak tepat di kerumunan pasukan musuh, menyebabkan delapan tentara KNIL tewas. Sang pejuang perempuan itu pun turut gugur bersamaan dengan ledakan granat.[4]
Mengenal Sosok Emmy Saelan
Emmy Saelan memiliki nama asli Salmah Soehartini Saelan. Ia merupakan anak pertama dari 8 bersaudara, lahir di Makassar pada 15 Oktober 1924.
Terlahir dari pasangan Amin Saelan dan Sukamtin, keluarga Emmy Saelan dikenal sebagai pendidik dan pejuang di Makassar. Ayahnya, Amin, merupakan tokoh Perguruan Taman Siswa di Makassar.
Emmy Saelan memiliki seorang adik laki-laki bernama Maulwi Saelan yang juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia. Maulwi merupakan mantan ajudan Sukarno. Ia juga merupakan tokoh sepak bola, pernah menjadi memimpin Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (1964-1967).
Emmy dan Maulwi seringkali saling berkolaborasi di lapangan untuk mempertahankan kemerdekaan pada masa-masa ketika Belanda ingin kembali merebut Indonesia.[4]
Pada saat menduduki bangku sekolah dasar, Emmy Saelan tercatat sebagai murid sekolah di Eerste Europesche Large School. Setelah lulus, dia melanjutkan pendidikannya ke Horge Burger School di Makassar, di sekolah tersebut jarang sekali terdapat anak-anak pribumi karena akses pendidikan dibatasi pemerintah Hindia Belanda.
Jika ada pribumi yang bersekolah di Horge Burger School, biasanya mereka berasal dari anak-anak bangsawan kerajaan ataupun anak pegawai yang mempunyai hubungan tertentu dengan pemerintah Hindia Belanda.
Pada jenjang Pendidikan tersebut, Emmy Saelan menempuh pendidikan hanya sampai kelas 4 (empat) di sekolah itu. Di tahun 1942, Jepang telah menggantikan kedudukan bangsa Belanda yang berkuasa saat itu sehingga model pendidikan pun ikut mengalami perubahan dan disesuaikan dengan model pendidikan Jepang.
Emmy Saelan kemudian melanjutkan pendidikannya di sekolah Cu Gakko (Setara SMA) dan berhasil menyelesaikan studinya selama setahun. Setelah tamat pada jenjang tersebut, Emmy Saelan mengajukan permohonan kepada pemerintah Jepang untuk melanjutkan pendidikan ke pulau Jawa namun tidak mendapat izin.
Tak putus semangat, Emmy Saelan akhirnya melanjutkan pendidikan di sekolah kursus tabib yang bertempat di rumah sakit Stella Maris. Pada sekolah tabib ini, Emmy Saelan mendapat pelajaran teoritis dan pelajaran praktis merawat orang sakit dari dokter-dokter Jepang.
Seluruh pembelajaran di sekolah tabib ini menggunakan bahasa Jepang dan tulisan kanji (Jepang). Kendati demikian, hal tersebut sama sekali tidak menyusutkan semangat Emmy Saelan untuk mempelajari ilmu kesehatan. Ia pun dengan semangat menghafal istilah-istilah yang menggunakan huruf kanji yang cukup sulit dipelajari.[3]
Kepribadian Emmy Saelan
Sosok Emmy saelan digambarkan digambarkan sebagai orang tidak pernah membedakan teman dalam pergaulannya. Dia selalu bersikap baik tanpa membeda-bedakan orang-orang kecil maupun orang-orang besar.
Meskipun berasal dari keluarga yang cukup berada, Emmy Saelan juga dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana dalam kehidupan sehari-harinya.
Emmy Saelan memiliki kemampuan menempatkan diri dalam pergaulan dan tataran sosial masyarakat Makassar saat itu. Karakternya itu membuat ia bisa diterima dengan baik oleh masyarakat Makassar meskipun dirinya yang notabene "bukan warga asli".
Hal ini juga dikarenakan Emmy Saelan merupakan seorang yang terpelajar. Selain itu, juga didukung oleh orang tuanya juga yang memiliki kedudukan di pemerintahan kota saat itu.
Kepribadian seorang Emmy Saelan juga diuraikan dalam sejarah Militer Kodam XIV Hasanuddin. Sosok Emmy Saelan digambarkan sebagai gadis yang pintar, kalem, manis, dan selalu tersenyum. Dari matanya tercermin kejujuran dan keanggunan. Emmy Saelan memiliki figur keibuan. Badannya tegap, kuat hampir gemuk tapi atletis.
Dia digambarkan sebagai wanita yang pemberani tetapi tidak suka dipuji. Gerakannya lamban namun penuh siasat. Segala hal yang dilakukannya selalu penuh dengan pertimbangan dan perhitungan.[5]
Secara fisik, Emmy Saelan memiliki kulit yang putih bersih sehingga dijuluki Daeng Kebo. Semasa bergerilya dia menggunakan julukan tersebut sebagai nama samaran.[4]
Referensi:
- Wawancara Sejarawan Universitas Hasanuddin (Unhas) Ilham Daeng Makkelo, April 2022
- Penelitian Arsidah tahun 1998 berjudul "Peranan Emmy Saelan di Dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia di Sulawesi Selatan (1945-1947)"
- Jurnal nasional Universitas Negeri Makassar (UNM) yang berjudul "Emmy Saelan: Perawat Yang Berjuang"
- Buku 'Emmy Saelan Perempuan di Palagan' oleh Irmawati Puan Mawar terbitan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018
- Penelitian Syahrir Killa pada tahun 1995 berjudul "Laporan Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional Sulawesi Selatan
