Kenapa Ada Gempa Susulan Setelah Gempa Besar? Ini Penjelasannya

Kenapa Ada Gempa Susulan Setelah Gempa Besar? Ini Penjelasannya

Andi Sitti Nurfaisah - detikSulsel
Jumat, 03 Apr 2026 20:45 WIB
Penjelasan ilmiah mengenai penyebab terjadinya gempa susulan setelah gempa besar.
Foto: Ilustrasi gempa bumi. (Getty Images/CHUYN)
Makassar -

Gempa besar berkekuatan magnitudo (M) 7,6 mengguncang Bitung, Sulawesi Utara (Sulut) pada Kamis (2/1) pagi kemarin. Guncangan kuat tersebut terasa di dua provinsi, yakni Sulut dan Maluku Utara (Malut).

Sebanyak 190 rumah di kedua provinsi tersebut dilaporkan mengalami kerusakan, sementara 355 jiwa mengungsi. BMKG mencatat adanya 484 kali gempa susulan (aftershock) yang terjadi di sejumlah wilayah Sulut dan Malut hingga Jumat (3/4) pukul 11.55 WIB.

Gempa susulan tersebut terjadi dengan kekuatan terbesar M 5,8 dan terkecil M 1,7. Meski demikian, hasil pemodelan BMKG memastikan bahwa rangkaian gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, mengapa terjadi gempa susulan setelah gempa besar?

Berikut penjelasan ilmiahnya yang telah dirangkum detikSulsel. Yuk simak selengkapnya di bawah ini!

ADVERTISEMENT

Penyebab Terjadinya Gempa Bumi

Sebelum memahami lebih jauh mengenai gempa susulan, penting untuk mengetahui terlebih dahulu penyebab terjadinya gempa bumi. Pemahaman dasar ini membantu menjelaskan kenapa setelah satu gempa besar, biasanya diikuti dengan rangkaian guncangan susulan.

Berdasarkan penjelasan BMKG di laman resminya, gempa bumi terjadi akibat pelepasan energi secara tiba-tiba dari dalam Bumi. Pelepasan energi ini umumnya disertai dengan patahnya lapisan batuan di kerak Bumi.

Energi tersebut berasal dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik yang terus bergerak sepanjang waktu. Ketika energi terkumpul dan dilepaskan, getarannya menyebar ke segala arah sebagai gelombang gempa sehingga efeknya terasa sampai ke permukaan Bumi.

Gempa terjadi karena permukaan Bumi terpecah menjadi beberapa lempeng tektonik besar. Lempeng tektonik sendiri merupakan segmen kerak Bumi yang mengapung di atas lapisan panas dan cair bernama astenosfer. Karena mengapung, lempeng-lempeng ini dapat bergerak bebas dan saling berinteraksi.

Daerah perbatasan lempeng-lempeng tektonik menjadi zona yang sangat aktif. Di sinilah sering terjadi gempa bumi, aktivitas gunung api, hingga terbentuknya pegunungan.

Secara umum, lempeng tektonik dapat bergerak saling menjauhi, saling mendekati, atau saling bergeser. Ketiga jenis pergerakan ini berpotensi memicu terjadinya gempa bumi.

Pergerakan lempeng sebenarnya sangat lambat, hanya beberapa sentimeter per tahun. Namun proses ini tidak terasa oleh manusia karena berlangsung bertahap.

Kadang, dua lempeng yang saling bersentuhan dapat terkunci dan menahan tekanan dalam waktu lama. Ketika batuan tak lagi mampu menahan tekanan, energi dilepaskan secara mendadak dan menghasilkan gempa bumi.

Guncangan dari pelepasan energi besar ini kemudian dirasakan di permukaan Bumi sebagai getaran. Proses inilah yang menjadi dasar terjadinya gempa bumi sebelum akhirnya memicu rangkaian gempa susulan.

Kenapa Ada Gempa Susulan?

Merangkum penjelasan dalam buku 'Penentuan Seismisitas dan Tingkat Risiko Gempa Bumi' karya Petrus Demon Sili dan laman resmi US Geological Survey (USGS), gempa susulan atau aftershock adalah gempa yang kekuatannya lebih kecil dibanding gempa utama.

Gempa susulan dapat terjadi di sekitar lokasi gempa utama maupun pada wilayah yang lebih jauh. Biasanya, gempa ini terjadi dalam beberapa hari setelah guncangan besar pertama terjadi.

Peristiwa gempa bumi susulan terjadi dalam jarak sekitar satu hingga dua kali panjang patahan. Fenomena ini berlangsung sampai aktivitas seismik kembali ke kondisi normal.

Secara umum, penyebab utama gempa susulan adalah proses penyesuaian kecil pada bagian patahan yang bergeser saat gempa besar terjadi. Batuan yang belum stabil akan terus bergerak hingga mencapai keseimbangan baru.

Frekuensi gempa susulan cenderung berkurang seiring berjalannya waktu. Gempa susulan umumnya memiliki energi lebih kecil dibanding gempa utamanya, namun dapat terjadi secara berulang-ulang hingga tekanan pada patahan benar-benar mereda.

Pada beberapa kasus, gempa bumi susulan dapat memiliki kekuatan magnitudo lebih besar dari gempa utamanya. Hal ini dapat terjadi apabila gempa utama justru memicu pelepasan energi yang sudah lama tertahan di bagian patahan lainnya.

Gempa susulan muncul pada wilayah yang telah mengalami akumulasi energi maksimal. Selama energi tersebut belum dilepas sepenuhnya, rangkaian aftershock masih mungkin terjadi.

Apakah Gempa Susulan Berbahaya?

Menyadur detikNews, gempa susulan pada umumnya tetap berbahaya karena tidak dapat diprediksi. Selain itu, gempa susulan berpotensi memiliki magnitudo besar dan dapat merusak bangunan maupun fasilitas umum.

Oleh karena itu, perlu mewaspadai setiap gempa susulan. Guncangan susulan tersebut juga dapat memicu dampak seperti tanah longsor atau bahkan terjadi tsunami pada kondisi tertentu.




(alk/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads