Antrean kendaraan terjadi di SPBU Paleteang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel). Antrean terjadi sebab mobil tangki Pertamina yang menyuplai BBM terlambat melakukan bongkar muat.
Pantauan detikSulsel di lokasi, Senin (30/3/2026) sekitar pukul 14.20 Wita, antrean motor dan mobil untuk mengisi pertalite mengular hingga ke jalan poros Pinrang-Enrekang. Pengendara motor yang mengantre terlihat kepanasan karena terik matahari.
Sejumlah pengendara motor lainnya memilih berteduh dan meninggalkan motornya tetap pada antrean. Sementara warga yang baru datang memilih putar balik karena panjangnya antrean.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Antrean terpanjang terjadi di jalur pengisian mobil. Jaraknya sekitar 200 meter hingga ke badan jalan. Arus lalu lintas di lokasi terpantau lancar baik dari arah Enrekang maupun dari Pinrang ke Enrekang.
Warga bernama Adnan mengaku mengantre sudah sekitar 30 menit. SPBU lambat buka dan melayani karena mobil pengangkut BBM terlambat datang untuk membongkar muatan BBM.
"Tadi saya sempat ke sini pagi tapi masih belum buka. Katanya agak lambat mobil Pertamina datang makanya lambat juga buka," kata Adnan ke kepada detikSulsel di lokasi.
Dia menduga antrean panjang yang terjadi karena pasokan BBM yang terbatas. Ditambah dengan masih adanya sebagian warga yang hendak balik usia libur lebaran atau baru mudik.
"Ini toh kalau dilihat mungkin karena mulai terbatas ini BBM. Na ditambah sepertinya banyak yang masih suasana arus balik atau misalnya baru mau mudik kan ada juga begitu. Jadi banyak yang mau sementara stok tidak bertambah," paparnya.
Manager SPBU Paleteang, Risal Ashari menjelaskan antrean terjadi karena mobil yang menyuplai stok BBM terlambat datang. Akibatnya sudah banyak mobil yang menumpuk untuk mendapatkan BBM.
"Kan tadi terlambat masuk mobil yang bongkar BBM jadi sudah banyak yang antre. Kalau kita bicara kuota aman-aman saja itu 16 ton Pertalite per hari, kecuali hari raya bisa masuk sampai 24 ton," bebernya.
Menurutnya, lonjakan antrean bukan disebabkan kelangkaan, melainkan fenomena panic buying akibat kekhawatiran masyarakat terhadap isu kenaikan harga. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada kenaikan harga maupun kelangkaan BBM.
"Ini lebih karena masyarakat takut harga naik dan untuk stok. Kami imbau agar tidak panik karena BBM tidak langka dan tidak naik," bebernya.
Selain itu kata dia, momentum bertepatan dengan arus balik, yang turut memicu meningkatnya mobilitas warga. Hal itu turut memengaruhi peningkatan konsumsi BBM.
"Ini melonjak karena juga ada momentum arus balik sehabis lebaran," terangnya.
Situasi antrean kata dia juga memang berpotensi memicu ketegangan antar konsumen. Pihak SPBU pun telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian setempat untuk membantu pengawasan di lapangan.
"Kami sudah minta bantuan Kapolsek untuk pengawasan, karena sempat ada konsumen yang adu mulut sampai hampir berkelahi, saling klaim antrean lebih dulu," katanya.
Untuk sementara, pihak SPBU membatasi pelayanan dengan tidak melayani pengisian menggunakan jeriken. Kebijakan ini diambil untuk memprioritaskan kebutuhan kendaraan pribadi di tengah tingginya permintaan.
"Kami utamakan kendaraan langsung dulu. Nanti setelah antrean normal, baru kami layani lagi pengisian jeriken karena ini kan juga di sini sudah selesai panen yang biasanya mereka pakai itu BBM untuk pertanian," pungkasnya.
