Tanggal 25 Maret menandai sejumlah peringatan penting di dunia internasional. Sedikitnya ada 4 hari penting yang mengangkat berbagai isu, mulai dari kehidupan, sejarah peradaban, hingga penghormatan terhadap perjuangan kemanusiaan.
Peringatan-peringatan tersebut bukan sekadar simbolis semata, melainkan menjadi pengingat akan peristiwa dan nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan modern saat ini.
Setiap peringatan tentu menyimpan kisah dan latar belakangnya masing-masing yang menarik untuk diulas. Untuk itu, berikut ini detikSulsel telah merangkum ulasannya yang dikutip dari laman National Today.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Simak selengkapnya!
Hari Anak yang Belum Lahir Internasional
Hari Anak yang Belum Lahir Internasional diperingati sebagai bentuk penghormatan terhadap kehidupan sejak masih dalam kandungan. Peringatan ini menentang stigma sosial yang kerap menolak hak anak yang belum lahir dan membedakannya dengan anak yang sudah lahir.
Padahal, anak yang belum lahir ada dan merupakan anggota keluarga manusia yang hidup. Oleh karena itu, peringatan ini didedikasikan untuk memperingati semua anak yang belum lahir, merayakan kehidupan mereka, memperbarui komitmen kita untuk melindungi mereka, serta mengadvokasi penentangan terhadap kekerasan aborsi.
Hari ini juga menjadi momentum untuk mengingat berbagai kondisi yang melatarbelakangi keputusan mengakhiri kehamilan, seperti kondisi ekonomi, kesehatan, maupun situasi sosial. Peringatan ini menjadi seruan moral dan sosial bagi semua orang untuk menghargai setiap tahap kehidupan manusia.
Gagasan untuk memperingati Hari Anak yang Belum Lahir Internasional dipromosikan oleh Paus Yohanes Paulus II dan pertama kali diakui di sejumlah negara Amerika Latin. Seiring waktu, negara-negara lain turut mengadopsinya dengan nama dan bentuk peringatan yang berbeda.
Hari Tahun Baru Lama
Tanggal 25 Maret juga ditandai sebagai Hari Tahun Baru Lama dan hingga kini masih dirayakan di beberapa tempat. Kalender Gregorian yang ditetapkan pada tahun 1582, saat itu masih ditolak di beberapa negara selama ratusan tahun.
Sebagai gantinya, negara yang menolak tersebut mengadopsi "tanggal Gaya Kabar Gembira," yang menganggap Hari Raya Kabar Gembira (25 Maret) sebagai Hari Tahun Baru.
Tanggal yang dipilih tersebut berkaitan dengan sistem kalender 'Anno Domini' yang diperkenalkan oleh Dionysius Exiguus. 25 Maret sendiri merupakan peristiwa keagamaan penting, yaitu momen konsepsi Yesus yang terjadi sembilan bulan sebelum perayaan Natal.
Konsep awal tahun pada bulan Maret ini juga selaras dengan praktik kalender Romawi kuno yang hanya memiliki sepuluh bulan. Bulan Maret dianggap sebagai awal siklus baru dalam kalender Romawi karena bertepatan dengan dimulainya musim tanam dan perubahan musim.
Seiring waktu, reformasi kalender oleh Julius Caesar melalui kalender Julian menetapkan Januari sebagai awal tahun. Kebiasaan memulai tahun baru di bulan Januari sendiri baru ada sekitar 400 tahun yang lalu.
Hari Peringatan Internasional Korban Perbudakan dan Perdagangan Budak Transatlantik
Tanggal 25 Maret juga menandai momen penghormatan terhadap perjuangan kemanusiaan dan ditandai sebagai Hari Peringatan Internasional untuk Korban Perbudakan dan Perdagangan Budak Transatlantik. Peringatan tersebut diciptakan untuk mengenang jutaan orang Afrika yang menjadi korban praktik perdagangan manusia selama berabad-abad.
Perdagangan budak transatlantik merupakan salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah kehidupan manusia. Tragedi ini melibatkan pemindahan paksa jutaan orang dari Afrika ke berbagai wilayah di dunia Barat.
Banyak dari mereka tidak selamat dalam perjalanan, sementara yang bertahan harus menjalani kehidupan penuh penderitaan.
Dengan adanya peringatan ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengajak masyarakat global untuk tidak melupakan sejarah kelam tersebut. Selain sebagai bentuk penghormatan, peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa diskriminasi rasial masih terjadi hingga kini.
Pada hari peringatannya, berbagai kegiatan seperti pameran, diskusi, dan pemutaran film diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman tentang dampak jangka panjang dari perbudakan.
Hari Solidaritas Internasional untuk Anggota Staf yang Ditahan dan Hilang
Masih berkaitan dengan isu kemanusiaan, tanggal 25 Maret juga ditandai diperingati sebagai Hari Solidaritas Internasional untuk Anggota Staf yang Ditahan dan Hilang. Peringatan ini merupakan diciptakan untuk menghormati para pekerja Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menghadapi risiko tinggi dalam menjalankan tugas kemanusiaan.
Peringatan ini terinspirasi dari kisah Alec Collett, seorang jurnalis yang bekerja untuk badan PBB dan menjadi korban penculikan. Peristiwa itu menjadi bukti bahwa para staf di wilayah konflik dan daerah berisiko lebih rentan terhadap ancaman.
Tidak sedikit anggota staf PBB yang harus bekerja di situasi berbahaya Ketika menjalankan misi perdamaian dan kemanusiaan. Risiko yang mereka hadapi pun semakin besar seiring meningkatnya kebutuhan akan operasi perdamaian, mulai dari ancaman penculikan, kekerasan, hingga kehilangan nyawa.
Dengan adanya peringatan ini, masyarakat dunia diajak untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya perlindungan bagi para pekerja kemanusiaan. Hari ini juga menjadi seruan untuk menuntut keadilan serta memastikan keselamatan mereka yang berkontribusi dalam menjaga perdamaian global.
Nah, demikianlah daftar peringatan penting dan menarik yang diperingati pada tanggal 25 Maret. Semoga menambah wawasan, detikers!
(urw/urw)











































