Salah satu tanda datangnya hari kemenangan adalah menggemanya lantunan takbir di berbagai penjuru. Takbiran Idul Fitri bukan sekadar tradisi dalam menyambut hari raya, melainkan juga bentuk ekspresi kegembiraan sekaligus dzikir kepada Allah SWT.
Melalui takbir, seorang muslim mengagungkan kebesaran-Nya serta mensyukuri nikmat yang telah diberikan, khususnya nikmat karena dapat menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan. Dilansir dari buku Fiqih Praktis I karya Muhammad Bagir, bacaan takbiran di malam Idul Fitri adalah:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar. Laa ilaaha illallaah, wallaahu Akbar, wa lillaahil-hamd.
Artinya: Allah Maha besar, Allah Maha besar, Allah Maha besar. Tiada tuhan selain Allah. Allah Maha besar. Segala puji bagi-Nya.
Bacaan takbiran tersebut dapat dilanjutkan dengan dzikir berikut ini:
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ ، مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ ، صَدَقَ وَعْدَهُ ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Laa ilaaha illallaah, wallaahu Akbar, wa lillaahil-hamd. (dibaca 3X)
Allaahu akbar kabiira, wal-hamdu lillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa ashiilaa. Laa ilaaha illallaahu, wa laa na'budu illaa iyyahu, mukhlishiina lahud-diina walau karihal-kaafiruun. Laa ilaha illallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara 'abdah, wa hazamal-ahzaaba wahdah. Laa ilaaha illallaahu, wallaahu akbar.
Artinya: Allah Maha besar, Allah Maha besar, Allah Maha besar. Tiada Tuhan selain Allah. Allah Maha besar. Segala puji bagi-Nya.
Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-sebanyak puji, dan Maha suci Allah sepanjang pagi dan sore, tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya, dengan memurnikan agama Islam, meskipun orang-orang kafir, orang-orang munafik, orang-orang musyrik membencinya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dengan keesaan-Nya, Dia dzat yang menepati janji, dzat yang menolong hamba-Nya dan memuliakan bala tentara-Nya dan menyiksa musuh dengan keesaan-Nya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan Allah Maha Besar.
Waktu Takbiran Idul Fitri 2026
Mengacu pada penjelasan dalam buku Fikih Mazhab Syafi'i oleh Abu Ahmad Najieh, takbiran Idul Fitri mulai dikumandangkan sejak masuknya malam Hari Raya Idul Fitri hingga menjelang pelaksanaan sholat Idul Fitri. Diketahui, pergantian hari dalam kalender Islam dimulai sejak waktu Maghrib.
Dengan demikian, takbiran Idul Fitri sudah dapat dilantunan sejak terbenamnya Matahari pada hari terakhir Ramadhan.
Berdasarkan hasil sidang isbat, Kementerian Agama RI menetapkan 1 Syawal 1447 H atau Hari Raya Idul Fitri 2026 jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Oleh karena itu, takbiran Idul Fitri 2026 dimulai sejak Jumat, 20 Maret 2026 setelah Maghrib hingga sebelum pelaksanaan sholat Id pada Sabtu, 19 Maret 2026.
Agar lebih jelas, berikut rinciannya:
- Malam takbiran Idul Fitri: Jumat, 20 Maret 2026 (setelah Maghrib)
- Hari Raya Idul Fitri: Sabtu, 21 Maret 2026
Anjuran Takbiran Idul Fitri
Melansir laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), anjuran melantunkan takbiran Idul Fitri ditegaskan dalam Al-Qur'an:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتَكَبَرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: "Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur." (QS Al-Baqarah: 185)
Imam Ibn Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa bertakbir merupakan manifestasi syukur atas nikmat Ramadhan:
قَوْلُهُ تَعَالَى: وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ. وَقَدْ أَمَرَ اللَّهُ عِبَادَهُ بِشُكْرِ نِعْمَةِ صِيَامِ رَمَضَانَ بِإِظْهَارِ ذِكْرِهِ
Artinya: "Firman Allah Ta'ala yang berbunyi: Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur, mengandung makna bahwa Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mensyukuri nikmat puasa Ramadhan dengan menampakkan dzikir kepada-Nya." (Rawa'i at-Tafsir [Riyadh: Dar al-Ashimah], vol 1, hal 135)
Senada dengan itu, Syekh Ibrahim al-Bajuri (wafat 1276 H) menjelaskan bahwa anjuran bertakbir berlaku bagi seluruh umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan, dalam kondisi menetap di rumah maupun dalam perjalanan:
قَوْلُهُ: (وَيُكَبِّرُ الْخُطَبَاءُ) وَيُسَنُّ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالتَّكْبِيرِ؛ لِأَنَّ فِي رَفْعِ الصَّوْتِ إِظْهَارَ شِعَارِ الْعِيدِ. قَوْلُهُ: (نَدْبًا) أَيْ تَكْبِيرًا مَنْدُوبًا لِكُلِّ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَحَاضِرٍ وَمُسَافِرٍ
Artinya: "Perkataan: bertakbir dan seterusnya, disunnahkan mengeraskan suara dalam bertakbir, karena dengan mengeraskan suara terdapat penampakan syiar hari raya. Perkataan: secara sunnah, yaitu takbir yang dianjurkan bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, baik yang berada di tempat tinggal maupun yang sedang dalam perjalanan." (Hasyiyah al-Bajuri [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah], vol. 1, h. 434)
Dalam praktiknya, membaca takbir pada malam Idul Fitri disunnahkan dengan suara yang dikeraskan. Hal ini bertujuan untuk menampakkan syiar Islam sekaligus menghidupkan suasana hari raya dengan nuansa dzikir dan rasa syukur.
Itulah bacaan takbiran Idul Fitri lengkap Arab-artinya beserta waktu dan anjuran pelaksanaannya. Semoga membantu!
