Perusahaan global makanan ringan dan perawatan hewan Mars Incorporated resmi menyetujui pemberian dana tiga juta USD atau setara sekitar Rp 50,3 miliar selama tiga tahun kepada Save the Children Indonesia. Dana itu untuk mendukung pengembangan 85 Village Savings and Loan (VSLA) atau kelompok simpan pinjam desa yang diproyeksi memberi manfaat kepada 17.250 petani kakao di Indonesia.
Pendanaan tersebut akan diberikan melalui Mars Impact Fund yang resmi diluncurkan Kamis (26/2) lalu. Program itu menjadi kendaraan filantropi Mars untuk mempercepat dampak yang berarti dan berkelanjutan melalui mitranya, Save the Children.
"Menciptakan dampak dimulai dengan mendengarkan komunitas dan bekerja dengan mitra yang memahami kebutuhan lokal," kata Direktur Eksekutif Mars Michelle Grogg dalam keterangannya dikutip Jumat (27/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Michelle menyebut pendanaan yang diberikan kepada Save the Children akan menyasar komunitas penghasil kakao di Indonesia. Melalui pendekatan berbasis pemberdayaan, kemitraan ini difokuskan pada penguatan ekonomi keluarga, peningkatan kapasitas perempuan, serta penerapan praktik pertanian berkelanjutan guna mendorong ketahanan pangan.
Pendanaan tersebut sekaligus melengkapi proyek Mars Village Cluster yang digarap oleh bisnis kakao Mars yang berfokus pada peningkatan produktivitas dan agroforestri. Mars berharap dana itu dapat memperluas cakupan VSLA sekaligus menjadi penggerak utama komunitas lokal dalam membangun kapasitas organisasi masyarakat secara mandiri guna memastikan keberlanjutan kakao.
"Kami senang bekerja sama dengan Save the Children untuk memajukan inklusi keuangan, diversifikasi pendapatan, dan praktik ramah iklim, semua hal penting untuk meningkatkan mata pencaharian dan memperkuat ketahanan," tuturnya.
Presiden Direktur PT Mars Symbioscience Indonesia Marlyn Sumbung menyebut pendanaan itu menjadi bentuk komitmen Mars mendukung industri kakao di Indonesia. Mars menilai, Save the Children Indonesia adalah mitra yang tepat untuk mengembangkan ekonomi masyarakat lokal melalui kakao.
"Program kemitraan dengan Save the Children merupakan wujud nyata komitmen Mars di Indonesia dalam mendukung pemberdayaan komunitas dan ketahanan sosial di daerah-daerah penghasil kakao," tuturnya.
Melalui dana tersebut, Mars Impact Fund akan mendukung pemberdayaan ekonomi melalui 85 asosiasi simpan pinjam yang diproyeksi memberi manfaat kepada 17.250 petani kakao dengan 60 persen diantaranya adalah perempuan. Pihaknya juga akan berfokus pada ketahanan sosial dengan melibatkan perempuan dan pemuda untuk aktif dalam forum lintas pemangku kepentingan.
Dari segi kesejahteraan anak, Mars akan mendukung pembentukan kelompok perlindungan anak di 115 desa yang akan menangani tantangan pekerja anak, tingkat kehadiran sekolah, dan pengasuhan positif anak. Marlyn mengatakan, pihaknya juga turut mendukung praktik pertanian ramah iklim guna meningkatkan produktivitas dan pendapatan pertanian kakao secara berkelanjutan.
"Melalui pengembangan kelompok simpan pinjam desa (VSLA) dan inisiatif ketahanan komunitas lainnya, kami percaya bahwa pemberdayaan ekonomi perempuan dan praktik pertanian yang ramah iklim akan membuka peluang baru bagi petani dan keluarga mereka," jelasnya.
Sementara itu, CEO Save the Children Indonesia Dessy Kurwiany Ukar mengungkap kerjasama dengan Mars telah berlangsung lebih dari 14 tahun. Ia menyebut, sejak 2011 Mars dan Mars Snacking Foundation telah menginvestasikan sekitar 24 juta USD di empat pilar strategis yaitu kesehatan mulut dan kesejahteraan anak, perlindungan dari pekerjaan berbahaya, tanggap darurat, dan keterlibatan karyawan.
"Selama lebih dari satu dekade, kami telah menerjemahkan komitmen global menjadi aksi nyata di tingkat komunitas," tuturnya.
Dessy mengatakan, pendanaan yang diterima Save the Children Indonesia mencerminkan komitmen Mars Impact Fund untuk memberikan dampak nyata melalui komunitas di seluruh dunia. Ia berharap kolaborasi tersebut dapat semakin memajukan kesejahteraan anak melalui pemberdayaan ekonomi perempuan dan rantai pasok kakao yang tangguh.
"Di Indonesia, kami telah menghadirkan solusi yang dipimpin secara lokal untuk memberdayakan perempuan, melibatkan pemuda, dan memperkuat sistem perlindungan anak di komunitas petani kakao, membantu mereka mengatasi tantangan sosial ekonomi," pungkasnya.
(hmw/ata)











































