Program Tepat Sasaran di Balik Tingginya Indeks Kepuasan Masyarakat Lutim

Program Tepat Sasaran di Balik Tingginya Indeks Kepuasan Masyarakat Lutim

Ahmad Al Qadri - detikSulsel
Kamis, 26 Feb 2026 14:25 WIB
Kantor Bupati Luwu Timur. Dokumen Istimewa
Foto: Kantor Bupati Luwu Timur. Dokumen Istimewa
Luwu Timur -

Persentase Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) di Kabupaten Luwu Timur (Lutim), Sulawesi Selatan (Sulsel), menembus 89,38 persen pada 2025. Capaian tersebut dinilai tak lepas dari pelaksanaan program yang tepat sasaran serta pola kepemimpinan yang aktif menjangkau warga.

"Pencapaian itu karena program berjalan tepat sasaran. Salah satu faktor penggenjotnya ialah bupati rajin turun langsung, menjawab tantangan permasalahan publik. Itu artinya pelayanan publik diperpendek karena kepala daerah memantau dan mendengar langsung dari akar rumput," ujar Pakar kebijakan publik, Syahiruddin Syah kepada detiksulsel, Kamis (26/2/2026).

Menurutnya, dalam teori kebijakan publik, penyelesaian persoalan harus melalui komunikasi yang baik, didukung sumber daya manusia, disposisi pelaksana, serta struktur birokrasi yang berjalan efektif. Ia menilai unsur-unsur tersebut telah terpenuhi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Semua permasalahan harus dikomunikasikan, menggunakan sumber daya manusia, ada disposisi pelaksanaan, dan didukung struktur birokrasi. Itu sudah dipenuhi oleh bupati," jelasnya.

Selain berdampak pada kualitas layanan, kehadiran langsung kepala daerah juga dinilai memberi efek psikologis bagi masyarakat.

ADVERTISEMENT

"Tidak semua kebijakan harus formal. Kebijakan formal terlihat dalam APBD, tetapi kebijakan nonformal seperti kehadiran langsung pemimpin bisa mendorong produktivitas karena ada motivasi di situ," katanya.

Pertumbuhan Ekonomi dan Dampak Sosial

Di luar capaian IKM, Syahiruddin juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Lutim, khususnya pada triwulan I 2025 yang berada di angka 5,36 persen. Angka tersebut dicapai saat masa kepemimpinan Ibas-Puspa belum genap 100 hari kerja.

Ia memproyeksikan pertumbuhan masih berpotensi meningkat, seiring sejumlah kebijakan yang dinilai pro terhadap pelaku usaha lokal. Salah satunya pengadaan seragam sekolah TK, SD, dan SMP yang melibatkan penjahit lokal.

"Kebijakan itu menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi karena perputaran uang terjadi di daerah," ujarnya.

Program Sabtu Sehat Juara (SSJ) yang memberi ruang bagi pelaku UMKM untuk berjualan juga dinilai berkontribusi terhadap geliat ekonomi masyarakat.

"Kelihatannya sederhana, tetapi kegiatan seperti itu bisa menjadi pemicu pertumbuhan," tambahnya.

Dari sisi sosial, angka kemiskinan di Lutim tercatat turun 0,76 persen. Syahiruddin menilai penurunan tersebut turut dipengaruhi program bantuan bulanan bagi sekitar 3.000 lansia.

"Program ini menimbulkan dua dampak sekaligus, yakni memicu pertumbuhan ekonomi dan menekan angka kemiskinan," ungkapnya.

Tingkat pengangguran juga mengalami penurunan dari 5,42 persen atau sekitar 8,52 ribu jiwa menjadi 3,70 persen atau setara 6,12 ribu jiwa. Ia menilai peningkatan nominal beasiswa S1 hingga S3 ikut berkontribusi.

"Peningkatan beasiswa mendorong keberanian keluarga kurang mampu menyekolahkan anaknya. Ada nilai motivasi dan harapan di situ," ujarnya.

Meski demikian, Syahiruddin mengingatkan bahwa capaian IKM tetap dinamis dan berpotensi naik maupun turun. Ia berharap kebiasaan turun langsung ke lapangan terus dipertahankan.

"Ini pencapaian yang baik. Semoga terus terawat dengan mendengar aspirasi masyarakat secara langsung, karena itu bagian dari memperpendek pelayanan publik," pungkasnya.




(hmw/hmw)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads