Surah Al-A'la merupakan salah satu surah pendek dalam Al-Qur'an yang memiliki kedudukan istimewa. Terdiri dari 19 ayat, surah Al-A'la termasuk golongan surah Makkiyah atau surah yang diturunkan di Makkah.
Dalam sejumlah Riwayat, disebutkan bahwa surah ini kerap dibaca Rasulullah pada saat melakukan sholat witir. Sebagai bagian dari wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah, surah ini memiliki makna mendalam yang patut dipelajari umat Islam.
Mempelajari makna dan tafsir dari surah ini dapat membantu untuk memahami kandungan pesannya secara lebih utuh. Dengan begitu, setiap kali membacanya dalam sholat, kita dapat memaknainya dengan penuh kesadaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut ini ulasan lengkap makna dan tafsir surah Al-A'la ayat 1-19. Simak selengkapya!
Surah Al-A'la: Arab, Latin, dan Artinya
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَعْلَىۙ ١
sabbiḫisma rabbikal-a'lâ
Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi,
الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوّٰىۖ ٢
alladzî khalaqa fa sawwâ
yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya),
وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدٰىۖ ٣
walladzî qaddara fa hadâ
yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,
وَالَّذِيْٓ اَخْرَجَ الْمَرْعٰىۖ ٤
walladzî akhrajal-mar'â
dan yang menumbuhkan (rerumputan) padang gembala,
فَجَعَلَهٗ غُثَاۤءً اَحْوٰىۖ ٥
fa ja'alahû ghutsâ'an aḫwâ
lalu menjadikannya kering kehitam-hitaman.
سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسٰىٓۖ ٦
sanuqri'uka fa lâ tansâ
Kami akan membacakan (Al-Qur'an) kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa,
اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُۗ اِنَّهٗ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفٰىۗ ٧
illâ mâ syâ'allâh, innahû ya'lamul-jahra wa mâ yakhfâ
kecuali jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.
وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرٰىۖ ٨
wa nuyassiruka lil-yusrâ
Kami akan melapangkan bagimu jalan kemudahan (dalam segala urusan).
فَذَكِّرْ اِنْ نَّفَعَتِ الذِّكْرٰىۗ ٩
fa dzakkir in nafa'atidz-dzikrâ
Maka, sampaikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat.
سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَّخْشٰىۙ ١٠
sayadzdzakkaru may yakhsyâ
Orang yang takut (kepada Allah) akan mengambil pelajaran,
وَيَتَجَنَّبُهَا الْاَشْقَىۙ ١١
wa yatajannabuhal-asyqâ
sedangkan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya,
الَّذِيْ يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرٰىۚ ١٢
alladzî yashlan-nâral-kubrâ
(yaitu) orang yang akan memasuki api (neraka) yang besar.
ثُمَّ لَا يَمُوْتُ فِيْهَا وَلَا يَحْيٰىۗ ١٣
tsumma lâ yamûtu fîhâ wa lâ yaḫyâ
Selanjutnya, dia tidak mati dan tidak (pula) hidup di sana.
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰىۙ ١٤
qad aflaḫa man tazakkâ
Sungguh, beruntung orang yang menyucikan diri (dari kekafiran)
وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰىۗ ١٥
wa dzakarasma rabbihî fa shallâ
dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat.
بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۖ ١٦
bal tu'tsirûnal-ḫayâtad-dun-yâ
Adapun kamu (orang-orang kafir) mengutamakan kehidupan dunia,
وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ ١٧
wal-âkhiratu khairuw wa abqâ
padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
اِنَّ هٰذَا لَفِى الصُّحُفِ الْاُوْلٰىۙ ١٨
inna hâdzâ lafish-shuḫufil-ûlâ
Sesungguhnya (penjelasan) ini terdapat dalam suhuf (lembaran-lembaran) yang terdahulu,
صُحُفِ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰىࣖ ١٩
shuḫufi ibrâhîma wa mûsâ
(yaitu) suhuf (yang diturunkan kepada) Ibrahim dan Musa.
Tafsir dan Makna Surah Al-A'la
Menyadur dari laman Rumaysho, surah Al-A'la mengandung pesan-pesan mendalam tentang keagungan penciptaan Allah, kepastian takdir, dan kemudahan dalam beragama. Dalam surah ini, Allah mengingatkan manusia untuk menyucikan-Nya, memahami hikmah kehidupan, serta mengutamakan akhirat dibanding dunia.
Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan tafsir surah ini dalam 4 bagian. Berikut ini penjelasannya masing-masing:
Tafsir Ayat 1-5: Keagungan Allah dalam Penciptaan
Makna Ayat:
Allah memerintahkan hambanya untuk bertasbih kepada-Nya. Tasbih ini harus sesuai dengan keagungan Allah, yaitu dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah, yang lebih tinggi daripada segala nama karena memiliki makna yang sempurna dan mulia. Juga dengan mengingat perbuatan-Nya, seperti menciptakan makhluk dan menyempurnakan mereka, yakni menciptakan mereka dengan penuh ketelitian dan keindahan.
Allah juga yang menentukan segala sesuatu dengan takdir-Nya, dan membimbing seluruh makhluk sesuai dengan ketetapan tersebut. Ini adalah bentuk hidayah umum dari Allah.
Sebagai salah satu bentuk nikmat duniawi-Nya, Allah berfirman: "Dan Dia-lah yang mengeluarkan rerumputan." Artinya, Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Dia menumbuhkan berbagai jenis tanaman dan rerumputan yang melimpah, yang menjadi tempat makan bagi manusia, hewan ternak, dan seluruh makhluk hidup.
Namun, setelah tanaman itu mencapai puncak pertumbuhannya, ia mulai layu dan kering. Allah menjadikannya "ghutsā'an ahwā", yaitu dedaunan yang hitam, hancur, dan lapuk, yang menandakan kefanaan dan perubahan dalam kehidupan dunia.
Tafsir Ayat 6-8: Diberi Taufik ke Jalan yang Mudah
Makna Ayat:
Dan di dalamnya disebutkan nikmat-nikmat-Nya yang bersifat agama. Oleh karena itu, Allah menyebut nikmat paling utama dan sumber segala nikmat, yaitu Al-Qur'an, sebagaimana firman-Nya:
"Kami akan membacakan (Al-Qur'an) kepadamu (wahai Muhammad), maka engkau tidak akan lupa."
Artinya, Kami akan menjaga wahyu yang Kami berikan kepadamu, menanamkannya dalam hatimu, sehingga engkau tidak akan melupakannya. Ini adalah kabar gembira besar dari Allah kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa Allah akan mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak akan ia lupakan.
"Kecuali apa yang Allah kehendaki,"
yakni, jika dalam kebijaksanaan-Nya, Allah berkehendak membuatnya lupa demi suatu hikmah besar yang bermanfaat.
"Sesungguhnya Dia mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi."
Termasuk dalam hal ini, Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, Dia menetapkan syariat sesuai dengan kehendak-Nya dan mengatur segala sesuatu dengan kebijaksanaan-Nya.
"Dan Kami akan memudahkanmu menuju kemudahan."
Ini juga merupakan kabar gembira besar bahwa Allah akan memudahkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam dalam segala urusannya serta menjadikan syariat dan agama ini sebagai sesuatu yang mudah dan ringan bagi umat manusia.
Tafsir Ayat 9-13: Berilah Peringatan
Makna Ayat:
"Maka berilah peringatan!" Yaitu, sampaikan syariat Allah dan ayat-ayat-Nya "jika peringatan itu bermanfaat," yakni selama peringatan itu diterima dan nasihat masih bisa didengar, baik peringatan itu menghasilkan manfaat sepenuhnya maupun hanya sebagian darinya.
Ayat ini juga memberikan pemahaman bahwa jika peringatan tidak bermanfaat dan justru memperburuk keadaan atau mengurangi kebaikan-maka tidak diperintahkan untuk memberikan peringatan, bahkan bisa menjadi sesuatu yang dilarang. Dengan demikian, manusia terbagi menjadi dua kelompok dalam menerima peringatan: yang mengambil manfaat dan yang tidak mengambil manfaat.
Bagi mereka yang mengambil manfaat, Allah menyebutkan mereka dalam firman-Nya:
"Akan menerima peringatan orang yang takut kepada Allah."
Yakni, orang yang memiliki rasa takut kepada Allah serta keyakinan bahwa ia akan dibalas atas amal perbuatannya. Rasa takut kepada Allah ini mendorong seseorang untuk menjauhi maksiat dan berusaha melakukan amal kebaikan.
Sedangkan bagi mereka yang tidak mengambil manfaat, Allah menyebutkan dalam firman-Nya:
"Dan akan menjauhinya orang yang paling celaka, yang akan memasuki neraka yang besar."
Yakni, mereka yang menghindari peringatan ini adalah orang-orang yang paling sengsara, yang akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala, yang apinya membakar hingga menembus hati.
"Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak pula hidup."
Maksudnya, mereka akan merasakan azab yang sangat pedih tanpa henti, tanpa ada istirahat atau jeda dari siksaan tersebut. Bahkan mereka akan berharap untuk mati agar terbebas dari penderitaan, tetapi keinginan itu tidak akan pernah terwujud. Sebagaimana firman Allah,
وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا۟ وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِى كُلَّ كَفُورٍ
"Tidak akan diputuskan kematian bagi mereka sehingga mereka mati, dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya." (QS. Fathir: 36).
Tafsir Ayat 14-19: Berilah Peringatan
Makna Ayat:
"Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri."
Artinya, telah berhasil dan meraih kemenangan orang yang membersihkan dirinya dari kesyirikan, kezaliman, serta akhlak yang buruk.
"Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat."
Maksudnya, ia senantiasa mengingat Allah, hatinya dipenuhi dengan dzikir kepada-Nya, sehingga hal itu mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang diridhai Allah, terutama shalat, yang merupakan tolok ukur keimanan seseorang.
Inilah makna utama dari ayat yang mulia ini. Adapun tafsiran yang menyebut bahwa "menyucikan diri" berarti mengeluarkan zakat fitrah, dan "mengingat nama Tuhannya, lalu shalat" maksudnya adalah shalat Idul Fitri, maka meskipun hal ini termasuk dalam cakupan makna ayat dan merupakan salah satu bentuk penerapannya, namun bukanlah satu-satunya makna yang dimaksud.
"Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa."
"Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia,"
yakni, kalian lebih mendahulukan dunia dibandingkan akhirat, serta memilih kenikmatan dunia yang fana, penuh kekurangan, dan bercampur kepahitan, daripada kenikmatan akhirat yang abadi.
"Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."
Akhirat jauh lebih baik dari dunia dalam segala aspek yang diinginkan manusia. Akhirat adalah negeri keabadian, kebahagiaan yang murni, dan tanpa kesulitan, sedangkan dunia hanyalah tempat yang sementara dan penuh kefanaan. Orang beriman yang berakal tidak akan memilih sesuatu yang lebih rendah dibandingkan sesuatu yang lebih mulia, serta tidak akan menukar kenikmatan sesaat dengan penderitaan abadi. Kecintaan terhadap dunia dan mengutamakannya di atas akhirat adalah akar dari segala dosa dan kesalahan.
"Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa."
Apa yang disebutkan dalam surah yang mulia ini-berupa perintah-perintah yang baik dan berita-berita yang benar-juga telah termaktub dalam kitab-kitab suci sebelumnya, yaitu dalam kitab Ibrahim dan Musa, dua di antara rasul-rasul yang paling mulia setelah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Hukum-hukum ini bersifat universal dan berlaku dalam setiap syariat, karena semuanya mengandung maslahat bagi kehidupan dunia dan akhirat, serta relevan di setiap zaman dan tempat.
Nah, demikianlah penjelasan mengenai makna dan tafsir surah Al-A'la ayat 1-19. Semoga bermanfaat!
(urw/urw)











































