Pemprov Maluku-Institut Leimena Dorong Integrasi LKLB dalam Kurikulum Sekolah

Pemprov Maluku-Institut Leimena Dorong Integrasi LKLB dalam Kurikulum Sekolah

M Jaya Barends - detikSulsel
Kamis, 12 Feb 2026 16:22 WIB
Momen pembukaan Seminar LKLB yang diadakan Pemprov Maluku-Institut Leimena.(detikcom/M Jaya Barends)
Foto: Momen pembukaan Seminar LKLB yang diadakan Pemprov Maluku-Institut Leimena. (M Jaya Barends/detikcom)
Maluku -

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku bersama Institut Leimena mendorong integrasi Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) dalam kurikulum sekolah. Praktik LKLB tersebut akan diadaptasi pada pendidikan dasar dan menengah.

"Contoh praktik LKLB dapat diadaptasi di sekolah. Selanjutnya mendorong integrasi LKLB ke kurikulum pendidikan dasar dan menengah di Maluku," kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku, Sarlota Singerin dalam seminar LKLB, Kamis (12/2/2026).

Seminar tersebut diadakan di Kantor Gubernur Maluku dan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Maluku, Sadali le. Sarlota mengatakan kolaborasi tersebut semakin memperkuat posisi pendidikan untuk membangun kohesi sosial di Maluku melalui LKLB.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Situasi kemajemukan di Maluku yang terdiri dari 283 sekolah multikomunitas agama, ditambah sejarah konflik sosial berbasis identitas dan realitas kepulauan yang majemuk, semakin menunjukkan pentingnya pemahaman tentang LKLB," ujarnya.

Ia mengatakan, ada sekitar 150 guru dan kepala sekolah dari berbagai wilayah di Maluku yang mengikuti seminar LKLB. Keterlibatan para guru diharapkan bisa mempermudah implementasi integrasi LKLB dalam kurikulum sekolah ke depannya.

ADVERTISEMENT

"Apalagi Institut Leimena memiliki pengalaman nasional dalam pengembangan dan implementasi pendekatan LKLB, termasuk pelatihan guru dan kepala sekolah di berbagai provinsi," katanya.

Mengenal Program LKLB yang Diadaptasi dalam Kurikulum Sekolah Maluku

Menyadur dari laman resminya, Literasi Keagamaan Lintas Budaya atau LKLB merupakan program yang dikembangkan Institut Leimena bekerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan dan keagamaan lintas agama dan kepercayaan di Indonesia. Tujuannya untuk memperkuat eksistensi serta kolaborasi damai antarumat beragama melalui pengenalan dan pelatihan LKLB bagi guru madrasah, pesantren, dan penyuluh agama.

Program ini sebenarnya telah berlangsung lebih dari empat tahun secara nasional sejak Oktober 2021. Di Maluku sendiri program LKLB ini telah berlangsung selama dua tahun. Ke depannya, contoh praktik baik LKLB akan terus diadaptasi dan diintegrasikan ke kurikulum sekolah di Maluku.

"Program LKLB untuk Perdamaian telah berlangsung selama dua tahun di Maluku dengan jumlah alumni sebanyak 175 guru dan kepala sekolah," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho menegaskan program LKLB bertujuan memperkuat kerukunan umat beragama yang majemuk. Sejak dimulai pada 2021 secara nasional, program tersebut telah menghasilkan lebih dari 10.000 pendidik di berbagai provinsi di Indonesia.

"Dimulai akhir tahun 2021 sebagai program pelatihan untuk guru sekolah dan madrasah, telah diadakan 72 kelas pelatihan dasar LKLB dengan lulusan lebih dari 10.000 pendidik," tambahnya.

Program LKLB Mulai Dikembangkan untuk Perguruan Tinggi-Lembaga Pemerintahan

Selain diadaptasi dalam kurikulum sekolah di Maluku, program LKLB ini juga mulai dikembangkan untuk perguruan tinggi dan lembaga pemerintahan. Pasalnya, LKLB kini diakui secara nasional dan mulai mendapat perhatian internasional.

"LKLB dijadikan sebagai model pendidikan untuk membangun kohesi sosial. November kemarin, misalnya, delegasi dari Kementerian Pendidikan Pemerintahan Bangsamoro di Filipina berkunjung ke Ambon, sebagai tamu Institut Leimena, untuk belajar dari pelaksanaan program LKLB di Kota Ambon," ujarnya.

Program LKLB Selaras dengan Filosofi Lokal Maluku

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah Maluku, Sadali le mengatakan LKLB memiliki semangat yang sama dengan warisan leluhur orang Maluku, yaitu hidup Orang Basudara sebagai sebuah jati diri. Sebab perbedaan agama dan suku seharusnya tidak menjadi pemisah, melainkan perekat.

"Tantangan zaman menuntut kita untuk tidak sekadar hidup berdampingan, saling memahami, namun yang terpenting saling menghargai satu sama lain dalam semangat 'Orang Basudara'," jelasnya.

Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena menambahkan bahwa seminar yang diinisiasi Pemprov Maluku dan Institut Leimena ini merupakan panggilan moral jati diri bangsa. Dia juga menekankan nilai kedaerahan yang mengakar kuat dalam hubungan persaudaraan masyarakat Maluku.

"Kita memiliki filosofi Orang Basudara yang menjadi perekat sosial. Nilai-nilai kearifan tersebut bukan sebatas pemahaman soal sejarah, tapi bagaimana yang paling penting terus dihidupkan, dan ditransformasikan menjadi nilai-nilai hidup bersama," jelasnya.

Seminar LKLB ini merupakan kerja sama antara Dinas Pendidikan Provinsi Maluku dan Institut Leimena dengan Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen (YPPK) Dr. J.B. Sitanala serta Yayasan Sombar Negeri Maluku, dengan dukungan Gereja Protestan Maluku, IAKN Ambon, UIN AM Sangadji Ambon, dan Sasakawa Peace Foundation.



(urw/hmw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads