Kemunculan seekor buaya sepanjang 3 meter menggegerkan warga di pesisir pantai Desa Appatanah, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Pihak pemerintah setempat pun masih menyusun strategi menangkap buaya tersebut di perairan terbuka.
Kepala Desa Appatanah, Marzan mengatakan buaya itu dilaporkan muncul di pinggir pantai Dusun Konawe, Desa Appatanah, Kecamatan Bontosikuyu pada Selasa (3/2) sekitar pukul 11.00 Wita. Kemunculan buaya itu terekam dalam sebuah video.
"Iya, lokasinya Appatanah. Dia masuk di Dusun Konawe. Iya, tadi siang. Karena posisi air pasang, berarti siang, karena tadi pagi surut air. Berarti sekitar jam-jam 11.00 Wita," kata Marzan kepada detikSulsel, Selasa (3/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan informasi yang ia terima, saat buaya muncul ada warga yang sementara mencari ikan di sekitar lokasi. Dia pun menyebut jika ukuran buaya terbilang besar.
"Kebetulan saya dapat informasi dari grup juga, sama perangkat desaku. Katanya ada warga juga yang sementara nyambak (mencari) ikan di Pantai Timur. Jadi dia lihat itu," ucap Marzan.
"Kalau dari videonya itu sekitar 3 meter, kurang lebih. Iya, agak besar memang karena ekornya saja panjang itu," tambahnya.
Warga Dilarang Beraktivitas di Sekitar Lokasi Muculnya Buaya
Pemerintah desa merespons kemunculan buaya itu dengan mengeluarkan larangan beraktivitas di sekitar lokasi. Imbauan tersebut ditujukan khusus bagi nelayan maupun warga lainnya.
"Sudah ada diimbau masyarakat, nelayan, anak-anak, supaya tidak beraktivitas di sebelah timur," tegasnya.
Kejadian ini sekaligus menjawab keraguan warga terkait isu keberadaan buaya yang sempat beredar sebelumnya. Marzan menyebut banyak warga yang dulunya menganggap laporan penampakan buaya hanya sekadar kabar tidak benar.
"Sudah pernah dengar masyarakat. Cuma masih... tapi rata-rata masyarakat yang lain belum percaya. Katanya mungkin hanya halusinasi atau bagaimana. Ternyata betul ada," pungkasnya.
Aparat Susun Strategi Penangkapan
Pemerintah desa bersama aparat terkait merencanakan proses penangkapan terhadap buaya tersebut. Langkah ini diambil demi keamanan warga dan nelayan yang beraktivitas di sekitar lokasi.
"Rencana begitu petunjuknya Pak Binmas (Bhabinkamtimbas). Kalau bisa ditangkap supaya lebih anu toh, lebih aman lagi," ujar Marzan.
Marzan menjelaskan aparat saat ini masih menyusun strategi untuk mengevakuasi predator tersebut dari perairan. Pihaknya mengaku masih mencari metode penanganan yang tepat mengingat lokasi kemunculan berada di perairan terbuka.
"Cuma persoalannya cara tangkapnya itu yang dipikirkan bagaimana," lanjutnya.
Sejauh ini, pihak desa baru berkoordinasi dengan Bhabinkamtibmas setempat untuk memantau pergerakan buaya. Pihaknya belum menjalin komunikasi resmi dengan instansi penanganan satwa liar lainnya.
"Belum. Baru Pak Binmas (Bhabinkamtibmas/Babinsa) tadi," ucap Marzan.
Marzan menyebut area Pantai Timur yang menjadi lokasi kemunculan buaya merupakan kawasan yang ramai aktivitas nelayan saat musim barat. Untuk langkah antisipasi, pemerintah desa telah melarang warga mendekati pesisir pantai.
"Sudah ada diimbau masyarakat, nelayan, anak-anak, supaya tidak beraktivitas di sebelah timur," tegasnya.
Pihak desa juga masih menelusuri asal muasal predator tersebut karena di lokasi kejadian tidak terdapat habitat asli buaya. Kejadian ini sekaligus membuktikan laporan warga yang sebelumnya dianggap sebagai kabar tidak benar atau hoaks.
"Saya kurang tahu juga (kenapa bisa muncul di sana). Bisa saja buayanya dari tempat lain. Tidak ada juga (di sana muara sungai)," ungkapnya.
"Sudah pernah dengar masyarakat (soal kemunculan buaya). Cuma masih... tapi rata-rata masyarakat yang lain belum percaya. Katanya mungkin hanya halusinasi atau bagaimana. Ternyata betul ada," bebernya.
(asm/asm)











































