Kisah Dokter Bedah 'Tertular' Kanker Ganas dari Pasien yang Dioperasi

Kisah Dokter Bedah 'Tertular' Kanker Ganas dari Pasien yang Dioperasi

Tim detikHealth - detikSulsel
Jumat, 30 Jan 2026 17:00 WIB
Kisah Dokter Bedah Tertular Kanker Ganas dari Pasien yang Dioperasi
Ilustrasi. Foto: Getty Images/Morsa Images
Jakarta -

Seorang dokter berusia 53 tahun di Jerman 'tertular' kanker ganas dari pasien yang dioperasinya. Kisah dokter tersebut viral di media sosial X usai seorang netizen mengutip jurnal The New England Journal of Medicines yang diterbitkan pada tahun 1996.

Dilansir dari detikHealth yang mengutip Live Science, Jumat (30/1/2026), peristiwa itu bermula saat dokter tersebut melakukan operasi pengangkatan tumor ganas di perut seorang pasien. Meski operasi tersebut berjalan lancar, dokter itu mengalami luka kecil di dekat pangkal jari tengahnya saat menangani prosedur operasi.

Dokter nahas itu lalu membersihkan luka yang mengenai tangannya. Dia juga membalut lukanya sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, 5 bulan kemudian luka yang mengenai tangan dokter tersebut mengalami pembengkakan. Bengkaknya membesar hingga berdiameter 3 cm.

Dokter tersebut lalu memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan benjolan karena curiga dengan pembengkakan itu. Hasil operasi mengungkap dokter tersebut mengalami tumor fibrous histiocytoma ganas, jenis kanker jaringan lunak yang mengandung histiosit.

ADVERTISEMENT

Diketahui, histiosit merupakan sebuah sel imun yang bermigrasi ke jaringan tempat yang tidak semestinya dan kemudian membentuk pertumbuhan tumor.

Ahli patologi terkejut dengan temuan tumor yang diidap dokter tersebut sebab memiliki genetik yang identik dengan tumor yang diidap pasien yang pernah dioperasinya.

Ahli patologi mengungkap sel kanker dokter tersebut tidak tumbuh secara mandiri melainkan tertular dari sel kanker pasiennya. Ahli menyimpulkan, sel-sel kanker dari pasien kemungkinan masuk ke luka terbuka di tangan sang dokter dan kemudian berkembang menjadi tumor baru.

Meski begitu, tumor di tangan dokter tersebut untungnya dapat diangkat sepenuhnya melalui pembedahan. Setelah menjalani pemantauan selama dua tahun, dokter itu dilaporkan berada dalam kondisi sehat, tanpa tanda penyebaran maupun kekambuhan kanker.

Kasus dokter itu menjadi bukti langka transplantasi kanker antar manusia dapat terjadi meski dalam kondisi yang sangat spesifik. Jaringan yang ditransplantasikan dan berbeda secara genetik dari jaringan penerimanya biasanya akan segera dikenali sebagai benda asing dan dihancurkan oleh sistem imun.

Inilah alasan mengapa pasien transplantasi organ harus mengonsumsi obat imunosupresan. Hal ini dilakukan agar organ donor tidak ditolak tubuh.

Dalam kasus ini, sang dokter bedah memang mengalami peradangan di sekitar luka sayatannya, yang menandakan adanya respons imun. Namun, reaksi tersebut tidak cukup kuat untuk menghentikan pertumbuhan tumor.

Menurut laporan tersebut, sel-sel kanker kemungkinan berhasil mengelabui sistem kekebalan tubuh sang dokter. Hal itu terjadi sebab sistem kekebalan tubuh sang dokter tidak menghasilkan antigen dalam jumlah yang cukup atau zat yang biasanya memicu sistem imun untuk membentuk antibodi penghancur tumor.




(asm/hsr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads