Isra Miraj merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam, di mana Rasulullah SAW melakukan perjalanan spiritual dan menerima wahyu sholat lima waktu. Peristiwa ini mengandung pelajaran mendalam tentang keimanan dan ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT.
Disadur dari buku "Isra & Miraj: Perjalanan Kepada yang Maha Agung" oleh Zulkifli Mohamad Al Bakri, Isra berasal dari kata asra yang berarti perjalanan pada waktu malam. Secara istilah, Isra merujuk pada perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dalam satu malam.
Sementara itu, Miraj secara bahasa memiliki arti alat untuk naik. Secara istilah, Miraj adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Bumi melewati tingkatan langit hingga mencapai langit ketujuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, bagaimana sejarah perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW hingga menerima wahyu langsung dari Allah SWT?
Simak sejarah singkat Isra Miraj Nabi Muhammad SAW beserta hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa tersebut berikut ini!
Sejarah Singkat Isra Miraj Nabi Muhammad SAW
Dilansir dari Kitab Dardir Bainama (Qisah Isra Mi'raj) karya Syaikh Najmuddin al Ghaithi, Isra Miraj terjadi pada malam tanggal 27 Rajab tahun ke-11 Kenabian saat Nabi Muhammad SAW beristirahat di samping Hijir Ismail, dekat Ka'bah. Pada malam itu, Malaikat Jibril datang dan membelah dada Rasulullah SAW untuk menyucikan hati dan batinnya.
Malaikat Jibril menyucikan hati Rasulullah SAW dengan air zam-zam yang dibawa oleh Malaikat Mikail dalam sebuah bokor emas. Setelah disucikan, dada Rasulullah dikembalikan seperti semula, lalu diberi gelar kenabian oleh kedua malaikat tersebut.
Setelah itu, Nabi Muhammad SAW disediakan buraq, hewan berbulu putih, sebagai kendaraan untuk melakukan perjalanan. Rasulullah kemudian naik ke atasnya dan melakukan perjalanan dengan didampingi oleh Malaikat Jibril dan Mikail.
Selama perjalanan, Rasulullah singgah di beberapa tempat bersejarah untuk melaksanakan sholat sunnah, seperti Madinah, Bukit Tursina, dan Betlehem. Perjalanan berlanjut hingga Nabi Muhammad SAW tiba di Baitul Maqdis dan melaksanakan sholat dua rakaat di Masjidil Aqsha.
Di sana, Rasulullah menjadi imam sholat bagi para nabi, rasul, dan malaikat, yang diutus oleh Allah SWT. Setelah melaksanakan sholat, Jibril memberitahu Rasulullah bahwa orang-orang yang sholat di belakangnya adalah para nabi dan rasul yang diutus Allah SWT.
Setelah itu, Nabi SAW melakukan perjalanan ke langit bersama Jibril dengan menaiki tangga berbahan perak dan emas yang berasal dari Surga Firdaus. Selama perjalanannya, Rasulullah bertemu dengan para nabi di setiap tingkatan langit, yakni:
- Langit pertama, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Adam AS
- Langit kedua, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Yahya AS dan Nabi Ishaq AS
- Langit ketiga, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Yusuf AS
- Langit keempat, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Idris AS
- Langit kelima, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Harun AS
- Langit keenam, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Musa AS
- Langit ketujuh, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim AS
Nabi Muhammad kemudian dibawa naik menuju Sidratul Muntaha yang disebut sebagai tempat akhir dari semua amal manusia dari Bumi. Rasulullah SAW lalu dihadapkan kepada Allah SWT, kemudian dia bersujud kepada-Nya.
Pada momen inilah Allah SWT mewajibkan sholat 50 waktu dalam sehari kepada umat Nabi Muhammad SAW. Setelahnya, Nabi Muhammad pun turun dari Sidratul Muntaha, bertemu dengan Nabi Musa AS dan menceritakan kewajiban sholat 50 waktu yang diperintahkan Allah SWT kepada umatnya.
Nabi Musa AS kemudian berkata, "Berkenanlah kiranya engkau untuk kembali ke hadapan Allah dan mintalah keringanan untuk dirimu dan umatmu". Dengan persetujuan Malaikat Jibril, Nabi SAW kembali ke hadapan Allah SWT kemudian sujud meminta agar diberi keringanan jumlah sholat kepada umatnya. Allah SWT lalu berkata: "Aku kurangi lima untuk umatmu."
Nabi Muhammad SAW kembali turun dan menceritakannya kepada Nabi Musa AS. Namun, Nabi Musa kembali meminta Rasulullah untuk meminta keringanan kepada Allah SWT, karena umat Nabi Muhammad SAW masih belum mampu mengerjakannya.
Hal itu terus dilakukan Rasulullah SAW hingga akhirnya, perintah sholat lima puluh waktu diringankan menjadi lima waktu saja. Allah SWT berkata: "sholat itu kerjakanlah dalam waktu sehari-semalam. Adapun pahalanya setiap satu kali sholat adalah sepuluh kali lipat. Jadi, lima kali sholat itu sama halnya dengan pahala lima puluh kali sholat."
Kemudian turunlah Nabi SAW menemui Nabi Musa AS. Nabi Musa berkata, "Berkenanlah kiranya kamu ya Muhammad untuk kembali lagi ke hadapan Allah, Tuhanmu untuk meminta keringanan. Sesungguhnya umatmu masih belum sanggup untuk mengerjakannya".
Akan tetapi, Nabi Muhammad SAW merasa malu karena sudah bolak-balik meminta keringanan kepada Allah SWT. Oleh karenanya, Rasulullah ikhlas dan ridha dengan perintah sholat lima waktu.
Dengan diterimanya wahyu tersebut, Nabi Muhammad SAW turun kembali ke Bumi untuk menyampaikan perintah sholat. Itulah akhir dari perjalanan Miraj Nabi SAW dari Baitul Maqdis ke langit tertinggi, lalu kembali ke Bumi.
Hikmah Isra Miraj
Disadur dari laman resmi Kementerian Agama RI, perjalanan Isra dan Miraj Nabi Muhammad SAW merupakan peristiwa bersejarah saat Rasulullah menerima perintah sholat wajib lima waktu dari Allah SWT. Istimewanya, perintah tersebut diterima secara langsung oleh Rasulullah tanpa melalui perantara.
Melalui peristiwa tersebut, umat Islam dapat memetik hikmah berharga tentang betapa pentingnya kedudukan sholat dalam ajaran Islam. Sholat menjadi ibadah utama yang mendekatkan seorang muslim kepada Sang Pencipta Allah SWT.
Bukan sekadar menunaikan kewajiban, melaksanakan sholat wajib secara istikamah diyakini mampu menghadirkan ketenangan batin dan menjadikan hidup lebih bermakna. Selain itu, Allah SWT akan senantiasa memberikan petunjuk dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan kehidupan.
Oleh karena itu, setiap muslim diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya sholat dan melaksanakannya dengan penuh kekhusyukan. Peristiwa Isra Miraj menjadi pengingat agar umat Islam untuk tidak mengabaikan kewajiban ibadah yang mulia ini.
Kapan Isra Miraj 2026?
Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa Isra Miraj jatuh pada tanggal 27 Rajab dalam penanggalan Hijriah. Namun, karena penanggalan Hijriah berbeda dengan kalender Masehi, maka perlu dilakukan konversi tanggal terlebih dahulu untuk mengetahui jadwalnya.
Mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI, 27 Rajab 1447 H bertepatan dengan Jumat, 16 Januari 2026.
Ketentuan Libur Isra Miraj 2026
Pemerintah menetapkan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada Jumat, 16 Januari 2026, sebagai hari libur nasional. Ketentuan tersebut tercantum dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026.
Meski tidak disertai dengan cuti bersama, masyarakat tetap berpeluang menikmati libur selama tiga hari berturut-turut. Hal ini karena peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW jatuh pada hari Jumat dan berdekatan dengan akhir pekan.
Agar lebih jelas, berikut rincian libur Isra Mikraj 2026:
- Jumat, 16 Januari 2026: Libur nasional Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW
- Sabtu, 17 Januari 2026: Libur akhir pekan (sistem 2x seminggu)
- Minggu, 18 Januari 2026: Libur akhir pekan
Demikianlah informasi mengenai sejarah singkat Isra Miraj beserta jadwal pelaksanaannya di tahun 2026. Semoga bermanfaat ya, detikers!
(urw/urw)











































