Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi hujan lebat, awan cumulonimbus, hingga gelombang tinggi sampai pekan mendatang akibat adanya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO).
Hasil pantauan menunjukkan fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksikan kembali aktif di wilayah Indonesia bagian barat.
Dilansir dari detikEdu, Minggu (29/1/2023) MJO merupakan fenomena fluktuasi utama dalam cuaca tropis pada rentang waktu mingguan hingga bulanan. Pada laman Maritim BMKG, MJO dikatakan sebagai aktivitas intra seasonal yang terjadi di wilayah tropis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut dapat dikenali berupa adanya pergerakan aktivitas konveksi yang bergerak ke arah timur dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik. Biasanya fenomena demikian muncul setiap 30 sampai 40 hari.
Selain itu, BMKG juga telah mendeteksi adanya Monsun Asia yang masih cukup aktif dengan identifikasi terdapat aliran lintas ekuator. Perlambatan angin dan belokan angin juga terbentuk di sekitar wilayah Indonesia.
Untuk diketahui, Monsun Asia merupakan angin yang bergerak dari arah barat membawa massa udara yang lebih banyak.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto membeberkan bahwa teramati Bibit siklon Tropis bibit 94S di Samudera Hindia sebelah barat daya Lampung dengan kecepatan angin maksimum 37 km/jam. Sementara itu, tekanan udara minimum 1005.0 mb dan bibit siklon tropis 90B yang teramati di Samudera Hindia sebelah barat Aceh dengan kecepatan angin maksimum 37 km/jam, tekanan udara minimum 1006.0 mb.
Kendati demikian, potensi kedua bibit siklon tropis tersebut untuk tumbuh menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan berada dalam kategori rendah. Kondisi tersebut berdampak pada cuaca di Indonesia dalam sepekan ke depan, di mana awan hujan yang tumbuh akan menimbulkan cuaca ekstrem, seperti dikutip oleh detikEdu sebelumnya, Sabtu (28/1).
Berdasarkan prakiraan berbasis dampak, berikut sejumlah wilayah dengan potensi siaga, potensi dampak hujan lebat tanggal 28-30 Januari 2023:
Aceh
Sumatera Barat
Bengkulu
Kepulauan Riau
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Kalimantan Selatan
Sulawesi Utara
Wilayah yang Berpotensi Alami Hujan Sedang-Lebat
Berdasarkan kondisi tersebut, dalam sepekan ini tepatnya tanggal 28 Januari - 2 Februari 2023 perlu diwaspadai adanya potensi hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah, yaitu:
Aceh
Sumatera Barat
Bengkulu
Kepulauan Riau
Jambi
Kepulauan Bangka Belitung
Kalimantan Barat
Kalimantan Selatan
Kalimantan Tengah
Banten
Jawa Barat
DKI Jakarta
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Barat
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Maluku Utara
Maluku
Papua Barat
Potensi Awan Cumulonimbus
BMKG juga menyebutkan MJO memicu potensi awan cumulonimbus dengan persentase cakupan spasial maksimum antara 50-75% (OCNL/Occasional) pada tanggal 28 Januari hingga 3 Februari 2023.
Awan cumulonimbus diprediksi terjadi di Laut Cina Selatan, Samudera Hindia Barat Sumatera, Jawa Tengah, Samudera Hindia Selatan Jawa - NTT, Kalimantan Tengah, Laut Bali, Laut Sulawesi, Laut Flores, Maluku Utara dan Samudera Pasifik Utara Papua.
Kemudian di sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Laut Andaman, Teluk Benggala, Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Selat Sunda, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, Laut Jawa, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah.
Terjadi juga di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Selat Makassar, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Teluk Tomini, Teluk Bone, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Laut Sawu, Laut Maluku, Laut Banda, Maluku Utara, Laut Halmahera, Laut Seram, Maluku, Laut Timor, Papua Barat, Laut Arafura, Teluk Cendrawasih dan Papua.
Kemudian untuk cakupan spasial lebih dari 75% (FRQ/Frequent) pada tanggal 28 Januari 2023 - 3 Februari 2023 diprediksi terjadi di Teluk Benggala, Samudera Hindia Selatan Jawa, Laut Flores dan Samudera Hindia Selatan NTB - NTT.
Fenomena MJO bisa mengakibatkan cuaca ekstrem dan berpotensi memicu gelombang tinggi di wilayah perairan Indonesia pada tanggal periode sepekan ke depan. BMKG memprediksi hal itu akan terjadi pada tanggal 28 Januari - 1 Februari 2023.
Waspada Gelombang Laut Tinggi
Potensi gelombang laut tinggi di perairan Indonesia juga harus diwaspadai. Hal tersebut juga diprediksi terjadi terhitung tanggal 28 Januari hingga 1 Februari.
Berikut kategori tinggi gelombang sekaligus wilayah perairan Indonesia yang terdampak:
Kategori Tinggi Gelombang 2.5 - 4.0 m: Perairan utara Sabang, Perairan barat Aceh, Perairan barat Pulau Simeulue hingga Kepulauan Mentawai, Perairan Bengkulu, Perairan barat Lampung, Selat Sunda bagian barat dan selatan, Perairan selatan Banten, Samudra Hindia barat Kepulauan Nias hingga Lampung, Perairan selatan Kepulauan Anambas hingga Kepulauan Natuna, Laut Natuna, Perairan utara Kepulauan Talaud, Perairan utara Halmahera, Laut Halmahera, Perairan utara Papua Barat hingga Papua, Samudra Pasifik utara Papua Barat hingga Papua.
Kategori Tinggi Gelombang 4.0 - 6.0 m: Perairan utara Kepulauan Anambas hingga Kepulauan Natuna, Samudra Hindia barat Aceh.
Kategori Tinggi Gelombang > 6.0 m: Laut Natuna Utara.
Langkah Preventif yang Perlu Dilakukan
Adapun beberapa langkah dan persiapan yang bisa dilakukan diantaranya:
Memastikan kapasitas infrastruktur dan sistem tata kelola sumber daya air yang siap untuk mengantisipasi peningkatan curah hujan.
Tidak membuang sampah pada saluran air atau infrastruktur pengelolaan air. Menghindari pemotongan lereng atau penebangan pohon yang tidak terkontrol.
Melakukan pemangkasan dahan dan ranting pohon yang rapuh. selain itu penting juga menguatkan tegakan/tiang agar tidak mudah roboh saat angin kencang bertiup.
Menggencarkan sosialisasi, edukasi, dan literasi secara lebih masif untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian Pemerintah Daerah, masyarakat serta pihak terkait dalam pencegahan/pengurangan risiko bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang, puting beliung dan gelombang tinggi).
Lebih mengintensifkan koordinasi, sinergi, dan komunikasi antar pihak terkait untuk kesiapsiagaan antisipasi bencana hidrometeorologi.
Terakhir, lakukan pemantauan secara berkala sekaitan informasi perkembangan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG.
(hmw/alk)