Bangunan SMP Satu Atap (Satap) Taramanu Tua, di Desa Taramanu Tua, Kecamatan Tutar, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) rusak parah. Siswa terpaksa belajar di dalam ruang kelas yang terancam ambruk.
Pantauan detiksulsel, Kamis (1/9/2022), kerusakan bangunan sekolah semi permanen ini terlihat pada bagian plafon yang sudah mulai berjatuhan, tiang penyangga bangunan nyaris patah karena lapuk. Lantai ruang kelas juga banyak yang bolong lalu ditimbun menggunakan tanah.
Akibatnya, hampir seluruh lantai terlihat becek karena air hujan masuk ke dalam ruangan. Demikian pula dengan dinding ruang kelas banyak terlepas karena terbuat dari papan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak yang rusak seperti lantai, dinding, plafon, dan atap, membuat kami merasa tidak nyaman saat belajar karena khawatir," kata salah satu siswa, Samsul kepada wartawan, Kamis (1/9/2022).
Bangunan SMP Satu Atap (Satap) Taramanu Tua, di Desa Taramanu Tua, Kecamatan Tutar, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar) rusak parah. Foto: Foto: (detikcom/Abdy Febriady) |
Selain itu, para siswa di sekolah ini harus bersabar mengikuti proses pembelajaran karena terpaksa memanfaatkan meja dan kursi yang sudah tidak layak pakai alias rusak.
Salah satu guru bernama Isman menuturkan kondisi sekolah ini sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Namun belum mendapat perhatian kendati telah berulang kali dilaporkan kepada dinas terkait.
"Sebenarnya sekolah kami ini sudah lumayan lama kondisinya seperti ini, sehingga banyak yang perlu diperbaiki, namun sampai hari ini belum pernah mendapat perbaikan," ungkap Isman.
Isman berharap kepada pemerintah agar segera memperbaiki kerusakan bangunan di sekolah ini. Ia kasihan dan khawatir atas keselamatan siswa yang harus belajar di gedung sekolah yang hampir ambruk.
"Yang jelas kekhawatiran banyak, karena masalah keselamatan dalam proses belajar itu juga perlu kami perhatikan, karena dikhawatirkan jangan sampai ketika proses pembelajaran berjalan, ada kayu yang jatuh dari atas, sangat beresiko bagi peserta didik kami," tuturnya.
Untuk diketahui, SMP Satu Atap Taramanu Tua telah ada sejak tahun 2012 lalu dan belum pernah mendapat bantuan rehab. Sejak dibangun sekolah ini hanya memiliki dua ruang kelas. Akibatnya, proses belajar salah satu tingkatan kelas terpaksa digabung dengan tingkatan lainnya.
"Dikondisikan, mana yang sedikit siswanya itu yang digabung, sementara yang banyak siswanya dipisah dalam ruangan tersendiri," pungkas Isman.
(hsr/sar)












































