Sulawesi Barat

Cerita Pemuda Mandar Kenalkan Budaya-Tokoh Sulbar Lewat Artikel dan Kaos

Hafis Hamdan - detikSulsel
Selasa, 09 Agu 2022 17:28 WIB
Nursaid Nurdin, pemuda 29 tahun asal Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) yang menggunakan media kaos dan artikel.
Nursaid Nurdin, pemuda 29 tahun asal Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) yang menggunakan media kaos dan artikel. Foto: Hafis Hamdan/detikSulsel
Polewali Mandar -

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengenalkan budaya dan tokoh daerah. Salah satunya dilakukan oleh Nursaid Nurdin, pemuda 29 tahun asal Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) yang menggunakan media kaos dan artikel.

Putra asli Mandar itu giat menulis artikel dan memproduksi kaos dengan desain tokoh serta budaya melalui wadah yang digagasnya. Nursaid memberinya nama Galeri Mandar Indonesia (GMI).

"Saya buat wadah sekaligus toko yang namanya Galeri Mandar Indonesia (GMI) yang berfokus pada riset, pembuatan artikel di medsos, hingga penjualan kaos dengan desain budaya dan tokoh di Sulbar," ujar Nursaid saat ditemui detikcom, Senin (8/8/2022).


Nursaid Nurdin, pemuda 29 tahun asal Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) yang menggunakan media kaos dan artikel.Produk yang dibuat Nursaid Nurdin, dalam mengenalkan budaya dan tokoh daerah. Foto: Hafis Hamdan/detikSulsel

Awalnya, ia mengaku hanya menulis berbagai artikel terkait budaya dan tokoh di provinsi yang kini berusia 17 tahun itu. Semua dilakukan secara mandiri melalui riset langsung bersama timnya.

"Artikel budaya dan tokoh sudah banyak yang kami tulis kemudian diposting di medsos. Untuk datanya sendiri tim GMI biasanya turun melakukan riset di lapangan. Saat ini bahkan pengikut halaman Facebook GMI mencapai 50 ribu," terangnya.

Nursaid Nurdin, pemuda 29 tahun asal Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) yang menggunakan media kaos dan artikel.Desain kaos yang dibuat Nursaid Nurdin untuk mengenalkan budaya dan tokoh di Sulbar. Foto: Hafis Hamdan/detikSulsel

Nursaid menambahkan, ke depannya ia akan lebih fokus pada riset-riset kecil terkait sejarah dan budaya Kalumpang dan Botteng di Mamuju. Hal ini dilakukannya sebagai bukti tekad untuk terus mengenalkan budaya dan tokoh daerah Sulbar agar terus menggeliat.

"Sampai saat ini saya dan teman-teman GMI masih melakukan riset kecil-kecilan. Ke depan semoga bisa kita menambah artikel terbaru tentang budaya yang ada di Mamuju," pungkasnya.

Selain melalui artikel, promosi budaya dan tokoh Sulbar lewat produksi kaos juga digagasnya sejak 2017. Dirinya memproduksi kaos yang hanya fokus pada desain tokoh dan budaya yang ada di Sulbar.

Sudah banyak desain yang kini dicetak dalam bentuk kaos. Mulai dari perahu sandeq, aksara Mandar, adat Kalumpang, tokoh pahlawan nasional Andi Depu, hingga mantan Jaksa Agung Baharuddin Lopa.

Nursaid menuturkan, telah beberapa kali mengikuti event di Sulbar untuk mengenalkan produknya. Bahkan kaos desain budaya Kalumpang telah dibeli Bupati Mamuju. Namun ia mengaku pembeli produk kaosnya lebih banyak dari Kalimantan, Papua, bahkan dari Malaysia.

Melalui GMI yang digagasnya, saat ini ia telah menjual 15 produk daerah. Mulai dari kaos, sutra Mandar, gula merah Mandar, miniatur perahu sandeq dan berbagai produk lainnya. Kini ia mampu meraup keuntungan hingga Rp 5 juta dari penjualan dalam sebulan.

"Saya menargetkan GMI sendiri bisa menjual 100 produk daerah. Cuman bertahap, makanya tiap tahun kita cari 10 produk baru lainnya untuk dijual," beber Nursaid.

Sebagai bentuk kecintaannya terhadap budaya daerah, alumni Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) itu bahkan merancang game perahu sandeq berbasis android. Game itu yang juga dijadikan skripsi hingga mengantarnya menjadi sarjana teknik.

Ia berharap dengan adanya GMI yang digagasnya, bisa menjadi ruang bagi generasi muda. Begitu pula bagi orang luar untuk lebih mengenal budaya dan tokoh di Sulbar.

"Semoga GMI ini menjadi salah satu upaya kita untuk generasi ke depan tetap mengenal budaya dan tokoh asli daerah," harapnya.



Simak Video "Passauang Kaiyyang, Sumur di Polman yang Airnya Tak Pernah Kering"
[Gambas:Video 20detik]
(asm/sar)