Anak Korban Penembakan KKB Asal Selayar Butuh Konseling Gegara Trauma

Isak Pasabuan - detikSulsel
Minggu, 24 Jul 2022 14:25 WIB
Korban tewas KKB tiba di kampung halamannya di Selayar.
Foto: Korban tewas KKB saat tiba di kampung halamannya di Selayar. (Dokumen Istimewa.)
Selayar -

Anak Taufan Amir (42), korban kelompok kriminal bersenjata (KKB) asal Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel) bernama Kansah mengalami trauma. Anaknya butuh konseling atau trauma healing dari pemerintah usai ayahnya tewas ditembak teroris KKB di Kabupaten Nduga, Papua.

Istri Taufan Amir, Hajra menjelaskan, anak perempuannya mengalami ketakutan dan langsung menangis bila melihat orang berseragam hitam. Pasalnya anaknya menyaksikan langsung ayahnya ditembak KKB Papua di depan matanya.

"Yang perempuan ini lihat waktu kejadian, lihat bapaknya ditembak. Karena sama bapaknya di kios. Dia lihat bapaknya ditembak," papar istri almarhum Taufan Amir, Hajra saat dihubungi detikSulsel, Minggu (24/7/2022).


Diketahui Taufan Amir merantau setelah ditawari pekerjaan oleh seorang pengusaha batu bata di Papua. Almarhum tinggal di salah satu kios di Kabupaten Nduga bersama istri sekaligus membawa seorang anaknya yang masih balita.

Hajrah berharap berharap ada bantuan konseling psikologi dari pemerintah setempat bagi anaknya Kansah yang mengalami trauma mendalam.

"Anak saya saat ini masih trauma kalau lihat orang berseragam warga hitam atau loreng dia menangis. Karena mengingat almarhum ayahnya ditembak mati di depan matanya oleh KKB di Papua yang pakai seragam hitam dan loreng," ungkap Hajra.

Dia menambahkan, Bupati Nduga Wentius Imiangge juga telah memberikan santunan Rp 145 juta. Bantuan itu diterima langsung istri Taufan Amir dari perwakilan bupati.

"Dikasih santunan sama bapak bupati (Wentius Imiangge), termasuk biaya perjalanan ke Makassar. Totalnya Rp 145 juta termasuk mi biaya jalan Rp 30 juta, cash itu Rp 115 juta," beber Hajra.

Santunan tersebut akan dipergunakan untuk biaya pendidikan anaknya. Selain Kansa, Taufan Amir juga meninggalkan anak laki-lakinya duduk di bangku kelas 1 SD bernama Aswar.

"Santunannya sudah dideposito, karena ini dua anaknya masih kecil, satu baru kelas 1 SD, dan satunya baru satu tahun lebih," ucap Hajra.

Selain dari Bupati Nduga Wentius Imiangge, Hajra juga mengaku mendapat bantuan usaha dari anggota DPRD RI Muh Rapsel Ali. Santunan sebesar Rp 20 juta diberikan Sabtu kemarin (23/7).

Namun untuk rencana usaha yang akan dibuat, Hajra mengaku belum sejauh itu berencana karena masih dalam suasana berduka. Tapi rencana awalnya membuka toko kelontong di kampung halamannya Kayuadi, Kecamatan Takabonerate, Kepulauan Selayar.

"Kemarin juga ada datang perwakilan Pak Rapsel bawa santunan untuk modal usaha. Tapi belum banyak pikiran karena masih trauma, nanti paling usaha campuran (toko kelontong) untuk biaya hidup sehari-hari," sebutnya.

"Saya sangat berterima kasih atas kepedulian pak Rapsel. Modal usaha ini akan saya pergunakan sebaik mungkin, khususnya untuk anak-anak ku," sambungnya.

Tenaga Ahli Muh Rapsel Ali, Darmawang menambahkan, bantuan usaha yang disalurkan sebesar Rp 60 juta dengan masing-masing korban menerima santunan senilai Rp 20 juta per keluarga. Tiga korban asal Kepulauan Selayar yakni Dg. Maramli (41), Taufan Amir (42) dan Sirajudin (27).

"Tiga orang korban penembakan KKB di Kabupaten Nduga Papua merupakan warga asal Selayar, tanah kelahiran Pak Rapsel Ali. Mereka ke Papua untuk mencari nafkah, untuk itu Pak Rapsel Ali melalui saya menyalurkan bantuan modal usaha kepada para keluarga korban," ujar Darmawang.

Diketahui Taufan Amir merantau dari Selayar ke Papua pada awal 2022 lalu. Faktor ekonomi membuatnya memutuskan merantau ke Nduga.

"Kan kalau di Selayar (penghasilannya) hanya cukup untuk makan sehari-hari, itu biasa didapat sehari antara Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu. Apalagi almarhum juga belum punya rumah tetap. Jadi ke sana (Papua) karena itu, faktor ekonomi," kata kemenakan almarhum Taufan Amir, Iksar Rais kepada detikSulsel, Senin (18/7)



Simak Video "10 Orang Tewas Dibantai KKB di Nduga Papua, Ini Identitas Korban"
[Gambas:Video 20detik]
(sar/tau)