Disdag Sulsel Sidak Pasar Temukan Kenaikan Harga Pangan gegara Stok Kurang

Darmawanti Adellia Adipradana - detikSulsel
Kamis, 07 Jul 2022 13:32 WIB
Disdag Sulsel saat sidak pasar Pa,baeng-baeng (detikSulsel/Darmawanti).
Foto: Disdag Sulsel saat sidak pasar Pa,baeng-baeng (detikSulsel/Darmawanti).
Makassar -

Dinas Perdagangan (Disdag) Sulawesi Selatan (Sulsel) mengecek da menemukan kenaikan harga pangan menjelang Hari Raya Idul Adha 1443 Hijriah di Pasar Pa'baeng-baeng. Disdag mengakui harga pangan yang tinggi disebabkan oleh kekurangan stok untuk pedagang di Pasar.

"Kenaikan harga cabai ini disebabkan, kita tidak hanya menyuplai di wilayah kita (Sulsel), tapi kita juga suplai ke Kalimantan, Papua, Maluku dan Sulawesi Utara, dan bukan cuma kita juga yang meningkat mereka juga permintaan semakin meningkat," ujar Kadisdag Sulsel Ashari Fakhsirie Radjamilo kepada wartawan, Kamis (7/7/2022).

Harga cabai dan bawang merah masih tinggi di kisaran Rp 60 ribu per kilogramnya dari harga normal Rp 30 ribu per kilo, seminggu lalu harga cabai sempat Rp 80 ribu perkilonya sedang harga bawang merah di Rp 70 ribu perkilo dari harga normal Rp 25 ribu perkilonya. Selain itu, Ashari juga menemukan kenaikan harga telur ayam yang dihargai Rp 40 ribu per rak dari harga normal Rp 32 ribu per rak.


"Selain konsumsi yang naik, persoalan pakan (unggas) juga jadi masalah (faktor kebaikan harga telur)," ujarnya.

Harga daging ayam juga ikut naik, dari harga normal Rp 50 ribu perekornya, naik menjadi Rp 70 ribu per ekor begitupun dengan harga daging sapi, dari harga normal di kisaran Rp 100 ribu perkilonya, saat ini mencapai Rp 120 ribu per kilo. Harga ini dinilai wajar, karena naiknya tidak jauh dari harga normal. Tetapi, terjadi penurunan permintaan daging sapi di pasaran. Ashari mengungkapkan perilaku masyarakat yang kurang membeli daging saat Idul Adha faktor turunnya permintaan daging.

"Kalau daging (ayam dan sapi) masih stagnan lah harganya, memang kalau mendekati idul adha sering terjadi seperti itu (permintaan daging sapi menurun), karena masyarakat berharap daging (sapi) di idul kurban," jelasnya.

Ashari menjamin meski permintaan di wilayah luar Sulsel semakin tinggi berdampak pada suplai untuk Kota Makassar berkurang, stok pangan tetap aman. Sentra produksi cabai dan bawang dinilainya semakin baik dengan limpahan panen.

"Enrekang dan Jeneponto bagus produksi cabai dan bawangnya, tapi itu lagi permintaan juga naik dan kita juga menyuplai provinsi lain di Kawasan Indonesia Timur, tapi stok tetap aman," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah VI Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Makassar Hilman Pujana, menilai wajar tingginya harga pangan di pasar menjelang Idul Adha. Selain itu, tingginya permintaan suplai pangan bukan hanya di wilayah Sulsel namun di beberapa provinsi di Kawasan Indonesia Timur.

"Cabai dan bawang merah memang dikarenakan produk dari Sulsel bukan cuma dikonsumsi dari Sulsel saja, tapi juga menyuplai wilayah timur di Indonesia," ujarnya.

Hilman juga mengakui bila tingginya harga disebabkan adanya kekurangan stok pangan nasional. Alhasil, Sulsel mesti mendistribusikan komoditas pangannya ke beberapa wilayah tambahan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

"Memang stok secara nasional shortage ya, di daerah tertentu ada yang gagal panen, sehingga Sulsel sebagai salah satu sentral mesti mengisi kekosongan itu, jadi wilayah sentral (Sulsel) itu pasti berdampak dari sisi harganya," paparnya.



Simak Video "Jelang Lebaran, Ganjar Cek Suplai Minyak-Harga Sembako di Purwokerto"
[Gambas:Video 20detik]
(hmw/tau)