Tugas Berat Ulla Nakhodai Demokrat Sulsel dan IAS Pendulang Suara Hengkang

Tim detikSulsel - detikSulsel
Minggu, 29 Mei 2022 08:31 WIB
Ketua Demokrat Sulsel, Nimatullah Erbe
Ketua DPD Demokrat Sulsel Ni'matullah (Foto: Noval Dhwinuari Antony-detikcom)
Makassar -

Tugas Ketua DPD Demokrat Sulawesi Selatan (Sulsel) yang baru dilantik Ni'matullah atau Ulla dinilai semakin berat usai hengkangnya salah satu kader Demokrat yang menang di Musda Sulsel, Ilham Arief Sirajuddin (IAS) ke partai Golkar. Padahal figur IAS dinilai merupakan sosok pendulang suara bagi partai.

"Jadi tugas Pak Ulla (Ni'matullah) sebagai ketua DPD (Demokrat Sulsel) cukup berat. Kami menargetkannya di Bappilu, Pak Ulla harus membawa Partai Demokrat sampai 15% di Sulawesi Selatan," kata Ketua Bappilu DPP Demokrat Andi Arief kepada detikSulsel, Jumat (27/5/2022).

Andi Arief menyebut, Ulla perlu dukungan kuat dari semua kader Demokrat di Sulsel untuk bisa mencapai target atau tugas berat yang dibebankan. Dia meminta semua kader ikhlas dengan kepindahan IAS agar tak mengganggu konsentrasi kerja untuk partai.


"Dan kepada semua kader yang ada di Sulawesi Selatan, harus ikhlas. Inilah kenyataannya, kita harus tetap konsentrasi untuk terus menaikkan elektabilitas Partai Demokrat di Sulawesi Selatan, yang sekarang kalau mengikuti survei Indikator Politik sudah mencapai 12,5%," ungkap Andi Arief.

IAS sebenarnya kata Andi Arief, dipersiapkan DPP untuk menjadi cagub di Sulsel pada pilkada 2024 nanti. Sementara Ni'matullah diberikan kesempatan untuk memimpn kembali DPD Demokrat Sulsel. Keputusan ini dinilainya sudah adil.

"Saya kira sudah cukup adil, dimana diputuskan bahwa untuk ketua DPD adalah saudara Ni'matullah. Sedangkan Pak Ilham Arief Sirajuddin sendiri merupakan kader yang sebetulnya kami siapkan untuk salah satu calon gubernur di Sulawesi Selatan. Itu diputuskan dan sudah didengarkan langsung oleh Pak Ni'matullah dan juga Pak Ilham Arief Sirajuddin," pungkasnya.

Demokrat Sulsel Dinilai Kehilangan Pendulang Suara Gegara IAS Hengkang

Pengamat politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Sukri Tamma menilai hengkangnya IAS ke Golkar akan merugikan Demokrat Sulsel. Pasalnya figur IAS dinilainya merupakan vote getter atau pendulang suara untuk partai.

"Tentunya apa yang dipunyai IAS, tidak lagi dipunyai Demokrat. Dari segi ketokohan, popularitas, sumber daya, jaringan. Kehilangan tokoh seperti IAS sebagai vote getter, tentunya akan menjadi kerugian bagi partai yang ditinggalkan," ujar Sukri kepada detikSulsel, Jumat (27/5).

Menurutnya, saat ini partai mayoritas sudah bersiap menatap persaingan di pemilu serentak 2024 nanti sehingga menjaga kondisi internalnya. Namun justru, Demokrat Sulsel kehilangan tokoh sentralnya yang hengkang ke partai lain.

"Sebaliknya akan menjadi keuntungan bagi Parpol yang didatangi. Apalagi kalau IAS punya rencana maju di Pilgub, ini akan menjadi keuntungan bagi Golkar, karena mendapatkan figur yang bisa mendatangkan banyak dukungan masyarakat," tuturnya.

Dia menilai hengkangnya IAS ini karena sejumlah faktor. Namun yang menurutnya paling menonjol terkait perbedaan visi-misi ke depan. Termasuk juga karena kepentingan politik IAS ke depan.

"Kita harus melihat bahwa, seorang aktor politik ingin berada di partai yang sejalan dengan kepentingan dan target-target politiknya. Karena dia tidak mungkin meninggalkan parpol yang dia sukai dan masih sejalan dengannya," tukasnya.

IAS Hengkang Karena Merasa Tak Diinginkan DPP

Politisi senior Demokrat di Sulawesi Selatan (Sulsel) Ilham Arief Sirajuddin mengaku mantap meninggalkan Demokrat dan berpindah ke Golkar karena beberapa hal. IAS yang mendapat dukungan 16 DPC saat Musda Demokrat Sulsel merasa elite DPP Demokrat tak menginginkannya lagi.

"Pertama, saya membutuhkan organisasi dimana saya dan cita-cita saya mengabdi di kancah lebih besar, bisa lebih dihargai," ujar IAS dalam keterangannya kepada detikSulsel, Jumat (27/5).

Selain itu, IAS juga merasa aneh dengan keputusan DPP Demokrat yang menunjuk Ni'matullah sebagai Ketua DPD Demokrat Sulsel padahal hanya didukung 8 DPC saat Musda Demokrat Sulsel pada Desember 2021 lalu. Sementara, IAS mengaku dapat dukungan mayoritas karena ada 16 DPC mendukungnya namun dia tak diberi kepercayaan oleh DPP pimpin Demokrat Sulsel.

"Sesungguhnya saya seperti pejuang, yang dipaksa menelan ludah sendiri. Ibarat bertarung membawa sekeranjang air," keluh IAS.

Dengan kondisi ini, IAS berkesimpulan mesti mengambil keputusan berat untuk hengkang. Lantaran dia merasa keberadaannya di Partai Demokrat sudah tidak diinginkan lagi oleh elite DPP Demokrat.

"Saya tidak bisa membayangkan, jika harus tetap berada satu organisasi, di mana para petingginya di Pusat, saya pahami sudah tidak menginginkan saya. Apalagi setelah keputusan penunjukan (Ni'matullah), tidak ada upaya rekonsiliasi yang terlihat di segala tingkatan," tukas IAS.



Simak Video "KIB Kompak Daftar ke KPU, AHY: Yang Lebih Penting Bukan Hanya Simbolisasi"
[Gambas:Video 20detik]
(tau/sar)