Terima IAS Gabung Golkar, Taufan Pawe Ungkap Target 200 Kursi di Pileg

Muhclis Abduh - detikSulsel
Jumat, 27 Mei 2022 20:48 WIB
Wali Kota Parepare Taufan Pawe (kiri). Foto: Agung Pramono/detikSulsel
Ketua DPD I Golkar Sulsel Taufan Pawe (Foto: Agung Pramono/detikSulsel)
Makassar -

Ketua DPD I Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) Taufan Pawe (TP) secara terbuka menerima bergabungnya politisi senior Demokrat Ilham Arief Sirajuddin (IAS). TP lalu mengingatkan tugas kader untuk membesarkan Golkar, salah satunya menggaet 200 kursi saat Pemilu Legislatif 2024 mendatang.

"Saya berpikir Golkar kan partai terbuka. Wajib hukumnya kalau dia (IAS) sudah kader membesarkan partai," ungkap TP kepada wartawan, Jumat (27/5/2022).

TP menuturkan semua kader berkewajiban bergerak untuk membesarkan partai. Menurut TP, indikatornya bisa dilihat dari peningkatan kursi. Saat ini, Golkar punya 152 kursi di seluruh Sulsel.


"(Target) tembus 200 (kursi). Dan itu sudah terbangun dari beberapa waktu lalu dan semua kader berkewajiban membesarkan partai," jelasnya.

Terkait komunikasi dengan IAS, silaturahmi selama ini disebut TP selama ini berjalan baik. Namun dia menyebut memang ada pembicaraan terkait rencana kepindahan IAS ke Golkar.

"Interaksi kami mengarah ke sana (gabung Golkar) memang. (Soal kapan bergabung) Itu nanti kita liat," tukasnya.

Politisi senior Demokrat di Sulawesi Selatan (Sulsel) IAS diketahui hengkang dari parta berlambang Mercy ke Golkar. IAS mengungkapkan, dia mencari tempat yang lebih bisa dihargai, sementara petinggi DPP Demokrat sudah tidak menginginkannya lagi.

"Pertama, saya membutuhkan organisasi dimana saya dan cita-cita saya mengabdi di kancah lebih besar, bisa lebih dihargai," ujar IAS dalam keterangannya kepada detikSulsel, Jumat (27/5).

IAS lalu menyoroti keputusan DPP Demokrat yang lebih memilih Ni'matullah sebagai ketua Demokrat Sulsel meski hanya didukung 8 suara suara DPC pada Musda, Desember 2021 lalu. Sementara IAS yang memenangkan Musda dengan 16 suara DPC tidak dipercaya DPP.

"Sesungguhnya saya seperti pejuang, yang dipaksa menelan ludah sendiri. Ibarat bertarung membawa sekeranjang air," katanya.

Aco sapaan akrab IAS melanjutkan, alasan lainnya yang membuatnya hengkang dari Demokrat ialah, dia merasa keberadaannya di Partai Demokrat sudah tidak diinginkan lagi oleh elite DPP Demokrat.

"Saya tidak bisa membayangkan, jika harus tetap berada satu organisasi, dimana para petingginya di pusat, saya pahami sudah tidak menginginkan saya. Apalagi setelah keputusan penunjukan (Ni'matullah), tidak ada upaya rekonsiliasi yang terlihat di segala tingkatan," urai IAS.



Simak Video "Cara Walkot Parepare Edukasi Ketua RT/RW yang Belum Divaksin"
[Gambas:Video 20detik]
(tau/nvl)