Ani Pengusaha Dubai Bantah Kirim TKI ke Timur Tengah: Hanya Terima dari Agen

Agung Pramono - detikSulsel
Jumat, 06 Mei 2022 21:00 WIB
Nur Afni Ramang, warga Soppeng yang kini memiliki perusahaan di Dubai
Nur Afni Ramang, wanita asal Soppeng yang kini punya perusahaan sendiri di Dubai (Foto: Istimewa)
Soppeng -

Wanita asal Soppeng, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang memiliki perusahaan ketenagakerjaan di Dubai, Nur Afni Ramang alias Ani membantah perusahaan miliknya melakukan pengiriman tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia ke Timur Tengah. Dia menegaskan, perusahaan miliknya hanya menerima dari agen.

"Soal pengiriman TKW, itu kan kita dapat izin di sana, kantor pemerintahan sana (Dubai)," ungkap Ani kepada detikSulsel, Jumat (6/5/2022).

Ani mengaku tidak mengetahui adanya moratorium dari Pemerintah Indonesia yang melarang pengiriman TKI ke Timur Tengah sejak tahun 2015. Ani yang hanya menerima TKI dari agen-agen tidak mengetahui apakah pengiriman itu legal atau ilegal.


"Kenapa bisa (belum ada pengiriman pemerintah)? Sedangkan malam Lebaran saja ada pengiriman (TKI). Berarti itu tidak resmi. Saya kan tidak tau itu resmi atau tidak. Cuman kan pihak kantor saya cuman menerima. Tidak tahu resmi atau tidak resmi," jelasnya.

Mestinya kata dia, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Dubai mempersoalkan agen-agen yang tidak resmi ini. Lantaran perusahaannya hanya menerima.

"Bukan perusahaan di Dubai (yang dipersoalkan). Kita kan cuma menerima," jelasnya.

Dia berharap polemik perusahaannya tidak meluas. Apalagi menurutnya tidak mudah untuk menerima surat izin mendirikan perusahaan di Dubai.

"Tidak gampang dapat lisensi, harus disponsori orang Arab asli," jelasnya.

Ani kembali menegaskan perusahaannya di Dubai hanya menerima tenaga kerja. Ada beberapa agen di Indonesia yang mengirimkan tenaga kerja. Termasuk diakuinya dari agen tidak resmi.

"Kadang juga dari PT (perusahaan terbatas) resmi. Kan sekarang di Jakarta kurang PT yang resmi. Karena mereka harus bayar mahal. Bayar ini bayar itu," jelasnya.

Sehingga agen-agen tenaga kerja seperti main petak umpet. Jadi banyak agen disebutnya tidak punya kantor tetap di Jakarta. Namun menyewa atau kontrak rumah/kantor.

"Karena kalau ketahuan LSM, pindah lagi," jelasnya.

Ani menambahkan setelah menerima selanjutnya perusahaannya yang menyuplai ke majikan-majikan. Sehingga bila ada TKW yang kurang diterima majikan, akan dipulangkan ke perusahaan.

"Nanti kita carikan lagi majikan baru. Tapi kadang banyak TKW bermasalah kabur dari majikan, nanti setelah dia mau pulang ke Indonesia baru ke KJRI," jelasnya.

Sebelumnya, Konsul Jenderal KJRI Dubai Candra menerangkan, pemerintah telah mengeluarkan moratorium pengiriman TKI ke Timur Tengah melalui Keputusan Menteri Ketenagakerjaan RI nomor 260 tahun 2015 tentang Penghentian dan Pelarangan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia pada Penggunaan Perseorangan di Negara-negara Kawasan Timur Tengah.

"Jadi ada larangan itu. Ada moratorium sejak 2015," jelasnya, Kamis (5/5).

Soal pengiriman TKI ke Timur Tengah ini masuk kategori human trafficking atau tindak pidana perdagangan orang (TPPO), Candra menuturkan perlu pembuktian. Namun potensi dugaan itu bisa saja terjadi.

"Soal dugaan pelaku human trafficking, kami kan tidak bisa menuduh yang bersangkutan, bahwa potensinya ada ya bisa saja. Tetapi itu kan prosesnya harus dibuktikan di pengadilan," tuturnya.

Namun dugaan human trafficking bisa saja ada dengan merujuk kepada peraturan menteri kerja yang melarang pengiriman tenaga kerja ke TKI. Kepmen Nomor 260 tahun 2015 melarang pengiriman pekerja domestik ke Timur Tengah.

"Dugaan (human trafficking) bisa saja karena jelas ada larangan sesuai peraturan menteri tenaga kerja," tuturnya.



Simak Video "Mengenang 3 Tahun Kepergian Ani Yudhoyono"
[Gambas:Video 20detik]
(tau/nvl)