Dugaan Ani Kirim TKI ke Timur Tengah Pakai Perusahaan Dubai Kini Diusut

Tim detikSulsel - detikSulsel
Jumat, 06 Mei 2022 07:45 WIB
Nur Afni Ramang, warga Soppeng yang kini memiliki perusahaan di Dubai
Nur Afni Ramang, wanita asal Soppeng yang kini punya perusahaan sendiri di Dubai (Foto: Istimewa)
Makassar -

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Dubai sementara menelusuri dugaan adanya pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Timur Tengah menggunakan perusahaan milik Nur Afni Ramang alias Ani di Dubai. Ada dugaan pelanggaraan jika benar ada pengiriman TKI yang dilakukan perusahaan milik wanita asal Soppeng, Sulawesi Selatan (Sulsel) tersebut.

"Yang jelas kalau ada pengiriman (tenaga kerja) ke sini, itu disebut nonprosedural. Tidak sesuai prosedur, melanggar peraturan menteri tenaga kerja," ungkap Konsul Jenderal KJRI Dubai Kartika Candra Negara kepada detikSulsel, Kamis (5/5/2022).

Candra menerangkan, pemerintah telah mengeluarkan moratorium pengiriman TKI ke Timur Tengah melalui Keputusan Menteri Ketenagakerjaan RI nomor 260 tahun 2015 tentang Penghentian dan Pelarangan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia pada Penggunaan Perseorangan di Negara-negara Kawasan Timur Tengah.


"Jadi ada larangan itu. Ada moratorium sejak 2015," jelasnya.

Soal pengiriman TKI ke Timur Tengah ini masuk kategori human trafficking atau tindak pidana perdagangan orang (TPPO), Candra menuturkan perlu pembuktian. Namun potensi dugaan itu bisa saja terjadi.

"Soal dugaan pelaku human trafficking, kami kan tidak bisa menuduh yang bersangkutan, bahwa potensinya ada ya bisa saja. Tetapi itu kan prosesnya harus dibuktikan di pengadilan," tuturnya.

Namun dugaan human trafficking bisa saja ada dengan merujuk kepada peraturan menteri kerja yang melarang pengiriman tenaga kerja ke TKI. Kepmen Nomor 260 tahun 2015 melarang pengiriman pekerja domestik ke Timur Tengah.

"Dugaan (human trafficking) bisa saja karena jelas ada larangan sesuai peraturan menteri tenaga kerja," tuturnya.

Ani Tak Terdaftar di KJRI

KJRI Dubai mengungkap Ani wanita asal Soppeng yang punya perusahaan di Dubai ini ternyata belum pernah melapor. Sehingga dia tidak terdaftar di KJRI.

"Kami kan ada daftar WNI di sini. Beliau (Ani) belum pernah mendaftar ke KJRI," ungkap Konsul Jenderal KJRI Kartika Candra Negara kepada detikSulsel, Kamis (5/5/).Ani Tak Terdaftar di KJRI

Dia mengaku kemudian berusaha mencari tahu keberadaan Ani. Apalagi ternyata selama ini sudah lama menetap di Dubai namun tidak terdaftar di KJRI.

"Karena nanya beberapa teman di sini belum kenal (Ani). Jadi belum kenallah saya dengan beliau (Ani)," bebernya.

Namun demikian, Candra menjelaskan terkait melapor tidaknya ke KJRI itu tidak terkait dengan status Ani papakah pendatang legal atau ilegal di Dubai. Ani disebutnya bisa saja sudah terdaftar di sistem kependudukan di Dubai.

"Soal legal atau ilegal tinggal di sini kita tida tahu. Tapi karena punya perusahaan di sini mestinya legal (Ani)," tuturnya.

Keberhasilan Ani memiliki perusahaan disebut Candra memang karena warga asing di Dubai diperbolehkan punya perusahaan. Namun harus berkongsi dengan orang setempat bila ingin mendirikan perusahaan. Aturannya ketat sehingga warga asing tidak bisa mendirikan perusahaan sendiri. Mesti berkongsi.

"Sampai tahun 2021 ada 200 sektor usaha yang orang asing di Dubai bisa punya 100%. Kalau sebelumnya nggak boleh, jadi pasti kongsi," jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, Ani seorang wanita asal Soppeng menjadi tajir melintir usai memiliki perusahaan konsultan di Dubai yang bernama Alichani Human Resources Consultancy. Perusahaan ketenagakerjaan yang mengatur terkait sopir, asisten rumah tangga, hingga mengurus panti jompo ini telah mendapat izin dari pemerintah setempat di Dubai.

"Saya buat perusahaan sendiri. Namun tidak sembarangan orang bisa buat kantor begitu (konsultan TKW) di Dubai," ujar Ani kepada detikSulsel, Jumat (29/4).

Saat itu Ani juga mengaku jika perusahaannya memiliki sedikit karyawan, namun mengelola banyak tenaga kerja wanita (TKW) mulai dari Indonesia, Filipina, Sri Lanka, Afrika, Ethiopia, Pakistan, dan India. Semuanya di atur ke Arab Saudi, Qatar, Oman, dan Malaysia. Bahkan dalam sebulan dia sempat mengirim 50 TKW dari Indonesia.

"Paling banyak permintaan di Dubai karena negara terkaya. Sedikitnya sekali sebulan yang diterbangkan 50 orang dari Indonesia. Satu pembantu dibayar Rp 80 juta. Orang Arab ini butuh pembantu, bahkan saat saya sementara di Soppeng pulang kampung, masih banyak majikan menelepon," bebernya.



Simak Video "Mengenang 3 Tahun Kepergian Ani Yudhoyono"
[Gambas:Video 20detik]
(tau/nvl)