Promotor dr Terawan di Unhas Bantah Ada Tekanan Loloskan Metode Cuci Otak

Taufik Hasyim - detikSulsel
Selasa, 05 Apr 2022 14:34 WIB
Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar.
Foto: Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. (Taufik-detikcom)
Makassar -

Promotor Dr dr Terawan Agus Putranto SpRad, Prof Irawan Yusuf dari Universitas Hasanuddin (Unhas) buka suara terkait tudingan Unhas mendapat tekanan sehingga meloloskan disertasi metode cuci otak. Dia menyangkal tudingan Majelis Kehormatan Kode Etik Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia (MKEK IDI).

"Itu dia yang saya ingin tahu dari mana dugaan tekanan itu. Saya selama ini tidak pernah ditekan oleh siapapun," ungkap Prof Irawan kepada detikSulsel, Selasa (5/4/2022).

Dia menuturkan penjelasannya tidak berubah terkait metode cuci otak dr Terawan yang kontroversi ini. Dia mengaku pernah menjelaskan secara gamblang pada tahun 2018 lalu lewat konferensi pers.


"Saya kira tidak ada yang berubah. Lagipula saat ini, saya sedang meminta penjelasan Prof Rianto Setiabudi dari MKEK IDI dari mana informasinya bahwa Unhas ditekan," jelasnya.

Prof Irawan juga sebelumnya mengaku sudah memberikan penjelasan ke MKEK IDI terkait metode cuci otak dr Terawan. Prof Irawan Yusuf PhD menjadi saksi ahli.

Dalam dokumen yang diterima detikSulsel, ada empat poin penjelasan yang dia berikan.

a. Saat pertama kali bertemu, Dr TAP sedang mengambil S3 di Unibersitas Gajah Mada tapi ternyata tidak ada dosen yang mau membimbing. Prof Irawan Yusuf, PhD mengusulkan agar Dr TAP mengambil S3 di Univ. Hasanuddin.

b. Bahwa peran utama BW hanya meningkatkan cerebral flood flow pada stroke kronik, memperbaiki suplai darah ke jaringan yang infark sehingga oksigen, nutrisi dan obat bisa sampai serta memperpanjang window period, gejala klinis membaik. Tetapi simpulan yang ditonjolkan terlalu berlebihan (sebagai alternatif terapi stroke yang standar) sehingga mempertajam kontroversi.

c. Menegaskan bahwa temuan Dr TAP belum dapat dijadikan terapi alternatif untuk menggantikan terapi standar tapi hanya meningkatkan cerebral blood flow sehingga terapi lain dapat dilakukan secara terencana.

d. Menegaskan bahwa Dr.TAP harus bertindak sesuai kompetensi dan kewenangannya untuk menghilangkan kontoversi.

prof irawan yusufProf Irawan Yusuf Foto: Ibnu detikHealth

Dikutip dari detikNews, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia (MKEK IDI) buka suara terkait disertasi metode cuci otak dr Terawan Agus Putranto di Universitas Hasanuddin (Unhas). MKEK menduga ada tekanan ke para pembimbing Terawan saat menjalani disertasi itu.

Anggota MKEK IDI Rianto Setiabudy menilai disertasi Terawan memiliki sejumlah kelemahan secara subtansial. Pertama penggunaan heparin yang disebut bisa merontokkan gumpalan darah. Rianto berbicara sebaliknya.

"Pertama menggunakan heparin, jadi kira-kira begini, disertasi itu suatu metode radiologi menggunakan kateter dari suatu pembuluh darah di paha sampai ke otak, di sana dilepaskan kontras. Kontras itu akan menunjukkan di mana letak mampetnya itu, supaya ujung kateter itu kebuka diberikan dosis kecil heparin untuk mencegah bekuan darah di ujung kateter," kata Rianto dalam rapat bersama Komisi IX DPR, Senin (4/4/2022).

"Jadi dosis kecil ini tidak bisa diharapkan untuk merontokkan gumpalan dari, jadi hanya sekadar mencegah mampetnya gumpalan darah. Jadi ketika itu digunakan maka timbul masalah besar sekali. Yang menggunakan ini orang-orang stroke yang sudah lebih dari sebulan. Jadi bekuan darah itu mengeras di situ dan tidak mungkin kita cari di literatur manapun yang menunjukkan heparin efektif merontokkan gumpalan darah itu," lanjut Rianto.

Rianto kemudian menyebut kalau disertasi Terawan tidak punya pembanding. Menurutnya, penelitian akan dinilai cacat tanpa pembanding.

"Yang melakukan uji klinik ini adalah kelompok yang tidak punya pembanding, tidak punya kontrol, uji klinik yang benar akan mengatakan kita sulit sekali menerima kesahihan penelitian tanpa pembanding, ini penelitian yang cacat besar," ujarnya.

Kelemahan lain yakni tolak ukur yang dipakai dalam disertasi. Rianto mengatakan dalam penelitian yang dijadikan tolak ukur seharusnya manfaat pasien.

"Ketiga adalah beliau menggunakan tolak ukur keberhasilan menggunakan parameter pengganti, pelebaran pembuluh darah atau masa potensial. Seharusnya uji klinik yang baik tolak ukurnya tidak boleh itu, tapi perbaikan yang betul-betul dirasakan manfaat oleh pasien, misalnya tadinya nggak bisa urus diri sekarang bisa urus diri, tadinya nggak bisa jalan sekarang bisa jalan, itu tolak ukur yang benar," ucapnya.

Rianto juga mengatakan sampel yang diambil dalam disertasi Terawan tidak jelas. Kelemahan terakhir, menurutnya, yakni terkait prosedur.

"Keempat dasar penentuan sampel 75 orang itu tidak jelas, dan kelima dia menggunakan sesuatu prosedur diagnostik yang digunakan untuk prosedur terapiotik," ucapnya.

Menurutnya Rianto, para pembimbing disertasi itu mengetahui sejumlah kelemahan tersebut sejak awal. Namun para pembimbing diam.

Rianto lantas menduga adanya tekanan ke para pembimbing tersebut. Meski dia tidak mengetahui bentuk tekanannya.

"Kita mungkin akan bertanya kenapa para ilmuwan yang menjadi pembimbing, itu pada waktu melakukan disertasi diam saja, kan tadi ada seperti itu ya," ujarnya.

"Saya dengan hal ini mengatakan hormat saya setinggi-tingginya pada Unhas, dan juga hormat saya kepada tim pembimbing mereka karena mereka tahu sejak awal weakness ini mereka tahu. Cuma mereka terpaksa mengiyakannya karena konon ada tekanan eksternal yang saya tidak tahu bentuknya apa," lanjutnya.



Simak Video "MKEK IDI Duga Unhas Ditekan Agar Luluskan Metode Cuci Otak Terawan"
[Gambas:Video 20detik]
(tau/nvl)