Cerita Pohon Beringin Keramat-Tutup Jalur Toraja Dievakuasi Usai Ritual Adat

Cerita Pohon Beringin Keramat-Tutup Jalur Toraja Dievakuasi Usai Ritual Adat

Tim detikSulsel - detikSulsel
Sabtu, 02 Apr 2022 07:15 WIB
Pohon tumbang di Tana Toraja, Sulsel dibiarkan menutup jalan karena menunggu pemangku adat melakukan ritual sebelum dibersihkan.
Foto: (dok. istimewa)
Tana Toraja -

Sebatang pohon beringin berusia 450 tahun tumbang dan menutupi jalan raya di Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel). Pohon ini dikeramatkan warga sehingga tak ada yang berani mengevakuasi pohon tersebut dari badan jalan.

Pohon beringin yang dikeramatkan warga itu berada di jalan di Kelurahan Tarangko, Tana Toraja. Pohon yang tumbang pada Senin 29/3) dan baru dievakuasi dari badan jalan pada Jumat (1/4).

Selama berhari-hari menutupi badan jalan hingga melumpuhkan arus lalu lintas, warga setempat tetap berani mengevakuasi batang pohon itu dari badan jalan. Akibatnya, arus lalu lintas di lokasi terpaksa dialihkan.


Warga di Kelurahan Tarangko kabarnya ingin menjalankan ritual terlebih dahulu sebelum pohon keramat itu dipindahkan dari badan jalan. Sementara itu, ritual adat hanya boleh dipimpin seseorang yang bernama Nek Sando.

Akibatnya, pihak BPBD Tana Toraja yang turun tangan juga tak berani mengevakuasi pohon keramat tersebut. Pihak BPBD mengikuti kemauan warga agar pohon itu hanya bisa dievakuasi setelah dilakukan ritual adat.

"Kita ikuti saja dulu kemauan masyarakat, supaya tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan," kata Kepala BPBD Tana Toraja Alfian Andilolo kepada detikSulsel, Kamis (31/3).

Pohon Tumbang Akhirnya Dievakuasi Setelah 5 Hari

Setelah memasuki hari kelima, Nek Sando akhirnya bersedia memimpin ritual adat ma'bua. Ritual adat dilakukan tepat pada Jumat (1/4).

"Pohon ini sangat sakral karena dari dulu dijadikan tempat ritual ma'bua," ucap Tato Bena' selaku pemimpin upacara ritual adat kepada Wartawan, Jumat (1/4).

Konon kata Tato Bena, pohon beringin besar itu dulu digunakan sebagai tempat pemujaan Aluk Todolo. Aluk Todolo ialah kepercayaan bersifat politeisme suku asli Toraja di area Kelurahan Tarongko, Kecamatan Makale, Tana Toraja.

Diketahui, proses ritual adat itu dipimpin langsung oleh tokoh adat Aluk Todolo, Tomina Nek Sando Tato Deda. Ritual ma'bua atau upacara syukuran tertinggi Aluk Todolo akhirnya dilaksanakan di lokasi.

"Makanya hari ini kita adakan ritual dengan meminta kepada dewa untuk pohon ini dievakuasi karena menutup badan jalan raya," lanjut Tato Bena'.

Ritual adat untuk mengevakuasi pohon keramat di Tana Toraja.Foto: Ritual adat untuk mengevakuasi pohon keramat di Tana Toraja. (Arzad/detikSulsel)

10 Ekor Ayam Dikorbankan

Lurah Tarongko Daniel Linggi' Allo turut buka suara terkait ritual ma'bua. Dia mengatakan dalam prosesi ritual itu dikorbankan kurang lebih 10 ekor ayam berkaki hitam.

Selanjutnya, adapula beras ketan yang dimasak menggunakan bambu di lokasi pohon tumbang. Ayam yang dimasak juga harus memiliki ciri tertentu.

"Ayam yang dikorbankan tadi itu jenis ayam rame, yang berkaki putih dan hitam. Dimana ayam yang berwarna kaki putih dipersembahkan untuk yang mahakuasa. Sementara yang berkaki hitam untuk para leluhur Toraja," ujar Daniel Linggi' Allo.

Proses evakuasi pohon keramat di Tana Toraja.Foto: Proses evakuasi pohon keramat di Tana Toraja. (Arzad/detikSulsel)

Setelah ritual adat itu tuntas, pihak BPBD dibantu warga sekitar baru memindahkan pohon beringin yang dikeramatkan.

"Sehingga petugas BPBD Tana Toraja melakukan evakuasi pohon keramat tersebut, untuk membuka akses jalan poros bagi pengendara roda dua dan empat," ujar Daniel.

Kini, pohon yang dikeramatkan warga itu sudah dilengserkan dari badan jalan. Kini, jalanan yang lima hari tertutup oleh pohon tumbang akhirnya bisa dilalui kendaraan lagi.



Simak Video "Belasan Nakes di Tana Toraja Lulus PPPK, Tiba-tiba Dianulir"
[Gambas:Video 20detik]
(hmw/nvl)