Inflasi di Nusa Tenggara Barat mencapai 0,57% Agustus 2026, dipicu oleh kenaikan harga daging ayam dan cabai rawit. Kota Mataram mencatat inflasi tertinggi.
Tanggapan publik terhadap data desil menyoroti pentingnya verifikasi. Data DTSEN membantu pemerintah merumuskan kebijakan bansos yang lebih tepat sasaran.