Senyawa PFAS yang dijuluki "kimia abadi" ditemukan di produk pangan 16 negara Eropa. Itu memicu risiko kesehatan terhadap kesehatan janin dan kekebalan tubuh.
"Jadi, kalau The Economist memandang kebijakan fiskal kita berantakan, mereka suruh lihat deh negara-negara di Eropa berapa defisitnya," tegas Purbaya.