Nasib tahanan politik itu tidak membaik usai memicu prahara diplomasi lewat aksi mogok makan selama KTT Iklim. Kini, keluarga meminta bantuan Uni Eropa dan PBB.
Seorang profesor hukum di Arab Saudi terancam hukuman mati karena memiliki akun Twitter dan menggunakan WhatsApp untuk membagikan berita yang 'bermusuhan'.