Indonesia berpotensi terkena tarif tinggi dari Amerika Serikat (AS). Hal ini disebabkan karena Indonesia berkontribusi memberi defisit perdagangan untuk AS.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan tarif tinggi AS untuk produk Indonesia bisa capai 47%. Indonesia berupaya negosiasi untuk penurunan tarif.