Wawancara Eksklusif

Lau Yee-Wa Gagal Jadi Guru, Sukses Jadi Novelis Peraih Penghargaan

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Penulis Hong Kong Lau Yee-Wa
(Foto: Dok.Anisa Hafifah/ Detikcom) Penulis Hong Kong Lau Yee-Wa
Jakarta -

Sejak kecil, Lau Yee-Wa bercita-cita ingin jadi seorang guru. Setelah lulus Sekolah Menengah, ia mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Tionghoa. Namun kenyataan berkata lain, ia gagal jadi guru dan sempat bekerja sebagai editor di sebuah perusahaan penerbitan.

Novel perdananya 'Kelu' atau dalam bahasa Inggris berjudul 'Tongueless' berhasil membawanya jadi pemenang peraih penghargaan Chommanard International Women's Literary Award. Penghargaan yang berbasis di Thailand ini kasih penghargaan yang ditujukan untuk mengapresiasi karya fiksi penulis perempuan di ASEAN.

Lau Yee-Wa tak menyangka kemenangan itu seperti sebuah anugerah Tuhan. "Luar biasa mengejutkan," ungkapnya saat diwawancarai redaksi detikpop di kantor penerbit KPG, Jumat (23/10/2026).

Sebelum menang penghargaan tahun lalu, bukunya cuma laku 10 sampai 20 eksemplar dalam setahun. Padahal, ia cerita penerbitnya sudah mencetak sebanyak 800 eksemplar.

"Saya sempat putus asa dan ingin berhenti menulis. Namun setelah memenangkan penghargaan tersebut, buku ini tiba-tiba menjadi bestseller," ungkapnya.

Di ajang Chommanard International Women's Literary Award, Lau Yee-Wa punya penulis idolanya salah satunya Yang Shuang-zi dari Taiwan yang juga memenangkan penghargaan bergengsi di Amerika.

Penulis Hong Kong Lau Yee-WaPenulis Hong Kong Lau Yee-Wa Foto: Dok.Lau Yee-Wa/ Instagram

"Ini novel debut saya, sementara nominasi lainnya penulis-penulis senior yang sudah memenangkan banyak penghargaan," kata Lau Yee-Wa.

Menurut cerita Lau Yee-Wa yang baru datang ke Jakarta untuk pertama kalinya, cita-cita menjadi guru namun batal membuatnya sempat mengalami krisis percaya diri saat mencari kerja.

"Hal itu dialami oleh hampir seluruh masyarakat Hong Kong, kita kesulitan dengan bahasa Inggris, tetapi berpura-pura memiliki aksen Inggris atau Amerika agar menyerupai sang penjajah kolonial masa lalu. Kita jarang memikirkan, sebenarnya siapa orang Hong Kong itu? Cerita ini lahir dari keresahan pribadi saya yang ternyata menjadi persoalan kolektif di Hong Kong," ungkapnya.

Sebelum menulis novel, ia menulis puisi dan bekerja sebagai editor penerbitan. Cerpennya tahun 2016 yang berjudul 'The Shark' memenangkan Penghargaan Juara Hong Kong untuk Penulisan Kreatif.

Pada 2009, novel ini awalnya terbit dalam bahasa Mandarin kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Jennifer Feeley (The Feminist Press/ Serpent's Tail).

Nantikan artikel berikutnya ya, detikers!

Halaman 2 dari 2
(tia/aay)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO