Wawancara Eksklusif

Novel 'Kelu' Karya Lau Yee-Wa Resmi Sapa Pembaca Indonesia

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Penulis Hong Kong Lau Yee-Wa
Foto: Dok.Lau Yee-Wa/ Instagram
Jakarta -

Sempat gak laku namun malah jadi novel peraih penghargaan, karya perdana Lau Yee-Wa kini resmi menyapa pembaca Indonesia. Novel 'Kelu' yang diterjemahkan Naomi Midori oleh penerbit KPG diluncurkan di Gramedia Jalma, Blok M, Jakarta Selatan, pada Sabtu (24/10/2026) sore.

Novelis asal Hong Kong ngaku beruntung bisa berjumpa dengan penerbit KPG lewat agen sastra yang menaunginya.

"Kami menandatangani kontrak, sebuah kehormatan besar bagi saya bukunya diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia," kata Lau Yee-Wa saat diwawancara redaksi detikpop di kantor penerbit, pada Jumat (23/10/2026).

Saat novelnya terbit pertama kalinya di Hong Kong pada tahun 2019, dialognya memakai bahasa Kanton. Bahkan ada bahasa Kanton patah-patah untuk karakter pendatang dari China Daratan, ada bahasa Mandarin, dan juga bahasa Inggris.

"Waktu itu seorang reporter sempat bilang buku ini mustahil diterjemahkan. Ternyata buku ini berhasil diterjemahkan ke bahasa Inggris, Thailand, dan sekarang bahasa Indonesia," katanya.

Tak hanya itu saja, Lau Yee-Wa juga terkejut karena karyanya melampaui ekspektasi dan 'jalan-jalan' sampai keluar dari tempat asalnya.

"Ternyata tema yang saya kira sangat lokal Hong Kong ini memiliki isu universal yang dirasakan pembaca di negara lain, seperti relasi kuasa institusi, intrik politik di tempat kerja, dan tekanan dunia kerja," sambung Lau Yee-Wa.

Kritik Sosial, Politik, dan Pendidikan Hong Kong

Sebagai seorang warga Hong Kong yang lahir dan besar di kawasan tersebut, Lau Yee-Wa mengalami sejarah dari koloni Inggris sampai kedaulatan dikembalikan ke China pada tahun 1997. Ia juga merasakan bahasa ibunya, Kanton yang jadi bahasa sehari-sehari, seakan kehilangan identitas.

Warga Hong Kong dan tekanan saat mencari kerja, buat Lau Yee-Wa terpaksa belajar bahasa Mandarin dan Inggris. Menurutnya, ia merasa pesimis terhadap masa depan Hong Kong dan masyarakatnya.

"Terkadang saya kecewa melihat orang-orang yang terlalu mudah berkompromi dan beradaptasi tanpa peduli siapa diri mereka, sejarah, dan budayanya," katanya.

Penulis Hong Kong Lau Yee-WaPenulis Hong Kong Lau Yee-Wa (kiri) Foto: Dok.Lau Yee-Wa/ Instagram

Sebagai penulis, Lau Yee-Wa ingin melestarikan budaya tersebut. Tapi di Hong Kong, profesi penulis sangat diremehkan oleh keluarga maupun lingkungan karena penghasilannya kecil. Ditambah lagi, tekanan politik dari Tiongkok terhadap Hong Kong semakin kuat pascapenyerahan kedaulatan pada tahun 1997.

"Saya bertanya-tanya, apa yang terjadi jika masyarakat terus bersikap pasrah dan tidak peduli pada identitasnya? Keresahan itulah yang membuat nuansa ceritanya menjadi sangat gelap," tegasnya.

Situasi mencekam inilah yang diangkat Lau Yee-Wa dalam novel 'Kelu' (Tongueless). Buku fiksi yang memadukan kisah horor psikologis dengan sentuhan kritik sosial di dalamnya.

Berlatar dunia pendidikan di Hong Kong, kisah dalam novel ini menyoroti tekanan di lingkungan kerja yang kemudian berkembang menjadi teror yang mengusik kehidupan para tokohnya.

Halaman 2 dari 2
(tia/aay)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO